Minggu, 13 Januari 2019

PROBLEMA MORFOLOGIS DALAM BAHASA INDONESIA

Alifiyah Mila Rizka (176020)


Pemakaian kata dalam bahasa Indonesia juga menimbulkan berbagai macam problema. Terdapat tujuh pengelompokan problema, sebagai berikut:
1. Problema Akibat Bentukan Baru
Pada kalimat “keberhasilan yang kamu capai selama ini harus kamu pertahankan” terdapat kata keberhasilan yang kata tersebut merupakan bentukan baru. Terdapat kontruksi berupa prefiks + prefiks + bentuk dasar + sufiks. Hal yang demikian tidak ditemukan sebelumnya. Pembentuka kata keberhasilan tidak dilakukan secara serentak, namun dengan bertahap. Pertama, kontruksi dibentuk dari gabungan {ber-} dan henti. Kemudian , kontruksi berhenti dibentuk dengan menambahkan {men-} dan {-kan} sehingga menjadi kata memberhentikan. {men-} dan {-kan} berperan sebagai simulfiks.

2. Problema Akibat Kontaminasi
Kontaminasi merupakan gejala bahasa yang mengacaukan kontruksi kebahasaan. Dua kontruksi yang mestinya berdiri sendiri secara terpisah kini dipadukan dan berakibat menjadi kacau. Misalnya kontruksi “diperlebarkan” yang mestinya berdiri sendiri “diperlebar” atau”dilebarkan”. Oleh kerena itu, kontruksi “diperlebarkan” dianggap kontruksi yang rancu.

3. Problema Akibat Unsur Serapan
Adanya unsur bahasa asing yang terserap ke dalam bahasa Indonesia juga membuat problema tersendiri. Misalnya pada bentuk kata data-data, datum-datum, fakta-fakta, faktum-faktum yang berasal dari bahasa latin yang berarti jamak dan tunggal. Ternyata yang berhasil diserap ke dalam bahasa Indonesia hanya bentuk jamaknya saja, yaitu data dan fakta. Oleh karena itu, bentuk data, fakta, dianggap sebagai bentuk tunggal. Kata data-data dan fakta-fakta dianggap benar, sedangkan datum-datum dan faktum-faktum dianggap salah.

4. Probema Akibat Analogi
Analogi merupakan bentukan bahasa dengan menurut contoh yang sudah ada. Sebagai contoh pada bentuk ketidakadilan, kita dapat membentuk kontruksi ketidakberesan, ketidakbaikan, dan seterusnya. Kata serapan juga ada yang dianalogikan secara salah. Misalnya pada kata alternative dijadikan alternasi sebagai akibat analogi yang salah terhadap bentuk produktif dan produksi, kompetitif dan kompetisi, edukatif dan edukasi. Bentuk yang berakhiran dengan if biasanya berkelas kata sifat, sedangkan yang berakhiran si biasanya berkelas kata benda.

5. Problema Akibat Perlakuan Kluster
Kluster atau konsonan rangkap mengundang problema tersendiri dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan bahwa kata bahasa Indonesia asli tidak mengenal kluster. Kata yang berkluster berasal dari unsur serapan. Apabila dibentuk dengan afiks yang bernasal misalnya {meN-(kan/i)} dan {peN-(an)} akan menimbulkan problema. Sebagai contoh:
I Memprogramkan
Mentraktir
Mentransfer
II Memrogramkan
Menraktir
Menransfer
Apabila menurut system bahasa Indonesia, kita cenderung memilih deretan ke II. Tetapi terdapat beberapa kelemahannya, antara lain:

  • Bentuk serapan di atas berbeda sifatnya dengan bentuk dasar bahasa Indonesia asli, yaitu konsonan rangkap dan tidak (walaupun keduanya berawal dengan k, p, t, dan s)
  • Apabila diluluhkan, kemungkinan besar akan menyulitkan penelusuran kembali bentuk aslinya.
  • Ada beberapa bentuk yang dapat menimbulkan kesalahpahaman arti


6. Problema Akibat Proses Morfologis Unsur Serapan
Masalah ini ada kesamaan dengan masalah sebelumnya, yaitu berkenaan dengan perlakuan unsure asing. Hanya saja yang menjadi tekanan di sini adalah proses morfologisnya. Misalnya menterjemahkan dan menerjemahkan.
Pada dasarnya bentuk serapan dapat dikelompokkan menjadi dua:

  • Bentuk serapan yang sudah lama menjadi keluarga bahasa Indonesia sehingga sudah tidak terasa lagi keasingannya
  • Bentuk serapan yang masih baru sehingga masih terasa keasingannya

Bentuk serapan kelompok pertama dapat diperlakukan secara penuh mengikuti system bahasa Indonesia, sedangkan kelompok dua tidak. Dapat diketahui bentuk kata terjemah merupakan kelompok pertama sehingga apabila bentuk terjemah digabungkan dengan {meN-kan} akan menjadi menerjemahkan karena fon [t] yang mengawali bentuk dasar akan luluh.

7. Problema Akibat Perlakuan Bentuk Majemuk
Problema ini terlihat pada persaingan pemakaian bentuk pertanggungjawaban dan pertanggungan jawab. Pendapat pertama menganggap unsure-unsur bentuk tanggung jawab padu sehingga tidak mungkin disisipi bentuk lain diantaranya. Sedangkan pendapat kedua menganggap unsure-unsur bentuk tanggung jawab renggang sehingga memungkinkan disisipi bentuk lain di antaranya.


Referensi:
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar