A. Arti Morfem Imbuhan
Muslich (2008: 66) menyatakan sebenarnya pembicaraan masalah arti morfem imbuhan ini tidak dapat dipisahkan dengan fungsi morfem itu sendiri. Yang dimaksud dengan arti pada pembicaraan ini bukanlah arti suatu kata yang terdapat dalam kamus, arti leksikal tetapi arti sebagai akibat bergabungnya morfem satu dengan lainnya, arti structural atau arti gramatikal.
Menurut Muslich (2008: 66-69) menyatakan morfem-morfem imbuhan yang terdapat dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :
1. Morfem imbuhan {meN-}
a. Melakukan tindakan seperti yang disebut pada bentuk dasar.
Misalnya:
- Mengambil : “melakukan tindakan ambil”
- Menjual : “melakukan tindakan jual”
b. Menjadi seperi tersebut dalam bentuk dasar ‘atau’ dalam keadaan seperti bentuk dasar.
Misalnya:
- Melarut : “menjadi / dalam keadaan larut”
- Menurun : “menjadi / dalam keadaan turun”
c. Membuat kesan seperti pada bentuk dasar dengan sengaja.
Misalnya:
- Mengalah : “membuat kesan kalah dengan sengaja”
- Membisu : “membuat kesan bisu dengan sengaja” (Muslich, 2008: 67)
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, imbuhan {meN-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. Pergi ke … atau menuju ke…
Misalnya:
- Mendarat : “menuju ke darat”
b. ‘mencari’ atau ‘mengumpulkan’
Misalnya:
- Mencari : “mencari mengumpulkan rumput”
c. ‘Menjadi sebagaimana yang disebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Membuah : “menjadi buah”
d. ‘membubuhkan apa yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Mencap : “membubuhkan cap”
e. ‘membuat apa yang tersebut padabentuk dasar’
Misalnya:
- Menyate : “membuat sate”
f. ‘berlaku seperti yang disebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Merajalela : “berlaku seperti rajalela”
g. ‘melakukan tindakan dengan alat seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Menyabit : “menggunakan sabit”
h. ‘meminum atau menghisap seperti yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Mengopi : “meminum kopi”
i. ‘menyerupai seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Membukit : “menyerupai bukit”
j. ‘dalam keadaan berfungsi sebagai bentuk dasar’
Misalnya:
- Menjanda : “dalam keadaan berfungsi sebagai janda”
k. ‘Mengeluarkan bunyi seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Mengeong : “mengeluarkan bunyi ngeong”
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, imbuhan {meN-} mempunyai arti seperti berikut ini:
a. ‘menjadi seperti bentuk dasar dengan sendirinya’
Misalnya:
- Menguning (padi) : “menjadi kuning dengan sendirinya”
b. ‘menimbulkan kesan seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Memanjang : “menimbulkan kesan panjang” (Muslich, 2008: 68-69)
2. Morfem imbuhan {ber-}
Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan imbuhan {ber-} dapat dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu berkelas kata kerja, benda, sifat (adjektiva)ndan bilangan (numeralia).
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja, maka imbuhan {ber-} mempunyai arti sebagai berikut:
a. ‘dalam keadaan seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Berada : “dalam keadaan ada”
b. ‘menjadi seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Berubah : “menjadi ubah”
c. ‘melakukan menjadi bentuk dasar’
Misalnya:
- Bekerja : “melakukan kegiatan kerja”
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda imbuhan {ber-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. ‘Memakai atau mengenakan’
Misalnya:
- Bersepatu : “memakai atau mengenakan sepatu”
b. ‘Mempunyai apa yang tersebut pada bentuk dasarnya’
Misalnya:
- Bersuami : “mempunyai suami”
c. ‘Mengeluarkan’
Misalnya:
- Berdarah : “mengeluarkan darah”
d. ‘Mengerjakan atau menggarap’
Misalnya:
- Bersawah : “mengerjakan atau menggarap sawah”
e. ‘Mengendarai atau mempergunakan’
Misalnya:
- Berkuda : “mengendarahi kuda”
f. ‘Bermain seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Bertinju : “bermain tinju” (Muslich, 2008: 69-70)
3. Morfem imbuhan {di-}
Artinya imbuhan {di-} hanya satu yaitu, ‘menyatakan suatu tindakan yanag pasif.
Misalnya:
- Diambil
- Diangkat. (Muslich, 2008: 70)
4. Morfem imbuhan {ter-}
Artinya bentuk dasar yang dapat bergandeng dengan imbuhan ter- adalah bentuk dasar yang berkelas kata kerja, kata sifat, dan kata benda.
Bila berawalan {ter-} melekat pada sebuah kelas kata benda maka yang timbul adalah sebagai berikut:
a. ‘tak sengaja di (seperti bentuk dasar)’
Misalnya:
- Tercangkul : “tak sengaja dicangkul”
b. ‘Dapat di (seperti bentuk dasar) + kan/i
Misalnya:
- Tergambar : “dapat digambarkan”
Bila bentuk dasarnya berkelas kata kerja maka imbuhan {ter-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. ‘menyatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan tidak disengaja
Misalnya:
- Tersentuh : “tangannya tersentuh orang asing”
b. ‘Dapat atau sanggup’
Misalnya:
- Terangkat : “meskipun berat, batu itu terangkat juga”
c. ‘Menyatakan bahwa pekerjaan sudah selesi (perfektif)’
Misalnya:
- Tertulis : “pendapat dia tertulis dirumusan hasil seminar”
d. ‘Ketiba-tibaan’
Misalnya:
- Terbangun : “ia terbangun karena suara yang menggelegar”
5. Morfem imbuhan {peN}
Arti imbuhan morfem {peN-} sangat ditentukan oleh kelas kata bentuk dasarnya.
Apabila bentuk katanya berkelas kata kerja maka {peN-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. ‘orang yang (biasa) melakuakan pekerjaan yang disebut pada bentuk dasar
Misalnya:
- Pengarang : ‘orang yang (biasa) melakukan mengarang’.
b. ‘alat yang dipakai untuk melakaukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Penggaris : ‘alat untuk menggaris’
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat maka imbuhan {peN-} mempunyai arti sebagai berikut:
a. ‘yang memiliki sifat yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Periang : “yang mempunyai sifat riang”
b. ‘yang menyebabkan adanya sifat yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Pengeras : “yang menyebabkan jadi keras”
c. ‘orang yang mudah atau cepat menjadi seperti tersebut dalam bentuk dasar’
Misalnya:
- Pemarah : “orang yang mudah menjadi marah”
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, maka imbuhan {peN-} mempunyai arti ‘yang biasa melakuakan tindakan / pekerjaan yang berhubungan denagn benda yang tersebut pada bentuk dasarnya’. Misalnya:
- Pelaut : “orang yang biasa melaut”
- Perokok : “orang yang biasa merokok” (Muslich, 2008: 72)
6. Morfem imbuhan {pe-}
Pada penggalan terdahulu telah dijelaskan bahwa morfem imbuhan {pe-} mempunyai kesejajaran dengan morfem imbuhan {ber-}, sedangkan morfem imbuhan {peN-} mempunyai kesejajaran dengan morfem imbuhan {meN-}. Pernyataan itu dapat dibuktikan dengan deretan contoh berikut
Misalnya:
- Pelari : “orang yang berlari”
- Petani : “orang yang bertani”
Bandingkan dengan:
- Penulis : “orang yang menulis” (Muslich, 2008: 73-74)
7. Morfem imbuhan {per-}
Morfem imbuhan {per-} dapat bergabung dengan bentuk dasar yang berkelas kata benda, bilangan, dan sifat. Apabila bergandengan dengan bentuk dasar kata benda, {per-} mempunyai arti ‘menjadikan (objek) sebagai’ atau ‘memperlakukan (objek) sebagai’; sedangkan apabila bergandengan dengan bentuk kata bilangan, imbuhan {per-) mempunyai arti ‘membuat jadi’; dan apabila bergandengan dengan bentuk dasar yang berkelas kata sifat, {per-}mempunyai arti ‘membuat jadi lebih’.
Misalnya:
- Peristri : “menjadikan (objek) sebagai istri”
- Perbudak : “memperlakukan (objek) sebagai budak”
- Pertiga : “membuat jadi tiga”
- Perdalam : “membuat jadi lebih dalam” (Masnur, 2008: 74-75)
8. Morfem imbuhan {se-}
Morfem imbuhan {se-} bisa bergandengan dengan bentuk dasar yang berkelas kata benda.
Misalnya:
- Sekelas
- Sejalan
Imbuhan {se-} yang melekat pada bentuk dasar kata benda mempunyai arti sebagai berikut:
a. Menyatakan “satu”
Misalnya:
- Sebuah : “satu buah”
- Seminggu : “satu minggu”
b. Menyatakan “seluruh”
Misalnya:
- Sedunia : “seluruh dunia”
- Seisi : “seluruh isi”
c. Menyatakan “sama” atau “sebesar…”
Misalnya:
- Sekepala : “sama dengan kepala” atau “sebesar kepala”
- Sekucing : “sama dengan kucing” atau “sebesar kucing”
Morfem {se-} bisa bergabung dengan penggolong benda.
Misalnya:
- Seorang
- Seekor
Morfem {se-} bias melekat dengan kata sifat.
Misalnya:
- Sebaik
- Secantik. (Muslich, 2008: 75-76)
9. Morfem imbuhan {ke-}
Morfem imbuhan {ke-} melekat pada bentuk dasar yang berkelas kata bilangan. Ada juga yang melekat pada bentuk dasar selain kata bilangan.
Apabila imbuhan {ke-} bergandengan dengan bentuk dasar berkelas kata bilangan, maka imbuhan itu mempunyai arti sebagai berikut:
a. ‘menyatakan kumpulan yang terdiri atas jumlah yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Kelima (anak itu anak saya) ‘kumpulan anak yang yang terdiri atas lima orang’.
b. ‘menyataka urutan seperti apa yang tersebut pada bentuk dasarnya’
Misalnya:
- (anak) kelima ‘urutan amak yang nomor lima’ (Muslich, 2008:76)
10. Morfem imbuhan {kan-}
Morfem {kan-} bisa melekat ada kata benda, tentu bisa dengan kata kerja, morfem imbuhan {kan-}bisa melekat pada kata sifat.
Arti morfem afiks {kan-} bisa dideskripsikan seperti ini:
a. ‘membuat (objek) seperti bentuk dasar’ atau ‘kausatif’
Misalnya:
- Meninggikan : “membuat (objek) menjadi tinggi’
b. ‘melakukan sesuatu untuk orang lain’ atau me…(objek) untuk orang lain’ atau ‘benefaktif’
Misalnya:
- Membacakan : “membaca untuk orang lain”
c. ‘melakukan sesuatu secara intensif’
Misalnya:
- Mendengarkan : “mendengarkan dengan intensif”
d. ‘melakukan seperti bentuk dasar bentuk dasar pada/tentang sesuatu’ atau ‘transitif’
Misalnya:
- Mengadukan : “mengadu (pada seseorang) tentang sesuatu” (Muslich, 2008: 77)
11. Morfem imbuhan {-i}
Morfem {-i} biasanya bergandeng dengan bentuk dasar kompleks yang berkelas kata kerja dan biasannya mempunyai dua kemungkinan arti sebagai berikut:
a. Menyatakan bahwa ‘tindakan’ yang tersebut pada bentuk dasar itu dilakukan berulang-ulang
Misalnya:
- Melempari : “melempar berulang-ulang”
b. Menyatakan ‘melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasarnya di suatu tempat
Misalnya:
- Menulisi : “menulis di…”
c. Melakukan sesuatu atau terjadi sesuatu pada…
Misalnya:
- Mengenai : “mengena pada” (Muslich, 2008: 78)
12. Morfem imbuhan {-an}
Morfem imbuhan {-an} dapat bergabung dengan bentuk dasar kata benda, kata kerja, kata sifat dan kata bilangan.
Apabila bergandeng dengan bentuk dasar kata benda, morfem imbuhan {-an} mempunyai kemungkinan arti, yakni:
a. Menyatakan “tiap-tiap”
Misalnya:
- Meteran “tiap-tiap meter”
b. ‘kumpulan’ atau ‘yang banyak…nya’ atau ‘luas…nya’
Misalnya:
- Durian : “banyak duriannya”
c. ‘yang ada di…’
Misalnya:
- Bawahan : “yang ada di bawah”
Apabila bergandeng dengan bentuk dasar yang berkelas kata kerja, morfem imbuhan {-an} mempunyai kemungkinan arti, misalnya:
a. Menyatakan ‘hasil’ atau akibat dari tindakan yang tersebut pada bentuk dasar
Misalnya:
- Pikiran : “hasil memikir”
b. Menyatakan ‘alat yang diapaki dalam tindakan yang tersebut pada bentuk dasarnya’
Misalnya:
- Saringan : “alat menyaring”
c. Menyatakan ‘tempat suatu tindakan yang tersebut pada bentuk dasrnya’
Misalnya:
- Kuburan : “tempat mengubur”
d. Yang di… seperti bentuk dasar
Misalnya:
- Makanan : “yang dimakan”
Makna morfem {-an}, Apabila bergabung dengan kata sifat, adalah ‘yang seperti bentuk dasar’
Misalnya :
- Kotoran : “yang kotor”
- Dataran : “yang datar” (Muslich, 2008: 79)
13. Morfem imbuhan {-wan}
Morfem imbuhan {-wan} dapat melekat pada bentuk dasar berkelas kata benda.
Arti {-wan} untuk ini adalah sebagai berikut:
a. ‘orang yang ahli dalam bidang seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Ilmuwan : “orang yang ahli dalam bidang ilmu”
- Budayawan : “orang yang ahli dalam bidang budaya”
b. ‘orang yang pekerjaannya khusus dalam bidang seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Industriwan : “orang yang pekerjaannya khusus dalam bidang industri”
- Wartawan : “orang yang pekerjaannya khusus dalam bidang warta”
c. ’orang yang memiliki seperti bentuk dasar yang bersifat lebih
Misalnya:
- Rupawan : “orang yang memiliki rupa lebih”
- Hartawan : “orang yang memiliki harta lebih”
d. ‘orang yang secara khusus memahirkan diri dalam bidang seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Sastrawan : “orang yang memahirkan diri khusus di bidang sastra”
- Olahragawan : “orang yang memahirkan diri khusus di bidang olahraga” (Muslich, 2008: 80-81)
14. Morfem imbuhan {-el-, {-er}, {-em}
Bentuk telunjuk, misalnya, berarti ‘jari tangan yang biasa digunakan untuk menunjuk’. Seperti diketahui, bentuk itu merupakan hasil proses afiksasi –el- + tunjuk. Contoh lain kemuning, geligi, telapak, serabut, seruling. Bentuk dasar dari contoh-contoh tersebut adalah kuning, gigi, tapak, sabut, dan suling. (Muslich, 2008: 81)
15. Morfem imbuhan {ke-an}
Bentuk dasar yang dapat dilekati oleh morfem imbuhan {ke-an} pada umumnya berkelas kata kerja, benda, sifat, dan bilangan. Berturut-turut kemungkinan arti morfem imbuhan {ka-an} ialah sebagai berikut:
a. Menyatakan ‘suatu abstraksi atau hal dari bentuk dasar’
Misalnya:
- Kepergian : “hal pergi”
- Kemanusiaan : “hal manusia”
b. Menyatakan ‘menderita atau dikenai apa yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Kehujanan : “dikenai hujan”
- Ketakutan : “menderita takut”
c. Menyatakan ‘tempat’ atau ‘daerah’
Misalnya:
- Kelurahan : “tempat” daerah lurah”
- Kecamatan : “tempat” daerah camat”
d. ‘sifat seperti bentuk dasar”
Misalnya:
- Keindonesiaan : “sifat Indonesia”
- Kejawaan : “sifat jawa” (Muslich, 2008: 81-82)
16. Morfem imbuhan {peN-an}
Morfem {peN-an} bisa bergabung dengan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan. Arti morfem imbuhan {peN-an} dideskripsikan sebagai berikut:
a. ‘hal atau proses’
Misalnya:
- Pemeriksaan : “hal/proses memeriksa”
- Pembacaan : “hal/proses membaca”
b. ‘hal atau hasil’
Misalnya:
- Pengalaman : “hal/hasil mengalami”
- Penghasilan : “hal/hasil dari menghasilkan”
c. ‘tempat’
Misalnya:
- Penampungan : “tempat menampung”
- Pengadilan : “tempat mengadili” (Muslich, 2008: 82-83)
17. Morfem Imbuhan {per-an}
Setelah melekat pada bentuk dasarnya, morfem imbuhan {per-an} mempunyai tiga kemungkinan arti, yaitu:
a. Menyatakan ‘hal-hal yang berhubungan dengan apa yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:
- Perekonomian : “hal-hal yang berhubunga dengan ekonomi”
- Perindustrian : “hal-hal yang berhubungan dengan industri”
b. Menyatakan ‘hal atau hasil dari suatu tindakan yang tersebut pada bentuk dasar
Misalnya:
- Perkembangan : “hal berkembang” atau “hasil berkembang”
- Perhitungan : “hal berhitung” atau “hasil berhitung”
c. Menyatakan ‘kumpulan’ atau ‘daerah’
Misalnya:
- Pertokoan : “daerah toko”
- Perumahan : “kumpulan/daerah rumah”
d. ‘tempat’
Misalnya:
- Perguruan : “tempat berguru”
- Perlindungan : “tempat berlindung” (Muslich, 2008: 83-84)
18. Morfem imbuhan {ber-an}
Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan morfem imbuhan {ber-an} adalah bentuk dasar yang berkelas kata kerja saja, misalnya:
a. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya dilakukan oleh banyak orang’
Misalnya:
- bermunculan : “banyak yang muncul”
- berjatuhan : “banyak yang jatuh”
b. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya dilakukan secara berulang-ulang’
isalnya:
- berloncatan : “berloncat berulang-ulang”
- berlarian : “berlari berulang-ulang”
c. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya dilakukan oleh dua pihak yang saling mengenai’
Misalnya:
- berkiriman : “saling mengirim”
- berpandangan : “saling memandang” (Muslich, 2008: 84-85)
19. Morfem imbuhan {meN-kan}
Morfem {meN-kan} bisa bergabung dengan kata kerja, kata sifat, dan kata bilangan. Maknanya dapat dilihat sebagai berikut:
a. ‘menjadikan (objek) sebagai seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Mencerminkan : “menjadikan (objek) sebagai cermin”
- Membukukan : “menjadikan (objek) sebagai buku”
b. ‘membuat (objek) (melakukan tindakan) seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Menidurkan : “membuat (objek) (melakukan) tidur”
- Membangunkan : “membuat (objek) bangun”
c. ‘memberi (objek) sesuatu seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Mengizinkan : “memberi (objek) izin”
- Menjanjikan : “memberi (objek) janji”
d. ‘melakukan tindakan seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Membicarakan : “melakukan tindakan bicara”
- Mengerjakan : “melakukan tindakan kerja”
20. Morfem imbuhan {meN-i}
Sebagai konfiks, morfem {meN-i} dapat bergabung dengan kata benda, kata kerja, dan kata sifat. Arti morfem {meN-i} untuk bentuk-bentuk ini adalah sebagai berikut:
a. ‘menjadikan (objek) sebagai seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Memusuhi : “menjadikan (objek) sebagai musuh’’
- Menempati : “menjadikan (objek) sebagai tempat”
b. ‘memberi (objek) seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Menjuduli : “memberi (objek) judul”
- Melukai : “memberi (objek) luka”
c. ‘(melakukan) perbuatan seperti bentuk dasar di/pada/ke (objek)’
Misalnya:
- Menduduki : “melakukan duduk di (objek)
- Mendatangi : “datang di (objek)”
d. ‘membuat/menyebabkan (objek) seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Menghitami : “membuat/menyebabkan (objek) hitam”
- Mengotori : “membuat/menyebabkan (objek) kotor”
e. ‘jadi seperti bentuk dasar di/dalam (objek)’
Misalnya:
- Merajai : “jadi raja di dalam (objek)”
- Menokohi : “jadi tokoh di dalam (objek)”
f. ‘menganggap/memperlakukan (objek) sebagai seperti bentu dasar’
Misalnya:
- Membodohi : “menganggap (objek) bodoh”
- Membelakangi : “menganggap (objek) sebagai (ada di) belakang” (Muslich, 2008:87)
21. Morfem imbuhan {se-nya}
Konfiks {se-nya} mempunyai arti- tepatnya: tugas-seperti beikut ini:
a ‘pembentuk adverbial atau keterangan’
Misalnya:
- Sebaliknya
- Seandainya.
b. ‘pembentuk modalitas’
Misalnya:
- Sebenarnya
- Sekirannya
22. Morfem imbuhan {isme}, {(is)asi}, {-logi}
Makna {-isme} adalah ‘paham, aliran, sifat’: misalnya klobatisme, bapakisme. Morfem {-(is)asi} bisa bermakna proses atau ‘peN-bentuk dasar-an’, misalnya: helmisasi, lelenisasi. {-log} berarti studi tentang seperti bentuk dasar, misalnya: jawanologi ‘studi/pengkajian tentang jawa, balinologi ‘studi/pengkajian tentang Bali’. (Muslich, 2008:88-89)
B. Arti Morfem Ulang
Menurut Muslich (2008: 89) menyatakan morfem ulang bahasa Indonesia dapat membentuk kata dengan bentuk dasar yang berkelas kata kerja, benda, dan sifat. Di samping itu morfem ulang juga berkombinasi dengan morfem imbuhan dalam membentuk suatu kata.
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja maka morfem ulang mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan berulang-ulang’
Misalnya:
- Memukul-mukul “memukul berulang-ulang”
b. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan oleh dua pihak dan saling mengenai / berbalasan’
Misalnya:
- Bantu-membantu “saling membantu”
c. Menyatakan ‘hal-hal yang berhubungan dengan tindakan yang bersangkut paut dengan bentuk dasar’
Misalnya:
- Cetak-mencetak “hal-hal yang berhubungan dengan kegiata mencetak”
d. Menyatakan bahwa “tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan seenaknya /santai atau hanya untuk bersenang-senang’
Misalnya:
- Membaca-baca “membaca seenaknya untuk bersenang-senang”
e. Apabila berkombinasi dengan {ber-an} menyatakan bahwa tindakan itu dilakukan oleh kedua pihak dan saling mengenai
Misalnya:
- Berkirim-kiriman “saling mengirim”
f. Rasa kekhawatiran, rasa ketidaksetujuan, rasa menggerutu
Misalnya:
- Datang-datang dalam ‘datang-datang, langsung tidur menjadi “baru saja datang, kok langsung tidur”. (Muslich, 2008: 89-90)
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda maka morfem ulang mempunyai beberapa kemungkinan arti yaitu:
a. Menyatakan ‘banyak’
Misalnya:
- Kemajuan-kemajuan “banyak kemajuan”
b. Menyatakan ‘meskipun’
Misalnya:
- Beras-beras (dimakannya) “meskipun beras (dimakannya)
c. Apabila dikombinasi dengan –an menyatakan ‘sesuatu yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk dasar’.
Misalnya:
- Orang-orangan “menyerupai orang”
Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, maka kemungkinan arti morfem ulang sebagai berikut:
a. Menyatakan ‘lebih… lagi’
Misalnya:
- Cepat-cepat “lebih cepat lagi” berlarilah cepat-cepat!
b. Apabila berkombinasi dengan {ke-an} menyatakan ‘agak’
Misalnya:
- Kehijau-hijauan “agak hijau”
c. ‘meskipun seperti bentuk dasar’
Misalnya:
- Jelek-jelek (dia itu setia) “meskipun jelek”
d. Apabila dikombinasi dengan {se-nya} menyatakan ‘tingkat yang paling tinggi’ atau ‘superlatif’
Misalnya:
- Sekecil-kecilnya “tingkat yang paling kecil” (Muslich, 2008: 91).
C. Arti Morfem Konstruksi Majemuk
Muslich (2008: 91) menyatakan secara sederhana kata majemuk bisa diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok:
1. Kelompok pertama beranggotakan
Kambing hitam naik daun
Meja hijau tangan dingin
Lembaran hitam mulut besar
Apa boleh buat senjata makan tuan
Bertekuk lutut membanting tulang
Membabi buta putri malu
Hidung belang kumis kucing
Pitam babi matahari sayap kiri
2. Kelompok kedua beranggotakan
Rumah makan tamu wicara
Rumah sakit angkat besi
Kamar kecil naik haji
Mata air jumpa pers
Istri muda mabuk laut
Kamar tunggu habis akal
Dengar pendapat jual beli
Sepak bola pulang pergi
Tolak peuru putus asa
Pesawat tempur naik pangkat
3. Kelompok ke tiga beranggotakan kata-kata majemuk macam:
Tua renta hitam legam
Tua Bangka anak pinak
Muda belia mendadak sontak
Kering kerantong gelap gulita
Malam kelam tunggang lenggang
Naik pitam dendam kesumat. (Muslich, 2008: 92)
Referensi:
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar