Pada kajian morfologi, terdapat bentuk-bentuk seperti morfem, morf, alomorf, dan kata. Lalu apa perbedaan antara morfem, morf, alomorf, dan kata?
Apabila kita perhatikan kembali, antara bentuk linguistik penulis, pendengar, dan pembaca masih terlihat hubungan artinya, yaitu sebagai ‘pelaku’ atau ‘orang yang melakukan’. Bentuk itu sebenarnya terdiri atas satuan-satuan yang lebih kecil lagi, yaitu:
- pe- dan tulis
- pen- dan dengar
- pem- dan baca.
Keenam satuan terkecil tersebut, yang berbentuk mirip ialah pe, pen, dan pem. Bentuk inilah yang menunjukkan adanya hubungan arti antara penulis, pendengar, dan pembaca.
Sedangkan bentuk tulis, dengar, dan baca tidak dapat dibagi lagi menjadi unsur yang lebih kecil. Jika dibagi lagi maka unsurnya tidak memiliki arti. Misalnya, tulis jika dibagi maka menjadi tu dan lis. Tidak ada yang tahu apa itu tu, dan apa itu lis. Artinya bentuk tu dan lis bukan merupakan unsur terkecil. Bentuk-bentuk berulang yang paling kecil dan memiliki arti inilah yang dinamakan morfem (muslich,2008: 5).
Bentuk-bentuk yang mirip, seperti pe, pen, dan pem. Adanya bentuk tersebut disebabkan oleh bentuk dasar yang mengikutinya. Variasi bentuk itu sebenarnya merupakan realisasi dari morfem tertentu, yaitu {peN-}, realisasi yang demikian itu biasa disebut morf, sedangkan jika morf itu merupkan variasi bentuk suatu morfem maka dikatakan sebagai alomorf.
Kata merupakan unsur terbesar dalam kajian morfologi. Kata terdiri dari satu morfem atau gabungan dari beberapa morfem. Kita ambil contoh:
“Mila kemarin membeli buku”
Mila. (Sebagai jawaban dari pertanyaa “Siapa yang membeli buku?”)
Kemarin. (Sebagai jawaban dari pertanyaan “Kapan Mila membeli buku?”)
Membeli. (Sebagai jawaban dari pertanyaan “Apa yang dilakukan Mila?”)
Buku. (Sebagai jawaban dari pertanyaan “Apa yang dibeli Mila”?)
Semua kata itu dapat berdiri sendiri dan memiliki makna masing-masing. Kata berbeda dengan morfem sebab kata adalah satuan ujaran bebas terkecil yang bermakna. Morfem sendiri terdapat morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas seperti pada kata “Nah”, “Wow”, dan sebagainya. Sedangkan morfem terikat seperti pada apa yang sudah dijelaskan di atas, misalnya pada morfem {peN-} dan {meN-}.
Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa morfem, morf, alomorf, dan kata berbeda, namun semuanya saling berhubungan dan kata tidak dapat dibentuk tanpa adanya morfem.
Catatan:
- Morf, adalah satuan terkecil yang tidak memiliki makna (belum memiliki pasangan).
- Alomorf, adalah bentuk kongkrit dari morfem terikat (sudah memiliki pasangan).
- Morfem, adalah satuan terkecil yang memiliki makna (bentuk dasarnya seperti meN- dan peN-).
- Kata, adalah unsur yang mengandung morfem tunggal atau gabungan dari beberapa morfem.
Referensi :
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar