A. Jenis Morfem Berdasarkan Jumlah Fonem Unsurnya.
Dalam jenis morfem ini, morfem dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1) Monofonemis adalah sebutan untuk morfem yang memiliki satu unsur fonem. Morfem monofonemis itu hanya berada dalam morfem afiks.
Contohnya:
- Morfem {i-} pada kata ilegal
- Morfem {a-} pada kata asusila
2) Polifonemis adalah sebutan untuk morfem yang berunsur lebih dari satu fonem.
Contohnya:
- Morfem halilintar
- Morfem {-an} pada kata makanan
B. Jenis Morfem Berdasarkan Keterbukaan Bergabung dengan Morfem Lain.
Dalam jenis morfem ini, morfem dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1) Morfem terbuka yaitu morfem yang dapat bergabung dengan morfem lain. Kata yang diawali dengan morfem terbuka memungkinkan dapat bergabung dengan morfem lain.
Contohnya:
- Morfem {meN-}, yang mengawali kata mengerti, memungkinkan bergabung dengan morfem prefiks, sehingga menjadi dimengerti.
- Morfem {ber-}, yang mengawali kata berlaku, memungkinkan bergabung dengan morfem konfiks, sehingga menjadi diberlakukan. (Muslich, 2010: 22).
2) Morfem tertutup yaitu morfem yang tidak dapat bergabung dengan morfem lain. Kata yang diawali dengan morfem tertutup tidak mungkin dapat bergabung dengan morfem lain.
Contohnya:
- Morfem {di-}, yang mengawali kata dipukul, tidak mungkin dapat bergabung dengan morfem prefiks lain, sehingga tidak dapat menjadi berdipukul.
Kata benda juga memiliki sifat keterbukaan yang berbeda, misalnya:
- Cangkul, dapat bergabung dengan morfem afiks lain sehingga dapat berubah menjadi mencangkul dan dicangkul.
- Tongkat, tidak dapat bergabung dengan morfem afiks lain sehingga tidak dapat berubah menjadi mentongkat dan ditongkat.
C. Jenis Morfem Berdasarkan Bermakna Tidaknya.
Dalam jenis morfem ini, morfem dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
1) Morfem leksikal yaitu morfem yang memiliki makna dan maknanya dapat diperiksa dalam kamus.
Contohnya:
- Lapar, yang berarti dalam kamus berasa ingin makan
- Kuda, yang berarti dalam kamus binatang mamalia yang biasa dipelihara orang sebagai kendaraan
2) Morfem gramatikal yaitu morfem yang tidak memiliki makna dan akan memiliki makna ketika sudah bergabung dengan morfem leksikal atau kata dasar. Morfem yang tergolong morfem ini biasanya berupa morfem afiks.
Contohnya:
- Morfem {ter-}, morfem tersebut akan memiliki makna setelah bergabung dengan kata dakwa sehingga menjadi terdakwa yang artinya orang yang didakwa (Muslich, 2010: 24).
Lain halnya dengan kata imbuhan dalam bahasa asing, misalnya pada kata feodalisme dan sosialisme. Dari situ akan diketahui bahwa morfem isme bermakna ‘paham’ atau ‘pandangan’ atau ‘aliran’. Jadi morfem isme akan dapat diketahui maknanya walaupun ia berdiri sendiri.
Dalam hal ini perlu dibedakan antara konsep atau kategori gramatikal dan kategori semantik. Secara gramatikal bentuk-bentuk tersebut memang tidak dapat langsung digunakan dalam sebuah pertuturan. Namun, secara semantik bentuk-bentuk tersebut tetap memiliki makna leksikal (Chaer, 2015: 20).
Referensi :
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Bumi Aksara.
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar