A. Pengertian Komposisi dan Kata Majemuk
Komposisi adalah proses penggabungan dasar dengan dasar (biasanya berupaakar maupun bentuk berimbuhan) untuk mewadahi suatu “konsep” yang tertampung dalam suatu kata. (Chaer, 2008:209).
Komposisi adalah gabungan dari kata dasar yang berbeda untuk mewadahi “suatu konsep” yang belum tertampung dalam sebuah kata yang bertujuan untuk mewadahi konsep-konsep yang ada dalam kehidupan nyata tetapi belum ada kosa katanya dalam bentuk tunggal.
Kata majemuk adalah hasil dari peristiwa bergabungnya dua moefem dasar atau lebih secara padu dan menimbulkan arti yang relative baru. (Muslich, 2008:57).
Jadi, yang membedakan antara komposisi dan kata majemuk adalah kata majemuk merupakan hasil dari proses komposisi.
B. Aspek Semantik Komposisi
Dilihat dari usaha untuk menampung konsep-konsep ini dapat di bedakan ada lima konsep komposisi, yaitu :
1. Komposisi yang menampung konsep-konsep yang digabungkan sederajat, sehingga membentuk komposisi yang koordinatif. (Chaer, 2008:212)
Contohnya :
- Baca tulis : baca dan tulis
- Tua muda : tua dan muda
2. Komposisi yang menampung konsep-konsep yang digabung tidak sederajat, sehingga melahirkan komposisi yang subordinatif. Dalam komposisi ini unsur utama merupakan unsur utama dan unsur kedua merupakan unsur penjelas. (Chaer, 2008: 213)
Contohnya :
- Sate Madura : sate yang berasal dari Madura
- Nasi Padang : nasi yang berasal dari Padang
3. Komposisi yang menghasilkan istilah, yakni yang maknanya sudah pasti, sudah tentu, meskipun bebas dari konteks kalimatnya, karena sebagai istilah hanya digunakan dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Makna istilah dalam komposisi ini tidak ditentukan oleh hubungan kedua unsurnya, melainkan ditentukan oleh keseluruhannya. Chaer (2008: 213-214) menyatakan bahwa beberapa contoh istilah dalam bentuk komposisi :
a. Istilah olahraga : Tolak peluru, angkat besi
b. Istilah linguistik : Fonem vokal, frase verba
c. Istilah politik : Suaka politi, hak pilih
d. Istilah pendidikan : Buku ajar, tahun ajaran
e. Istilah agama islam : Hadis sahih, zakat fitrah
4. Komposisi pembentukan idiom, yakni penggabungan dasar dengan dasar yang menghasilkan makna idiomatik, yaitu makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal. Idiom penuh, merupakan idiom yang semua unsurnya merupakan satu kesatuan dan indiom sebagian, yaitu idiom yang salah satu unsurnya masih bermakna leksikal. (Chaer, 2008:214-215).
a. Idiom penuh, contohnya :
- Banting tulang : bekerja keras
- Bau kencur : masih anak-anak
b. Idiom sebagian, contohnya:
- Daftar hitam : daftar yang berisi nama orang-orang yang diduga bersalah
- Gaji buta : gaji yang diterima meskipun tidak bekerja
5. Komposisi yang mengahasilkan nama, yakni yang mengacu pada sebuah wujud dalam dunia nyata. (Chaer, 2008:215).
Contohnya :
- Griya matraman
- Stasiun gambir
C. Pengembangan komposisi
Dilihat dari segi semantik, semakin luas komposisi itu maka maknanya semakin sempit. Kita simak kata kereta, mencakup semua jenis kereta, termaksud kereta kuda, kereta listrik, kereta perang dan sebagainya. Makna kereta api hanya mencakup kereta yang digerakkan dengan tenaga api (dalam hal ini lokomotif). Jadi, tidak termaksud kereta kuda dan lain-lain. Lalu, makna kereta api ekspres sudah semakin sempit, karena semua kereta api yang bukan ekspres tidak termaksud dalam komposisi itu. selanjutnya, dengan penambahan dasar malam ke dalam komposisi kereta api ekspres menyebabkan kereta api ekspres yang berjalan di siang hari tidak termaksud di dalamnya. Makna atau konsep semakin sempit lagi dengan penambahan dasar luar biasa, sebab yang biasa pun tidak termaksud di dalam komposisi kereta api ekspres malam luar biasa (Chaer, 2008:216).
D. Komposisi nomina, verba dan ajektifa
1. Komposisi nomina
Komposisi nomina adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategori nomina (Chaer, 2008:216-217).
Contohnya :
- Meja makan (nomina + verba)
- Meja hijau (nomina + adjektiva)
Dalam kaitannya dengan masalah semantik dapat dibedakan adanya lima macam komposisi nomina, diantaranya berikut :
a. Komposisi nomina bermakna gramatikal
Chaer (2008:217) menyatakan bahwa makna gramatikal adalah makna yang muncul dalam proses penggabungan dasar dengan dasar dalam pembentukan sebuah komposisi. Makna gramatikal yang muncul dalam proses pembentukan komposisi nomina, antara lain adalah makna yang menyatakan :
1) “gabungan biasa”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dan. Makna gramatikal “gabungan biasa” ini akan terjadi apabila kedua unsurnya memiliki komponen makna:
- (+ pasangan antonim relasional), misalnya : ayah ibu dan suami istri
- (+ anggota dari satu medan makna), misalnya: topan badai, sawah lading
2) “bagian”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dari, makna gramatika “bagian” ini terjadi apabila unsur utama memiliki komponen makna:
- (+bagian dari unsur kedua) dan unsur kedua memiliki bagian makna (+keseluruhan memiliki unsur keseluruhan yang mencakup unsur pertama), contoh: awal tahun, tengah semester, akhir bulan.
3) “kepunyaan atau pemiliki”, makna gramatikal kepunyaan ini akan terjadi apabila (+benda termiliki) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+insan), (+yang diinsankan) atau (+pemilik).
Misalnya :
- Sepatu adik
- Tanah negara.
4) “asal bahan”, kedua unsurnya bisa disisipkan kata “terbuat dari”. Makna gramatikal asal bahan dapat terjadi apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+bahan pembuat unsur pertama).
Misalnya :
- Cicin emas
- Jaket kulit.
5) “asal tempat”, dapat disisipkan kata berasal dari. Makna gramatikal “asal tempat” dapat terjadi apabila unsur kedua memiliki makna (+tempat berasalnya unsur pertama).
Misalnya :
- Sate padang
- Jeruk bali.
6) “bercampur atau dicampur dengan”, makna gramatikal “bercampur” dapat terjadi apabila makna gramatikal memiliki komponen makna (+pencampuran pada unsur pertama).
Misalnya :
- Teh susu
- Roti keju
7) “hasil buatan”, makna gramatikal “hasil buatan” ini dapat terjadi apabila unsur keduanya memiliki makna. (+pembuat unsur pertama).
Misalnya :
- Mobil jepang
- Puisi Chairil
8) “tempat melakukan sesuatu”, makna gramatikal “tempat melakukan sesuatu” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ruang) dan unsur kedua memiliki komponen (+tindakan).
Misalnya:
- Kamar periksa
- Rumah makan
9) “kegunaan tertentu”, makna gramatikal “kegunaan tertentu” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen (+kegunaan) dan komponen kedua (+tindakan).
Misalnya :
- Uang belanja
- Mobil dinas
10) “bentuk”, makna gramatikal “bentuk” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki makna (+benda) dan unsur kedua memiliki makna (+bentuk) atau (+wujud).
Misalnya :
- Meja bundar
- Karet gelang.
11) “jenis”, makna gramatikal “jenis” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen (+benda genetik), sedangkan unsur kedua (+benda spesifik).
Misalnya:
- Mobil sedan
- Pisau lipat
12) “keadaan”, makna gramatikal “keadaan” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+benda) dan unsur kedua (+keadaan).
Misalnya :
- Mobil rusak
- Gubuk reyot.
13) “jenis kelamin”, makna gramatikal “jenis kelamin” dapat terjadi apabila unsur pertama komponennya (+makhluk) dan komponen kedua (+gender).
Misalnya:
- Ayam jantan
- Sapi betina
14) “seperti atau menyerupai”, makna gramatikal “seperti” ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+benda buatan) dan unsur kedua (+ciri khas benda).
Misalnya :
- Gula pasir
- Akar rambut
15) “model”, makna gramatikal “model” ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+benda buatan) dan unsur kedua (+ciri khas dari sesuatu).
Misalnya :
- Celana jengki
- Topi koboi
16) “memakai”. Makna gramatikal “memakai” ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki (+benda alat) dan unsur kedua (+bahan yang digunakan).
Misalnya :
- Kapal layar
- Mesin uap
17) “yang di…” makna gramatikal “yang di..” dapat terjadi apabila unsur keduanya (+perlakuan terhadap unsur pertama).
Misalnya :
- Anak angkat
- Ayam goreng
18) “ada di..” makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+kegiatan) dan unsur kedua (+ruang) atau (+tempat).
Misalnya :
- Voli pantai
- Kapal udara.
19) “yang biasa melakukan”. Makna gramatikal ini bisa terjadi apabila komponen utama memiliki makna (+pelaku) dan unsur kedua (+tindakan).
Misalnya :
- Jago balap
- Jago makan
20) “wadah atau tempat”. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila unsur komponen pertamanya (+wadah) dan unsur kedua (+posisi).
Misalnya:
- Pintu depan
- Kamar tengah
21) “letak atau posisi”. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila komponen utama (+benda) dan komponen kedua (+posisi).
Misalnya :
- Parkir timur.
22) “mempunyai”. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila komponen utama (+benda alat) dan komponen kedua (+perlengkapan).
Misalnya :
- Kursi roda
- Sepeda motor
23) “jenjang, tahap dan tingkat”. Makna gramatikal ini bisa terjadi jika komponen utamanya (+kegiatan) dan komponen keduanya (+tahap) ata (+tingkatan).
Misalnya :
- Sekolah dasar
- Pemain pemula
24) “rasa atau bau”. Makna gramatikal ini bisa terjadi apabila unsur pertamanya (+benda rasa) dan unsur keduanya (+rasa) atau (+bau).
Misalnya:
Kacang asin
Gulai pedas
b. Komposisi nomina bermakna idiomatik
Komposisi idiomatik ini terdiri dari, komposisi idiomatik penuh dan sebagian.
1) Komposisi idiomatik penuh adalah komposis yang memiliki makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal. (Chaer, 2008:222).
Contoh :
- Kumis kucing : tanaman obat
- Buah bibir : bahan pembicaraan
2) Komposisi idiomatik sebagian adalah yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya.
Contoh :
- Gaji buta : menerima gaji tetapi tidak bekerja
- Daftar hitam : daftar nama orang-orang yang diduga bersalah
c. Komposisi nomina metaforis
Komposisi nomina metaforis ialah dengan mengambil salah satu komponen makna yang dimiliki oleh unsur tersebut. Umpamanya unsur kaki pada unsur kaki gunung diberi makna metaforis dari komponen makna kaki, yaitu (+terletak pada bagian bawah). Sedangkan komposisi pada kaki meja diberi makna metaforis dari komponen makna kaki, yaitu (+penunjang berdirinya tubuh) (Chaer, 2008:223).
d. Komposisi nomina dan istilah
Sebagai nama atau istilah komposisi ini tidak bermakna gramatikal, tidak bermakna idiomatik, juga tidak bermakna metaforis. (Chaer, 2008:224).
Contoh :
- Buku ajar : hotel Indonesia
- Suku cadang : apotik Rini
e. Komposisi nomina dengan adverbial
Chaer (2008:225) menyatakan bahwa makna komposisi jenis ini ditentukan oleh makna leksikal dari kata adverbia itu. adverbial yang mendampingi nomina adalah, adverbia yang menyatakan negasi, yaitu bukan, tiada dan tanpa. Dan adverbia yang menyatakan jumlah, yaitu beberapa, banyak, sedikit, sejumlah, jarang, kurang. Contoh:
- Bukan anjing
- Tiada air
Kedalam kelompok ini bisa juga bisa dimasukan komposisi dengan unsur preposisi, seperti :
- Di pasar
- Dari kampus
2. Komposisi Verba
Chaer (2008: 226) menyatakan komposisi yang pada satuan klausa berkategori verba.
Misalnya:
- Mereka menyanyi menari sepanjang malam
- Dia datang mengahadap kepala sekolah
a. Komposisi verba bermakna gramatikal
Chaer (2008:226-229) menyatakan bahwa ada beberapa makna gramatikal, antara lain adalah makna yang menyatakan:
1) “gabungan biasa”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat dapat disisipkan kata dan. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila:
- Kedua unsurnya memiliki makna yang sama sebagai dua buah kata bersinonim, misalnya: bimbang ragu, bujuk rayu.
- Kedua unsurnya merupakan anggota dari satu medan makna. Misalnya : belajar mengajar, makan minum.
- Kedua unsurnya merupakan pasangan berantonim. Misalnya: jual beli, jatuh bangun.
2) “gabungan mempertontonkan”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata atau. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila kedua unsurnya merupakan pasangan berantonin.
Misalnya :
- Hidup mati
- Gerak diam.
3) “sambil”, sehinnga di antara kedua unsurnya dapat disispkan kata sambil, makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila kedua unsurnya itu merupakan dua tindakan yang dapat dilakukan bersamaan. Hanya unsur pertama harus memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak), sedangkan unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (-gerak).
Misalnya :
- Datang membawa
- Datang menangis.
4) “lalu”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata lalu, makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak). Unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (-gerak).
Misalnya :
- Datang berteriak-teriak
- Datang marah-marah.
5) “untuk”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata untuk. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya (+tindakan) dan (+gerak) unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran).
Misalnya :
- Datang menagih (hutang)
- Pergi membayar (pajak).
6) “dengan”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dengan. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak) dan unsur kedua (+tindakan) dan (+keadaan).
Misalnya :
- Datang merangkak
- Menangis terseduh-seduh.
7) “secara”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata secara. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki makna (+tindakan) dan komponen kedua memiliki makna (+cara).
Misalnya :
- Cetak ulang
- Terjun bebas.
8) “alat”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata menggunakan. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+alat) atau (+yang digunakan).
Misalnya:
- Balap mobil
- Tolak peluru.
9) “waktu”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata karena. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur utama memiliki komponen makna (+kegiatan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+saat) atau (+ketika).
Misalnya :
- Ronda malam
- Jaga malam
10) “terhadap”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata terhadap atau akan. Makna gramatikal gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya (+peristiwa) dan unsur keduanya (+bahaya).
Misalnya :
- Kedap air
- Kedap suara
11) “ karena”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat diselipkan kata karena, makna gramatikal ini dapar terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+kejadian) dan kedua (+penyebab).
Misalnya :
- Mandi darah
- Mabuk darat.
12) “menjadi”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata menjadi. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki (+penyebab) dan unsur kedua (+akibat).
Misalnya :
- Jatuh cinta
- Jatuh sakit.
13) “sehingga”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata sehingga atau sampai. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+tindakan) dan unsur kedua (+kesudahan).
Misalnya:
- Tembak mati
- Beri tahu
14) “menuju”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata kea tau menuju. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+gerak arah) dan unsur kedua (+arah tujuan).
Misalnya:
- Belok kiri
- Belok kanan.
15) “arah kedatangan”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dari. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila unsur utamanya memiliki makna (+gerak arah) dan unsur keduanya (+tempat kegiatan).
Misalnya:
- Pulang kantor.
16) “seperti” sehingga dapat disisipkan kata sebagaimana. Komponen utama memiliki arti (+keadaan) dan kedua (+perbandingan).
Misalnya :
- Lurus tabung
- Mati kutu
Ada beberapa komposisi verba bermakna idiomatikal yaitu, makna yang tidak dapat ditelusuri atau diprediksi baik secara leksikal maupun gramatikal. Misalnya “makan garam dalam arti “berpengalama”, “makan kawat” dalam arti sangat miskin (Chaer, 2008:229).
Berkenaan dengan kontruksi predikat + objek ini, maka makna verba yang menjadi predikat itu sangat bergantung pada nomina, sebagai objek yang mengikutinya. (Chaer, 2008:230).
c. Komposisi verba dengan abverbia
Chaer (2008:231) menyatakan bahwa verba sebagai pengisi fungsi predikat dalam sebuah klausa seringkali didampingi oleh sebuah adverbial atau lebih.
Adverbial pendamping verba adalah:
- Adverbia negasi: tidak, tak, tanpa.
- Adverbia kala: sudah, sedang, tengah lagi, akan.
- Adverbia keselesaian: sudah, sedang, tengah, belum.
- Adverbia aspectual: boleh, wajib, harus, dapat, ingin, mau.
- Adverbia frekuensi: sering, jarang, pernah, acap kali
- Adverbia kemungkinan: mungkin, pasti, barang kali, boleh jadi.
Sebuah verba dalam statusnya sebagai pengisi fungsi predikat dalam sebuah klausa bisa didampingi oleh sebuah adverbia tertentu, tetapi juga bisa didampingi oleh dua adverbia atau lebih.
Contoh :
- Tidak makan
- Sudah tidak makan
3. Komposisi adjektifa
Chaer (2008: 231-232) menyatakan bahwa komposisi yang satuan klausa, berkategori ajektiva.
Misalnya :
- Gadis yang cantik molek itu duduk termenung
- Kaya miskin dihadapan Allah sama saja
Komposisi adjektiva dapat dibentuk dari dasar:
- Adjektiva+adjektiva, seperti tua muda
- Adjektiva+nomina, seperti merah muda
- Adjektiva+verba, seperti takut pulang
- Adverbial+adjektifa, seperti tidak berani
a. Komposisi ajektifa bermakna gramatikal
Chaer (2008:232-234) menyatakan bahwa makna gramatikal adalah makna yang menyatakan:
1) “gabungan biasa”, sehingga dapat disisipkan kata dan. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila:
- Memiliki komponen makna yang sama sebagai pasangan bersinonim, misal: cantic molek, gagah berani.
- Memiliki makna yang berkebalikan sebagai pasangan berantonim atau beraposisi, misalnya : atas bawah, timur barat.
- Memiliki komponen makna yang sejalan atau tidak bertentangan, misalnya: bulat panjang, gemuk pendek.
2) “Alternatif atau pilihan”, sehingga dapat disispkan kata atau, makna gramatikal ini dapat terjadi apabila kedua unsurnya memiliki komponen makna yang bertentangan atau berantonim.
Misalnya :
- Buruk baik
- Mahal murah.
3) “seperti” dapat disispi kata seperti, makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur utamanya memiliki makna (+warna) dan unsur kedua (+benda berwarna).
Misalnya:
- Merah jambu
- Hijau daun.
4) “serba”, makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila kedua unsurnya berupa dasar yang sama dan memiliki komponen makna yang sama. Stuktur komposisi ini sama dengan struktur reduplikasi utuh. Oleh karena itu untuk membedakan maknanya, perlu contoh dalam bentuk kalimat.
a) Komposisi dan kalimat
- Mereka memakai pakaian putih-putih
- Warna seragam mereka biru-biru
b) adalah reduplikasi
- Putih-putih harus dibawanya
- Bulat-bulat ditelannya anak ikan itu.
5) “untuk”, dapat disisipkan kata untuk. Makna gramatikal ini ddapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki makna (+sikap batin) dan makna kedua (+kejadian) atau (+peristiwa).
Misalnya :
- Takut mati
- Takut pulang.
6) “kalau”, dapat disisipkan kata kalau. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur utama memiliki makna (+perasaan batin) unsur kedua (+tindakan).
Misalnya :
- Sedih mendengar
- Senang melihat.
b. Komposisi adjektiva bermakna idiomatikal
Chaer (2008: 234) menyatakan bahwa ada beberapa komposisi ajektifa yang bermakna idiomatikal, yakni makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal.
Misalnya :
- Panjang usus : sabar
- Tinggi hati : angkuh.
c. Komposisi adjektifa dengan adverbia
Chaer (2008:234) menyatakan bahwa ada dua macam adverbia untuk mendamping ajektifa yaitu:
- Adverbia negasi: tidak
- Adverbia derajat: agak, sama
Contoh pemakaian
- Tidak bagus, tidak baik
- Agak tinggi, agak lurus
Referensi :
Chaer,Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar