Minggu, 13 Januari 2019

AFIKSASI PEMBENTUKAN ADJEKTIVA

Alifiyah Mila Rizka (176020)


Dalam sub bab berikut akan dibicarakan kata-kata berakfiks bahasa indonesia yang oleh banyak pakar di golongkan sebagai kata berkelas ajektiva dan dalam sub bab lain akan dibicarakan kata-kata berkelas ejektiva yang berasal dari unsur serapan dengan kemungkinan penggunaan ‘afiks’ serapannya dalam pembentukan kata berkelas ajektiva. (A. Chaer:2008).
1. Dasar ajektiva berafiks asli indonesia
Sudah disebutkan diatas adanya buku atau literatur yang menyatakan adanya ketumpangtindihan kata-kata berkelas ajektiva dengan kelas lain, seperti kelas nomina dan verba. Berikut kita bicarakan kata-kata berafiks apa saja yang bertumpang tindih itu:
a. Dasar ajektiva berprefiks pe-
Ada dua macam proses pembubuhan prefiks pe- pada dasar ajektiva, yaitu :
1) Pemberian afiks pe- secara langsung dapat terjadi kalua dasar ajektiva itu memiliki kompone makna (+sikap batin ) dan memberi makna gramatikal yang memiliki sifat dasar.
Misalnya : pemalu, pemberani, penakut

2. Pemberian prefiks pe- melalui verbal berklofiks me-kan dapat terjadi apabila dasar ajektiva itu memiliki komponen makna (+ keadaan fisik) dan memberi makna gramatikal yang menjadikan (dasar ).
Misalnya : pembersih, pemutih, pengering

b. Dasar Ajektitiva Berprefiks se-
Pemberian prefiks se- pada semua dasar ajektiva memberi makna gramatikal ‘sama (dasar) dengan nomina yang mengikutinya’.
Misalnya:

  • Sepintar A, ‘sama pintar dengan A’.
  • Secantik B, ‘sama cantic dengan B’.

Dasar ajektifa dengan prefiks se- bukanlah berkategori ajektiva sebab tidak dapat diawali adverbia agak atau sangat. Bentuk agak sepintar dan sangat sepinta tidak berterima. Kata-kata yang dibentuk dari dasar ajektiva dengan prefiks se- sesungguhnya berkategori verba. Prefiks se- pada dasar ajektiva bertugas membentuk tingkat perbandingan ‘sama’ atau sederajat.
Perhatikan:

  • Setinggi = sama tinggi = tingkat sama
  • Sekecil = sama kecil = tingkat sama


c. Dasar Ajektiva Bersufiks –an 
Pemberian sufiks –an pada semua dasar ajektiva memberi maka gramatikal ‘lebih (dasar)’ pada nomina yang mengikutinya.
Misalnya:

  • Pintaran A, ‘lebih pintar A’
  • Mahalan B, ‘lebih mahal B’

Dasar ajektiva dengan sufiks –an bukanlah kategori ajektiva, melainkan berkategori verba, sebab tidak dapat diawali adverbia agak atau sangat. Bentuk agak tinggi dan sangat tinggian tidak  berterima. Kata-kata yang dibentuk dari dasar ajektiva dengan sufiks –an membentuk tingkat perbandingan lebih dalam satu system penderajatan.
Perhatikan:

  • Tinggian = lebih tinggi = tingkat lebih
  • Kecilan = lebih kecil = tingkat lebih


d. Dasar Ajektiva Berprefiks ter- 
Pengimbuhan prefiks ter- pada semua dasar ajektiva memberi makna gramatikal ‘paling (dasar)’.
Misalnya:

  • Tercantik, ‘paling cantik’.
  • Terbodoh, ‘paling bodoh’ 

Kata-kata yang bentuk dasarnya ajektiva dengan prefiks ter- tidaklah termasuk berkategori ajektiva, melainkan berkategori verba, sebab tidak dapat idahului adverbia agak dan sangat. Bentuk-bentuk seperti agak termahal dan sangat termahal tidak berterima. Prefiks ter- pada dasar ajektiva bertugas membentuk tingkat perbandingan superlatif dalam suatu system penderajatan.
Perhatikan.

  • Tertinggi = paling tinggi = tingkat paling
  • Terkecil = paling kecil = tingkat paling


e. Dasar Ajektiva Berkonfiks ke-an
Pengimbuhan konfiks ke-an pada dasar ajaktiva akan memberi makna gramatikal ‘agak’ (dasar) bila ajektiva itu memiliki komponen makna (+warna).
Misalnya:

  • Kehitaman, ‘agak hitam’
  • Kemerahan, ‘agak merah’


f. Dasar Ajaktiva Berklofiks me-kan
Dasar ajektiva berklofiks me-kan memiliki makna gramatikal ‘menyebabkan jadi (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sikap batin).
Misalnya:

  • Memalukan, ‘menyebabkan malu’.
  • Memilukan, ‘menyebabkan pilu’.

Dasar ajektiva dengan konfliks me-kan sesungguhnya berkategori ganda, yaitu ajektiva dan verba. Sebagai kategori ajektiva dia dapat didahuluai oleh adverbial agak dan sangat; dan sebagai verba dapat diikuti oleh sebuah objek. Jadi, bentuk-bentuk atau konstruksi –konstruksi berikut adalah berterima:

  • Agak memalukan orang banyak
  • Sangat memalukan orang banyak


g. Dasar Ajektiva Berlkofiks me-i
Dasar ajektiva berklofiks me-I memiliki makna gramatikal ‘merasa (dasar) pada’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+rasa batin).
Misalnya:

  • Mencintai,’merasa cinta pada’.
  • Mengagumi, ‘merasa kagum pada’.

Dasar Ajektiva dengan klofiks me-i ini sesungguhnya berkategori ganda, yaitu ajektiva dan verba. Sebagai kategori ajektiva dia dapat didahului oleh adverbial agak dan sangat; dan sebagi verba dapat diikuti oleh sebuah objek. Jadi, bentuk-bentuk konstruksi berikut berterima:

  • Agak mencintai gadis itu.
  • Sangat mencintai gadis itu.


h. Dasar Lain Berkomponen Makna (+keadaan)
Kosakata berkategori ajektiva dalam bahasa Indonesia sudah merupakan ‘barang jadi’. Namun, yang disebut ‘barang jadi’ ini ada yang ada yang 100% berkategori ajektiva, tetapi banyak pula yang tidak. Artinya, barang ‘barang jadi’ yang berkategori ajektiva itu memiliki pula komponen makna (+ bendaan) atau (+ tindakan). Misalnya, ajektiva merah dan kuning memiliki juga komponen makna (bendaan), sehingga keduanya bisa di dahului negasi bukan dan tidak. Bentuk-bentuk bukan merah dan tidak merah sama-sama berterima. Ajektiva mrah dan benci juga memiliki komponen makna (+ tindakan).

Sebaliknya nomina untung dan rugi juga memiliki komponen makna (+ keadaan), sehingga keduanya sama-sama dapat diberi tegas bukan dan tidak. Jadi, bentuk-bentuk bukan untung, bukan rugi, tidak untung dan tidak rugi sama-sama berterima. Dengan demikian bentuk turunan beruntung bisa disebut kategori ajektiva. Kata turunan merugikan bisa disebut kategori verba juga bisa termasuk kategori ajektiva. Oleh karena itu, kalau di dalam berbagai buku tata bahasa dari berbagai penulis tidak ada keseragamanpendapat bila kita pahami.

2. Pembentukan Ajektiva dengan ‘Afiks’ Serapan
Menurut buku Pedoman Ejaan Bahasa indonesia yang disempurnakan (EYD) dan buku pedoman pembentukan istilah (PPI), penyerapan kata dari bahasa asing dilakukan secara utuh, bukan terpisah antara dasar dengan afiksnya. Misalnya :

  • Jika kita menyerap kata standard bisa di baca menjadi standar (huruf d-nya dibuang).
  • Jika menyerap kata standarditition di baca menjadi standardisasi (-ditition disesuaikan menjadi di-sasi).
  • Jika menyerap kata object menjadi objek, kita juga menyerap kata objective di baca menjadi objektif.


3. Kata serapan dari bahasa inggris dan belanda
Berkategori ajektiva dapat kita kenali dari ‘akhiran’ (dalam tanda petik) seperti:

  • Akhiran kata if : aktif, pasif, objektif, administratif, primitif, konsumtif, konsultatif, edukatif, dll yang berakhiran kata if.
  • Akhiran kata ik: akademik, pluralistik, kritik, pratictik, dan heroik.
  • Akhiran kata is: akademis, kronologis, kritis, birokratis, nasionalis, dan egois.
  • Akhiran kata istis: materialistis, persimistis, agoistis, optimistis, dan pluralistis.
  • Akhiran kata al: prosedural, komunal, material, individual, gramatikal, konseptual, dan seremonial.
  • Akhiran kata il; prinsipil, idiil, dan komersil.


4. Kata serapan dari bahasa Arab.
Kata serapan ini yang yang berkategori ajektiva dapat kita kenali dari “akhiran” (dalam tanda petik), antara lain:

  • Akhiran kata (i): islmi, alami, abadi, qurani, madani, jasmani, dan rohani.
  • Akhiran kata iah: Islamia, alamiah, rohaniah, abadiah, dan qur’aniah.

Tampaknya “akhiran” unsur serapan, baik inggris/Belanda maupun Arab tidak produktif untuk pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, bukan hanya untuk pembentukan verba, tetapi juga untuk pembentukan kategori yang lain. Sejauh ini kata-kata (dari dasar asli Indonesia) yang telah dibentuk dengan akhiran serapan itu hanyalah pancasilais, surgawi, manusiawi, kimiawi, sukuisme, daerahisme, tendanisasi, dan lelenisasi.



Referensi :
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar