A. Klasifikasi Kata Pendapat Berbagai Macam Ahli
Terdapat beberapa pendapat yang menjelaskan tentang kata seperti :
- Menurut Ramlan (1996) kata merupakan dua macam satuan, yaitu satuan fonologis dan satuan gramatis.
- Menurut Alisyahbana (1978) kata merupakan satuan kumpulan fonem atau huruf yang terkecil yang mengandung pengertian.
- Menurut Parera (1994) kata adalah satu kesatuan sintaksis dalam tutur atau kalimat. Kata dapat merupakan satu kesatuan penuh dan komplit dalam ujar sebuah bahasa, kecuali partikel.
- Menurut Crystal (1980) kata adalah satuan ujaran yang mempunyai pengenalan intuitif universal oleh penutur asli, baik dalam bahasa lisan maupun tulisan.
B. Klasifikasi Kata Kelas Terbuka
Secara tradisional, dikenal adanya kata-kata yang termasuk kelas verba nomina, ajektifa, adverbia, numeralia, preposisi, konjungsi, pronomina, artikula, dan interjeksi (Chaer, 2008: 64).
- Kelas nomina, verba, dan adjektifa berisi konsep-konsep budaya, yang merupakan makna leksikal dari kata-kata pada kelas itu.
- Adverbia membawa makna yang mendampingi kelas-kelas nomina, verba, dan adjektifa.
- Numeralia membawa konsep-konsep hitungan, terutama untuk kelas nomina dan adverbia.
- Preposisi membawa konsep perangkai antara verba dan nomina.
- Konjungsi membawa konsep makna penghubung antara satuan kelas nomina, antara satuan verba, dan antara satuan adjektifa.
- Pronomina membawa konsep pengganti untuk anggota kelas nomina.
- Artikula membawa konsep penentu dan pembentuk nomina.
- Interjeksi membawa konsep emosi manusia.
Kelas kata terbuka adalah kelas yang keanggotaanya dapat bertambah atau berkurang sewaktu-waktu berkenaan dengan perkembangan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat penutur suatu bahasa. Berikut yang termasuk kelas terbuka yaitu:
1. Nomina
Ciri utama nomina atau kata benda dilihat dari adverbia pendampingnya.
- Tidak dapat didahului oleh adverbia negasi tidak. Contoh : *tidak [kucing, meja, bulan, rumah, pensil]
- Tidak dapat didahului oleh adverbia derajat agak (lebih, sangat, paling). Contoh : *agak [kucing, meja, bulan, rumah, pensil]
- Tidak dapat didahului adverbia keharusan wajib. Contoh : *wajib [kucing, meja, bulan, rumah, pensil]
- Dapat didahului oleh adverbia yang menyatakan jumlah. Contoh : sebuah meja, sebuah kucing, sebatang pensil.
2. Verba
Ciri utama verba atau kata keja dilihat dari adverbia yang mendampinginya.
- Dapat didampingi oleh adverbia negasi tidak dan tanpa. Contoh : tidak datang, tanpa makan, tanpa melihat
- Dapat didampingi oleh semua adverbia frekuensi. Contoh : sering dating, jarang makan, kadang-kadang pulang
- Tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan penggolongannya. Contoh : sebuah *membaca, dua buah *menulis, tiga butir *pulang
- Namun dapat didampingi oleh semua adverbia jumlah. Contoh : kurang membaca, sedikit menulis
- Tidak dapat didampingi oleh adverbia derajat. Contoh : agak *pulang, cukup *datang
- Dapat didampingi oleh semua adverbia kala (tenses). Contoh : sudah makan, sedang mandi
- Dapat didampingi oleh semua adverbia keselesaian. Contoh : belum mandi, baru datang
- Dapat didampingi oleg adverbia keharusan Contoh : boleh mandi, harus pulang
- Dapat didampingi oleh semua anggota adverbia kepastian. Contoh : pasti dating, tentu pulang
Dilihat dari komponen utamanya, maka dapat dilihat adanya verba yang berkomponen utama.
- [+manusia] seperti menulis, membaca, dan berpikir. Verba yang berkomponen makna [+manusia] hanya dapat dilakukan atau berlaku untuk subjek manusia.
- [+makhluk hidup] seperti makan, minum, dan tidur. Verba ini dapat dilakukan atau berlaku untuk semua makhluk hidup, baik manusia atau binatang.
- [+binatang] seperti mengaum, mencicit, dan memagut.
- [+lokasi] seperti duduk, lewat. Verba ini memerlukan keterangan tempat di dalam klausanya. Contoh : adik duduk di lantai.
- [+sasaran] seperti makan, menulis, dan melihat. Verba yang memiliki komponen ini memerlukan objek di dalam fungsi klausanya. Contoh : kakak menulis surat.
- [-sasaran] seperti melompat, datang, dan pulang. Verba ini tidak memerlukan objek di dalam klausanya.
- [+arah] seperti, menuju, pergi, dan pulang. Verba ini memerlukan adanya keterangan di dalam klausanya. Contoh : ibu pergi ke pasar.
- [+tindakan fisik] seperti, menendang, memukul, melangkah.
- [-tindakan fisik] seperti, berpikir, membenci, mengkhawatirkan.
- [+tindakan tangan] seperti, memegang, menuntun.
- [+tindakan kaki] seperti, melangkah, melompat.
- [+tindakan mata] seperti melihat, melirik.
- [+tindakan mulut] seperti, makan, menggigit.
3. Adjektifa
Ciri utama adjektifa atau kata keadaan dari adverbia yang mendampinginya.
- Tidak dapat didampingi oleh adverbia frekuensi sering, jarang, dan kadang-kadang. Contoh : *sering indah, *jarang tinggi
- Tidak dapat didampingi oleh adverbia jumlah. Contoh : *banyak bagus, *sedikit baru
- Dapat didampingi oleh semua adverbia derajat. Contoh : agak tinggi, cukup mahal
- Dapat didampingi oleh adverbia kepastian. Contoh : pasti indah, tentu baik
- Tidak dapat diberi adverbia kala hendak dan mau. Contoh : *hendak indah, *mau tinggi
Secara morfologi adjektifa yang berupa kata turunan atau kata bentukan dapat dikenali dari sufiks-sufiks yang berasal dari bahasa asing yang mengimbuhkannya. Diantaranya :
- al : faktual, gramatikal, ideal
- il : idiil, materiil
- iah : alamiah, ruhaniah, harfiah
- if : efektif, kualitatif, administratif
- ik : patriotik, heroik
- is : kronologis, pancasilais
- istis : materialistis, optimistis, egoistis
- i : islami, alami
- wi : duniawi, surgawi
- ni : gerejani
C. Klasifikasi Kata Kelas Tertutup
Klasifikasi kata kelas tertutup adalah kelas kata yang jumlah keanggotaannya terbatas dan tidak tampak kemungkinan untuk bertambah atau berkurang. Yang termasuk anggota kelas kata tertutup adalah kelas-kelas adverbia, pronomina, preposisi, konjungsi, artikula, dan interjeksi.
1. Adverbia
Adverbia adalah kata dasar kriteria untuk menentukan kata-kata berkelas nomina, verba, atau adjektiva.
Contohnya :
- Berprefiks se-, seperti sejumlah, sebagian, seberapa, dan semoga.
- Berprefiks se-, dengan reduplikasi seperti sekali-kali, semena-mena.
- Berkonfiks se-nya, seperti sebaiknya, seharusnya, sesungguhnya.
- Berkonfiks se-nya, dengan reduplikasi seperti secepat-cepatnya, sedapat-dapatnya.
Dilihat dari segi semantik, yakni dari komponen makna utama yang dimiliki dapat dilihat dari kata-kata yang berkelas adverbia yang memiliki komponen makna.
- [+negasi] yaitu kata tidak. Kata tidak digunakan untuk menegasikan kelas verba dan ajektifa. Kata bukan digunakan untuk menegasikan kalas verba dan ajektifa tetapi dapat juga digunakan untuk menegasikan kelas verba dan ajektiva yang berada dalam konstruksi berkontras. Kata tanpa digunkan untuk menegasikan kelas nomina dan verba dan kata tiada juga digunakan untuk menegasikan kelas nomina dan verba.
- [+frekuensi] yaitu kata sering, jarang, kadang-kadang, biasa, sekali-kali, kerapkali, dan selalu. Adverbia ini dapat digunakan untuk kelas nomina dan kelas ajektifa.
- [+kuantitas] atau [+jumlah] yaitu banyak, sedikit, cukup, kurang, semua, seluruh, sebagian, dan beberapa. Pada umumnya dapat mendampingi kata adverbial dan juga nomina. Contoh : banyak rumah, banyak membaca, sedikit bicara
- [+kualitas] atau [+derajat] yaitu agak, cukup, lebih, kurang, sangat, paling, sedikit, dan sekali. pada umumnya hanya dapat mendampingi kata-kata kelas ajektiva. Contoh : agak baik, cukup baik
- [+waktu] atau [+kala] yaitu sudah, sedang, lagi, dan mau. Contoh : sudah makan, sedang mandi
- [+keselesaian] yaitu sudah, belum, dan baru. Adverbia ini dapat mendampingi kata-kata dari verba dan ajektiva. Contoh : sudah mandi, belum mandi
- [+pembatasan] yaitu hanya, saja. Adverbia ini dapat mendampingi kata-kata dari verba dan juga numeralia. Contoh : hanya nasi, nasi saja
- [+keharusan] yaitu boleh, wajib, harus, dan mesti. Adverbia ini dapat mendampingi kata verba. Contoh : boleh pergi, harus pergi
- [+kepastian] yaitu pasti, tentu, mungkin, dan barangkalia. Adverbia ini dapat mendampingi kata verba. Contoh : pasti hadir, tentu datang
Selain mendampingi verba, adverbia ini juga dapat mendampingi klausa dan kalimat, misalnya:
- Tentu dia datang
- Mungkin ayah pergi ke Jakarta
2. Pronomina
Pronomina lazim atau kata ganti karena tugasnya memang menggantikan nomina yang ada.
a. Pronomina diri
Kata ganti diri adalah pronomina yang menggantikan nomina orang atau yang diorangkan. Kata ganti diri biasanya dibedakan atas :
- Kata ganti diri orang pertama tunggal: aku, saya. Orang pertama jamak: kami, kita.
- Kata ganti diri orang kedua tunggal: kamu, engkau. Orang kedua jamak: kalian, kamu sekalian
- Kata ganti orang ketiga tunggal: ia, dia, nya. Orang ketiga jamak: mereka
Mengenai penggunaan kata ganti diri dalam bahasa Indonesia ada tiga catatan yang perlu diperhatikan :
1) Dalam masyarakat umum kata ganti diri sering digunakan secara tidak tertib.
- Kata ganti kami sering digunakan untuk menyebut diri secara tunggal, bukan jamak.
- Kata ganti kita sering digunakan untuk menyebut diri sendiri bukan secara inklusif.
- Kata ganti nya sering digunakan untuk menyebut orang kedua tunggal.
2) Dalam masyarakat Indonesia yang multietnis dan multibudaya lazim juga digunakan kata ganti dari bahasa daerah, seperti:
- Mas dan mbak dari bahasa Jawa
- Akang, mamang dari bahasa sunda
3) Karena faktor sosial kata ganti yang sudah tersedia lengkap itu tidak digunakan. Sebagai gantinya digunakan kosakata dari istilah perkerabatan seperti, bapak, ibu, nenek, adik, paman, cucu, dan lain sebagainya.
- Guru itu berkata pada muridnya, “Besok Bapak pergi ke Medan“.
- Kata Ali kepada gurunya, “Kapan Bapak akan kembali ke Surabaya“.
b. Pronomina petunjuk
Kata ganti petunjuk atau pronomina demontratifa adalah kata ini dan itu yang digunakan untuk menggantikan nomina sekaligus dengan penunjukan, misalnya:
- Buku ini adalah buku impor.
- Buku itu belum saya baca.
c. Pronomina tanya
Kata ganti tanya atau pronomina interogatif digunakan untuk menanyakan sesuatu. Contoh :
- Siapa namanya?
- Bagaimana cuaca di sana?
Untuk menegaskan keberadaan, biasanya kata ganti mana dilengkapi dengan preposisi dari, di, dan.
Misalnya:
- Mereka itu datang dari mana?
- Kamu simpan buku itu di mana?
d. Pronomina tak tentu
Pronomina tak tentu digunakan untuk menggantikan nomina yang tak tentu. Yang termasuk kata ganti tak tentu adalah seseorang, salah seorang, siapa saja, dan lain-lain. Contoh:
- Ada seseorang yang menunggumu diluar.
- Salah seorang siswa terlibat dalam pencurian itu.
3. Numeralia
Numeralia atau kata bilangan adalah kata-kata yang menyatakan bilangan, jumlah, nomor, urutan, dan himpunan.
- Bilangan utama atau bilangan sejati adalah satu, dua, tiga, dan sebagainya.
- Bilangan genap adalah bilangan yang habis dibagi dua, misalnya empat, enam, delapan, sepuluh, dan sebagainya.
- Bilangan ganjil adalah bilangan yang tidak habis dibagi dua misalnya satu, tiga, lima, dan sebagainya.
- Kata bilangan bertingkat digunakan untuk menyatakan urutan kata seperti kedua, kelima, ketujuh, dan sebagainya.
- Kata bilangan himpunan digunakan untuk menyatakan kelompok atau jumlah, contohnya: kedua rumah itu.
- Kata bantu bilangan digunakan sebagai tanda pengenal nomina. Kata bantu bilangan yang lazim digunakan adalah orang untuk manusia, ekor untuk binatang, buah untuk benda umum. Selain itu secara spesifik digunakan juga kata-kata batang, lembar, helai, dan lain-lain. Contohnya: -Kata bantu bilangan yang digunakan untuk nomina terhitung. Contonya: Seekor buaya, selembar kertas, sehelai kain. -Kata bantu bilangan untuk nomina tak terhitung digunakan nama wadah pengukur nomina itu. Contohnya: Secangkir kopi, dua liter minyak, sepetak sawah
4. Preposisi
Preposisi digunakan untuk merangkaikan nomina dan verba di dalam suatu klausa. Misalnya kata di dan dengan. Secara semantik preposisi ini menyatakan makna :
- Tempat berada, yaitu preposisi di, pada, dalam, atas, dan antara. Contoh : Mila tinggal di Jombang
- Arah asal, yaitu preposisi dari. Contoh : Mila datang dari Malang
- Arah tujuan, yaitu preposisi ke, kepada, akan, dan terhadap. Contoh : Mila menuju ke utara
- Pelaku, yaitu preposisi oleh. Contoh : Mila dipeluk oleh ibunya
- Alat, yaitu preposisi dengan dan berkat. Contoh : Mila tersenyum berkat Wahyu
- Perbandingan, yaitu preposisi daripada. Contoh : Mila lebih imut daripada Mia
- Hal atau masalah, yaitu preposisi tentang dan mengenai. Contoh : Mila bercerita tentang air
- Akibat, yaitu preposisi hingga atau sehingga dan sampai. Contoh : Mila terus belajar hingga sukses
- Tujuan, yaitu preposisi untuk, buat, guna, bagi. Contoh : Mila membeli kerudung untuk ibunya
5. Konjungsi
Konjungsi adalah kata-kata yang menghubungkan satuan-satuan sintaksis, baik kata dengan kata, frase dengan frase, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat. Penggunaan kata dan, sebaliknya, karena.
a. Konjungsi koordinatif
Konjungsi koordinatif adalah konjungsi yang menghubungkan dua unsur kalimat atau lebih yang kedudukannya sederajat atau setara. Misalnya dan, atau, tetapi, melainkan, bahkan, kecuali, lalu, yaitu.
Contoh:
- Nenek dan kakek
- Merah atau biru
b. Konjungsi subkoordinatif
Konjungsi subkoordinatif menghubungkan dua unsur kalimat (klausa) yang kedudukannya tidak sederajat. Subkoordinatif ini dibedakan pula atas konjungsi yang menghubungkannya.
- Menghubungkan menyatakan sebab akibat. Contoh: Kami tidak dapat melanjutkan perjalanan karena hari sudah malam.
- Menghubungkan menyatakan persyaratan, yaitu kalau. Contoh : Kalau diundang, saya akan hadir.
- Menghubungkan menyatakan tujuan yaitu, agar dan supaya. Contoh : Kami berangkat pagi agar tidak terlambat.
- Menghubungkan menyatakan waktu yaitu, ketika, sewaktu, sesudah. Contoh : Nenek datang ketika kami sedang makan siang
- Menghubungkan menyatakan akibat yaitu sampai, hingga, sehingga. Contoh : Pencuri itu dipukuli orang banyak sampai babak belur.
- Menghubungkan tujuan atau sasaran yaitu, untuk, guna. Contoh : Siswa dan siswi dikumpulkan di aula guna mendapat pengarahan.
- Menghubungkan menyatakan penegasan yaitu biarpun dan meskipun. Contoh : Mereka tetap berangkat meskipun tidak diizinkan orang tua.
- Menghubungkan menyatakan pengandaian yaitu, seandainya, andaikata. Contoh : Saya pasti akan celaka andaikata saya jadi berangkat.
- Menghubungkan menyatakan perbandingan yaitu, seperti, sebagai. Contoh: Kedua anak itu bertengkar seperti kucing dan anjing
c. Konjungsi antar kalimat
Konjungsi antar kalimat digunakan untuk menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya yang berada dalam satu kalimat. Melihat sifat hubungannya.
- Menghubungkan dan mengumpulkan yaitu konjungsi jadi, karena itu, oleh sebab itu, kalau begitu, dan dengan demikian. Contoh : Kamu sudah berhutang jadi kamu harus melunasi
- Menghubungkan menyatakan penegasan yaitu lagipula dan apalagi. Contoh : Hawa dijakarta sangat panas, apalagi pada siang hari.
- Menghubungkan mempertentangkan yaitu namun dan sebaliknya. Contoh : Dia memang keras kepala, namun hatinya baik.
6. Artikulus
Artikulus adalah kata yang berfungsi sebagai penentu atau mendefinitkan suatu nomina, ajektifa, atau kelas lain. Artikulus yang ada di Indonesia adalah si dan sang.
Contohnya :
- Mana si gendut, sejak tadi belum muncul
- Sang merah putih berkibar di depan istana Negara
7. Interjeksi
Interjeksi adalah kata-kata yang mengungkapkan perasan batin, misalnya karena kaget, marah, terharu, kangen, kagum, sedih, dan sebagainya.
Contohnya :
- “Wah, mahal sekali!“, kata ibu itu.
- Wow keren!
8. Partikel
Selain kata-kata yang termasuk kelas-kelas di atas ada pula sejumlah bentuk yang disebut partikel seperti kah, lah, tah, pun, dan per. Contohnya :
- Apakah isi lemari itu ?
- Sayalah yang bersalah, bukan anak itu.
Referensi :
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta
Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi. Bandung : Refika Aditama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar