Jumat, 11 Januari 2019

MORFOLOGI DAN ILMU KEBAHASAAN LAIN

Alifiyah Mila Rizka (176020)


A. Pengertian Morfologi

Secara etimologi, kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti bentuk dan kata logos yang berarti ilmu. Secara harfiah, kata morfologi berarti ilmu mengenai bentuk. Dalam kajian linguistik, morfologi berarti ilmu yang mempelajari bentuk-bentuk dan pembentukan kata.

Morfologi mempelajari tentang bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.

Verhaar (1984:52) berpendapat bahwa morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian kata secara gramatikal.

Kridalaksana (1984:129) mengemukakan bahwa morfologi yaitu bidang linguistik yang mempelajari morfem dan kombinasi-kombinasinya. Bagian dari struktur bahasa yang mencakup bagian–bagian kata, yaitu morfem.

Menurut keraf (1980), morfologi adalah bagian tata bahasa yang membicarakan bentuk kata. Pengertian dari bentuk kata belum jelas bila kita belum mengetahui lebih lanjut tentang wujudnya dan apa yang akan menjadi ciri-cirinya.

Kalau dikatakan morfologi membicarakan masalah bentuk-bentuk dan pembentukan kata, maka semua satuan bentuk sebelum menjadi kata, yakni morfem dengan segala bentuk dan jenisnya perlu dibicarakan. Lalu, membicarakan mengenai komponen atau unsur pembentukan kata itu, yaitu morfem, baik morfem dasar maupun morfem afiks, dengan berbagai alat proses pembentukan kata itu, yaitu afiks dalam proses pembentukan kata melalui proses afiksasi, pengulangan dalam proses pembentukan kata melalui proses reduplikasi, pengabungan dalam proses pembentukan kata melalui proses komposisi, dan sebagainya.

Proses morfologi adalah terbentukannya kata dalam bentuk dan makna sesuai dengan keperluan dalam satu tindak pertuturan. Bila bentuk dan makna yang terbentuk dari satu proses morfologi sesuai dengan yang diperlukan dalam pertuturan, maka bentuknya dapat dikatakan berterima, tetapi jika tidak sesuai dengan yang diperlukan, maka bentuk itu dapat juga kerena alasan sosial. Namun dalam kajian morfologi, alasan sosial itu kita singkirkan dulu, yang kita perhatikan atau pedulikan adalah alasan gramatikal semata. Alasan masuk dalam kajian sosiolinguistik (Chaer, 2004).

B. Morfologi dalam Linguistik

Di dalam hierarki linguistik, kajian morfologi berada diantara kajian fonologi dan sintaksis.
Kajian morfologi mempunyai kaitan baik dengan fonologi maupun dengan sintaksis. Keterkaitannya dengan fonologi jelas dengan adanya kajian yang disebut morfonologi atau morfofonemik yaitu ilmu yang mengkaji terjadinya perubahan fonem akibat adanya proses morfologi, seperti munculnya fonem /y/ pada dasar hari bila disufik-an
Hari + an  = (hariyan)
Atau pindahnya konsonan /b/ pada jawab apabila diberi sufiks-an
Jawab + an  = (jawaban)

Keterkaitan antara morfologi dan sintaksis tampak dengan adanya kajian yang disebut morfosintaksis. Keterkaitan ini karena adanya masalah morfologi yang perlu dibicarakan bersama dengan masalah sintaksis. Misalnya, satuan bahasa yang disebut kata, dan kajian morfologi merupakan satuan terbesar, sedangkan dalam kajian sintaksis merupakan satuan terkecil dalam pembentukan kalimat atau satuan sintaksis lainnya. Jadi, satuan bahasa yang disebut kata itu menjadi objek dalam kajian morfologi dan sintaksis.

Wacana adalah satuan bahasa terbesar atau tertinggi yang berisi satu kesatuan ujaran yang lengkap dan utuh dan dibangun oleh kalimat atau kalimat-kalimat yang dihubungkan secara kohesi dan koherensi (Kridalaksana: 1977).
Kalimat adalah satuan sintaksis yang dibangun oleh konstituen dasar (biasanya berupa klausa), dilengkapi dengan konjungsi (bila deperlukan), disertai dengan intonasi final (deklaratif, interogatif, imperatif atau interjektif).
Klausa adalah satuan sintaksis yang berinti adanya sebuah predikat dan adanya fungsi lainnya. Maka sering dikatakan klausa adalah konstruksi yang bersifat predikatif.
Frasa adalah satuan sintaksis berupa kelompok kata yang posisinya tidak melewati batas fungsi sintaksis (subjek, predikat, objek, atau keterangan).
Kata adalah satuan terkecil yang bisa dan dapat menduduki salah satu fungsi sintaksis (subjek, predikat, objek, atau keterangan). Sedangkan dalam morfologi merupakan satuan terbesar, dibentuk melalui salah satu proses morfologi (afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimisasi, dan konversi).
Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang memiliki makna (secara inheren).
Fonem adalah satuan bunyi terkecil (dalam kajian fonologi) yang dapat membedakan makna kata.
Fon adalah satuan bunyi bahasa yang dilihat tanpa memperhatikan statusnya sebagai pembeda makna kata (dalam kajian fonetik).

C. Morfologi dan Ilmu Kebahasaan Lain

Sebagai ilmu yang mengambil salah satu bagian dari kebahasaan, tentu saja morfologi mempunyai hubungan dengan ilmu kebahasaan lainnya, seperti:

1. Morfologi dengan Leksikologi
Leksikologi adalah ilmu mengenai leksikon yang satuannya disebut leksem. Morfologi lebih mengarah pada masalah proses pembentukan kata, sedangkan leksikologi lebih mengarah pada kata yang sudah jadi, baik terbentuk secara arbitrer, maupun yang terbentuk sebagai hasil proses morfologi.

Dalam hal semantik, kalau morfologi membicarakan makna gramatikal, maka leksikologi membicarakan makna leksikal dengan berbagai aspek dan masalahnya.

2. Morfologi dengan Leksikografi
Leksikografi adalah kelanjutan kerja dari leksikologi, dalam arti kalau hasil kerja leksikologi dituliskan, maka proses kerja penulisan itu adalah disebut leksikografi dan hasilnya adalah sebuah kamus. Jelas, dalam proses menyusun kamus bidang morfologi ini memegang peran penting. Sebagai besar proses penyusunan kamus mengurusi masalah bentuk dan pembentukan kata, dan yang sebagian lagi adalah berkenaan dengan kerja penyusunan definisi atau penjelasan mengenai makna kata.

3. Morfologi dengan Etimologi
Etimologi membicarakan pembentukan atau terbentuknya kata atau asal-usul yang tidak berkaidah, misalnya kata sinonimi berasal dari bahasa Yunani syn yang artinya “dengan” dan kata bahasa Yunani Onoma yang berarti “nama”.

4. Morfologi dengan Filologi
Filologi membicarakan kata yang terdapat dalam naskah dalam kaitannya dengan sejarah dan budaya.

Objek studi bahasa mencakup tiga hal pokok, yakni fonologi, morfologi, dan sintaksis. Ketiga cabang studi bahasa tersebut memiliki kaitan yang erat bahkan satu dengan yang lainnya tidak bisa dipisahkan secara patah arang. Dalam studi morfologi bahasa Indonesia, sebaiknya dibicarakan ihwal perhubungan atau keterkaitan antara morfologi dan dua cabang ilmu bahasa yang lainnya itu.

1. Keterkaitan Morfologi dengan Fonologi
Fonologi adalah bagian dari ilmu bahasa yang menyelidiki ilmu bunyi bahasa secara umum. Bagaimana bunyi bahasa itu dihasilkan oleh alat ucap manusia, mana sajakah jenis-jenis bunyi bahasa itu, dan apakah fungsi bunyi bahasa dalam ujaran, dipelajari dalam studi fonologi.

Fonetik adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa dalam tuturan, serta mempelajari bagaimana bunyi-bunyi bahasa itu dihasilkan oleh alat ucap manusia. Misalnya, bunyi /e/ se-rong, so-re, be-sok, dan dilafalkan [↋] jika berada dalam suku kata tertutup seperti dalam dompet, loket, dan tokek. Artinya bunyi /e/ memiliki dua jenis alofon. Jadi, fonetik mempelajari semua jenis bunyi bahasa tanpa memerhatikan apakah bunyi bahasa itu membedakan arti kata.

Fonemik adalah ilmu yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi membedakan arti. Bunyi-bunyi bahasa yang berfungsi membedakan arti kata disebut fonem. Dengan begitu, fonemik dapat diartikan penyelidikan mengenai sistem fonem suatu bahasa. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat fonem /k/ kareka ada kata batu dan batuk, ada kata peti dan petik, ada kata otak dan kotak, yang setiap pasangan kata tersebut berbeda artinya. Perbedaan arti tersebut menunjukkan bahwa dalam bahasa Indonesia ada fonem /k/.

2. Keterkaitan Morfologi dengan Sintaksis
Struktur kalimat menentukan struktur kata atau bisa juga dikatkan sebaliknya, bahwa struktur kalimat ditentukan oleh struktur kata.
Perumusan-perumusan jenis kalimat berikut merupakan bukti-buktinya.
- Kalimat Pasif Umum adalah kalimat pasif yang predikatnya berupa kata kerja yang berimbuhan di-, seperti kalimat, puisi itu ditulis oleh Toto Sudarso Bahtiar.
- Kalimat Dwitransif adalah kalimat yang predikatnya berupa kata kerja yang diikuti dua objek, seperti kalimat, karyawan itu membukakan bosnya pintu ruangan.
Begitu pula betul tidaknya sebuah kalimat bergantung pada bentuk predikatnya. Kalimat nomor (1) tidak betul karena bentuk kata predikatnya tidak sesuai dengan konteks kalimat. Sebaliknya, kalimat nomor (2) betul karena bentuk kata predikatnya sudah disesuaikan dengan konteks kalimat.

Dalam hatinya mengandung rasa penyesalan yang luar biasa.
( K + P + O )
Dalam hatinya terkandung rasa penyesalan yang luar biasa.
( K + P + S )
Karena eratnya keterkaitan antara ilmu tentang bentuk kata atau morfologi dan ilmu tentang kalimat atau sintaksis maka lahir istilah morfosintaksis.



Referensi :
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Mulyono, Iyo. 2013. Morfologi. Bandung: CV Yrama Widya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar