A. Makna Gramatikal
Makna gramatikal mempunyai hubungan erat dengan komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam proses pembentukan kata. Setiap makna gramatikal dari suatu proses morfologi akan menampakkan bentuk dasarnya.
Contohnya:
- Berdasi, makna gramatikalnya adalah ‘memakai dasi’
- Berkuda makna gramatikalnya adalah ‘mengendarai kuda’. (Chaer, 2008:29).
Setiap makna gramatikal dari suatu proses morfologi akan menampakkan makna atau bentuk dasarnya. (Chaer, 2008: 60).
B. Hasil Proses Pembentukan
Suatu kata dapat digolongkan atas dua macam, yaitu kata yang bermorfem tunggal atau monomorfermis dan kata yang bermorfem lebih dari satu atau polimorfemis. Suatu kata yang monomorfemis tidak akan mengalami peristiwa pembentukan sebelumnya sebab morfem itu merupakan satu-satunya unsur atau anggota kata. Akan tetapi, ini berbeda dengan suatu kata yang polimorfemis. Morfem-morfem yang menjadi anggota kata ini mengalami peristiwa pembentukan sebelumnya. Peristiwa pembentukan ini biasanya disebut proses morfologi. (Muslich, 2010:32).
Proses morfologis adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiksasi, reduplikasi, komposisi, akronimisasi dan konversi Proses morfologis melibatkan komponen (1)bentuk dasar (2)alat pembentuk (3) makna gramatikal (4) hasil proses pembentukan(Chaer, 2008:25).
1) Ciri kata yang mengalami proses morfologis
Dalam bahasa Indonesia, bentuk dasar tidak selalu morfem tunggal, tetapi mungkin berupa morfem kompleks.
Misalnya:
- Membelajarkan bentuk dasarnya adalah belajar
- Bersusah payah bentuk dasarnya adalah susah payah
Dilihat dari wujudnya, bentuk dasar dapat berupa pokok kata bahkan kelompok kata.
Misalnya:
- Berjuang, bentuk dasarnya adalah juang
- Ketidakmampuan, bentuk dasarnya adalah tidak mampu
Ciri lain bahwa satu kata dikatakan mengalami proses morfologis ialah penggabungan atau perpaduan morfem-morfem itu mengalami perubahan arti. Misalnya:
- Di samping kata semakin , terdapat juga kata semangkin (biasanya ragam bahasa pejabat)
- Di samping kata siku terdapat juga kata sikut, dan lain-lain.
Penambahan [n] pada semakin dan [t] pada siku tidak diikuti oleh perubahan arti sebab itulah perubahan pada kata di atas tidak termasuk proses morfologis (Muslich, 2010:33).
2) Tahap pembentukan
Bentuk dasar dalam proses morfologi dapat berupa akar, polimorfemis atau bentuk turunan, dan dapat pula melalui bentuk perantara. Oleh karena itu, berdasarkan tahap prosesnya kita dapat membedakan adanya pembentukan setahap, bertahap, dan melalui bentuk perantara.
a. Pembentukan setahap terjadi kalau bentuk dasarnya berupa akar atau morfem dasar (baik bebas maupun terikat).
Contohnya :
- me- + beli = membeli
- ber- + air = berair
b. Pembentukan bertahap terjadi ketika bentuk dasar yang mengalami proses morfologi itu berupa bentuk polimorfemis yang sudah menjadi kata (baik kata berimbuhan, kata berulang, maupun kata gabung). Pembentukan bertahap ini menjadi pada dasar yang sudah merupakan hasil dari proses pembentukan sebelumnya.
Misalnya :
- ber- + (pakai + an) = berpakaian
Dalam kata berpakaian di atas didukung oleh makna gramatikal kata berpakaian yang berarti ‘ memakai pakaian’. Jadi, jelas prefiks ber- diimbuhkan setelah sufiks –an diimbuhkan pada akar pakai.
Pembentukan bertahap dalam proses reduplikasi yang dimulai dengan proses afiksasi dilanjutkan dengan proses reduplikasi.
Misalnya:
- Lari + ber-an = berlarian + reduplikasi = berlari-larian
Pembentukan kata yang dimulai dengan proses komposisi dilanjutkan dengan proses komposisi lagi.
Misalnya:
- Kereta + api = kereta api + ekspres = kereta api ekspres
Pembentukan kata yang dimulai dengan proses komposisi dilanjutkan dengan proses afiksasi.
Misalnya:
- Jual + beli = jual beli + ber = berjual beli
c. Pembentukan kata melalui bentuk kata perantara adalah proses pembentukan nomina terjadi setelah pembentukan verba.
Misalnya:
- Mengajar, menjadi pengajar atau pengajaran
- Ajar, menjadi belajar atau pelajar
C. Pembentukan Kata di Luar Proses Morfologis
Proses morfologis mencatat hal-hal deskriptif dalam pembentukan kata-kata. Ada enam pembentukan kata di luar proses morfologis, antara lain:
1) Akronim, adalah kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
Contohnya :
- Mayjen = mayor jendral
- Rudal = peluru kendali
2) Abreviasi, adalah apa yang sehari hari disebut ‘singkatan’. Biasanya diambil huruf terdepan
Contohnya :
- PPP = Partai Persatuan Pembangunan
- PGRI = Persatuan Guru Republik Indonesia
3) Abreviasi-akronim, adalah gabungan antara akronim dengan abreviasi.
Contohnya :
- Polri = Polisi Republik Indonesia
- Pemilu = Pemilihan umum
4) Kontraksi, adalah pengerutan
Contohnya :
- Begitu = bagai itu
- Begini = bagai ini
5) Kliping, adalah pengambilan suku khusus dalam kata yang selanjutnya dianggap sebagai kata baru.
Contohnya :
- Influenza = flu
- Professional = prof
6) Afiksasi pungutan, adalah afiksasi dari hasil pungutan bahasa asing.
Contohnya :
- {anti-} = antikomunis, antikekerasan
- {non-} = nonformal, non-Amerika
Dalam proses lebih lanjut, jika sudah tidak terasa keasingannya, ia masuk sebagai keluarga afiks bahasa Indonesia.
Misalnya, -wan, -wati, -isme, -isasi yang amat produktif, dan karenanya tidak terasa lagi bahwa afiks-afiks tersebut sebenarnya hasil pungutan dari bahasa asing (Muslich, 2010:36).
Referensi:
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka cipta.
Muslich, Masnur. 2010. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar