Minggu, 13 Januari 2019

PROBLEMA MORFOLOGIS DALAM BAHASA INDONESIA

Alifiyah Mila Rizka (176020)


Pemakaian kata dalam bahasa Indonesia juga menimbulkan berbagai macam problema. Terdapat tujuh pengelompokan problema, sebagai berikut:
1. Problema Akibat Bentukan Baru
Pada kalimat “keberhasilan yang kamu capai selama ini harus kamu pertahankan” terdapat kata keberhasilan yang kata tersebut merupakan bentukan baru. Terdapat kontruksi berupa prefiks + prefiks + bentuk dasar + sufiks. Hal yang demikian tidak ditemukan sebelumnya. Pembentuka kata keberhasilan tidak dilakukan secara serentak, namun dengan bertahap. Pertama, kontruksi dibentuk dari gabungan {ber-} dan henti. Kemudian , kontruksi berhenti dibentuk dengan menambahkan {men-} dan {-kan} sehingga menjadi kata memberhentikan. {men-} dan {-kan} berperan sebagai simulfiks.

2. Problema Akibat Kontaminasi
Kontaminasi merupakan gejala bahasa yang mengacaukan kontruksi kebahasaan. Dua kontruksi yang mestinya berdiri sendiri secara terpisah kini dipadukan dan berakibat menjadi kacau. Misalnya kontruksi “diperlebarkan” yang mestinya berdiri sendiri “diperlebar” atau”dilebarkan”. Oleh kerena itu, kontruksi “diperlebarkan” dianggap kontruksi yang rancu.

3. Problema Akibat Unsur Serapan
Adanya unsur bahasa asing yang terserap ke dalam bahasa Indonesia juga membuat problema tersendiri. Misalnya pada bentuk kata data-data, datum-datum, fakta-fakta, faktum-faktum yang berasal dari bahasa latin yang berarti jamak dan tunggal. Ternyata yang berhasil diserap ke dalam bahasa Indonesia hanya bentuk jamaknya saja, yaitu data dan fakta. Oleh karena itu, bentuk data, fakta, dianggap sebagai bentuk tunggal. Kata data-data dan fakta-fakta dianggap benar, sedangkan datum-datum dan faktum-faktum dianggap salah.

4. Probema Akibat Analogi
Analogi merupakan bentukan bahasa dengan menurut contoh yang sudah ada. Sebagai contoh pada bentuk ketidakadilan, kita dapat membentuk kontruksi ketidakberesan, ketidakbaikan, dan seterusnya. Kata serapan juga ada yang dianalogikan secara salah. Misalnya pada kata alternative dijadikan alternasi sebagai akibat analogi yang salah terhadap bentuk produktif dan produksi, kompetitif dan kompetisi, edukatif dan edukasi. Bentuk yang berakhiran dengan if biasanya berkelas kata sifat, sedangkan yang berakhiran si biasanya berkelas kata benda.

5. Problema Akibat Perlakuan Kluster
Kluster atau konsonan rangkap mengundang problema tersendiri dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan bahwa kata bahasa Indonesia asli tidak mengenal kluster. Kata yang berkluster berasal dari unsur serapan. Apabila dibentuk dengan afiks yang bernasal misalnya {meN-(kan/i)} dan {peN-(an)} akan menimbulkan problema. Sebagai contoh:
I Memprogramkan
Mentraktir
Mentransfer
II Memrogramkan
Menraktir
Menransfer
Apabila menurut system bahasa Indonesia, kita cenderung memilih deretan ke II. Tetapi terdapat beberapa kelemahannya, antara lain:

  • Bentuk serapan di atas berbeda sifatnya dengan bentuk dasar bahasa Indonesia asli, yaitu konsonan rangkap dan tidak (walaupun keduanya berawal dengan k, p, t, dan s)
  • Apabila diluluhkan, kemungkinan besar akan menyulitkan penelusuran kembali bentuk aslinya.
  • Ada beberapa bentuk yang dapat menimbulkan kesalahpahaman arti


6. Problema Akibat Proses Morfologis Unsur Serapan
Masalah ini ada kesamaan dengan masalah sebelumnya, yaitu berkenaan dengan perlakuan unsure asing. Hanya saja yang menjadi tekanan di sini adalah proses morfologisnya. Misalnya menterjemahkan dan menerjemahkan.
Pada dasarnya bentuk serapan dapat dikelompokkan menjadi dua:

  • Bentuk serapan yang sudah lama menjadi keluarga bahasa Indonesia sehingga sudah tidak terasa lagi keasingannya
  • Bentuk serapan yang masih baru sehingga masih terasa keasingannya

Bentuk serapan kelompok pertama dapat diperlakukan secara penuh mengikuti system bahasa Indonesia, sedangkan kelompok dua tidak. Dapat diketahui bentuk kata terjemah merupakan kelompok pertama sehingga apabila bentuk terjemah digabungkan dengan {meN-kan} akan menjadi menerjemahkan karena fon [t] yang mengawali bentuk dasar akan luluh.

7. Problema Akibat Perlakuan Bentuk Majemuk
Problema ini terlihat pada persaingan pemakaian bentuk pertanggungjawaban dan pertanggungan jawab. Pendapat pertama menganggap unsure-unsur bentuk tanggung jawab padu sehingga tidak mungkin disisipi bentuk lain diantaranya. Sedangkan pendapat kedua menganggap unsure-unsur bentuk tanggung jawab renggang sehingga memungkinkan disisipi bentuk lain di antaranya.


Referensi:
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

PERUBAHAN BENTUK KATA

Alifiyah Mila Rizka (176020)

Perubahan bentuk kata pada umumnya terjadi karena adanya pertumbuhan dalam bahasa sehingga dapat terjadinya perubahan pada beberapa kata kata asli. Perubahan-perubahan bentuk kata dalam bahasa sangat lazim disebut sebagai gejala bahasa. Badudu (1981: 47) pada bukunya yang berjudul Pelik-Pelik Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa gejala bahasa merupakan peristiwa yang menyangkut bentukan-bentukan kata atau kalimat dengan segala macam proses pembentukannya.

Terdapat beberapa macam gejala bahasa, yakni sebagai berikut.
1. Analogi
Analogi merupakan suatu bentukan bahasa dengan meniru kata yang sudah ada. Misalnya pada kata pemuda-pemudi, mahasiswa-mahasiswi. Kedua bentuk kata tersebut terdapat perbedaan fonem, yaitu fonem /a/ dan /i/ pada akhir kata. Perbedaan fonem itu berpengaruh pada perbedaan makna. Fonem /a/ dan /i/ berfungsi menyatakan perbedaan jenis kelamin.

Selain pembentukan-pembentukan baru yang menyatakan perbedaan jenis kelamin, terdapat pula pembentukan baru yang dibentuk dari kata-kata asli seperti sosialisme, pancasilais (Keraf, 1980: 133).

2. Adaptasi
Adaptasi merupakan perubahan bunyi dan struktur bahasa asing menjadi bunyi dan struktur yang sesuai dengan penerimaan pendengaran dan juga ucapan lidah pada bangsa pemakai bahasa yang dimasukinya. Bahasa Indonesia selalu dipengaruhi oleh adanya bahasa asing. Bahasa asing tersebut akan mangalami penyesuaian atau adaptasi sehingga dapat diterima oleh bangsa pemakai bahasa yang dimasukinya.

Terdapat dua jenis adaptasi atau penyesuaian.
a. Adaptasi fonologis, adalah penyesuaian perubahan bunyi.
Misalnya:

  • Kata dhahir (Arab) menjadi lahir.
  • Kata kraton (Jawa) menjadi keraton.

Kata dhahir merupakan bahasa asing dari bahasa Arab dan lahir merupakan bahasa yang dimasukinya.
b. Adaptasi morfologis, adalah penyesuaian struktur bentuk kata.
Misalnya:

  • Kata prahara (Sanskerta) menjadi perkara.

Kata prahara merupakan bahasa asing dari bahasa Sanskerta dan perkara merupakan bahasa yang dimasukinya.

3. Kontaminasi
Kontaminasi dapat diartikan sebagai kerancuan. Rancu berarti campur aduk atau kacau. Pencapuradukan dua unsur bahasa yang tidak wajar, dapat berupa pencapuran antara kata, frasa, imbuhan, atau kalimat.

Misalnya pada kata dinasionalisirkan, dipublisirkan.

Terdapat kerancuan pada akhiran kata tersebut. Baik akhiran {-ir} (Belanda) maupun akhiran {-kan} memiliki fungsi yang sama yaitu membentuk kata kerja. Dinasionalisirkan berasal dari tumpang tindih dua kata dinasionalisir dan dinasionalisasikan. Peristiwa tersebut dinamakan kontaminasi bentukan kata.

4. Hiperkorek
Hiperkorek merupakan proses membetulkan bentuk yang sudah betul kemudian malah menjadi salah atau tidak baku.
Misalnya:

  • Fonem /s/ menjadi /sy/; Insaf menjadi insyaf
  • Fonem /p/ menjadi /f/; Paham menjadi faham


5. Varian
Gejala varian sering kita jumpai dalam ucapan pejabat pada Era Orde Baru. Vokal /a/ pada sufiks –kan menjadi /e/.
Misalnya:

  • Diambilkan menjadi diambilken
  • Membacakan menjadi membacaken


6. Asimilasi
Asimilasi berarti proses penyamaan atau penghampirsamaan bunyi yang tidak sama. Misalnya:

  • Alsalam > assalam > asalam
  • Mertua > menua


7. Disimilasi
Disimilasi merupakan proses berubahnya dua buah fonem yang sama menjadi tidak sama. Misalnya:

  • Citta (Sanskerta) menjadi cipta
  • Rapport (Belanda) menjadi lapor


8. Adisi
Adisi merupakan perubahan yang terjadi dalam suatu tuturan yang ditandai oleh penambahan fonem. Gejala adisi dibedakan menjadi tiga:
a. Protesis, yaitu proses penambahan fonem pada awal kata.

  • Lang menjadi elang
  • Mas menjadi emas

b. Epentesis, yaitu proses penambahan fonem di tengah kata.

  • Racana menjadi rencana
  • Kapak menjadi kampak

c. Paragog, proses penambahan fonem pada akhir kata.

  • Lamp menjadi lampu
  • Adi menjadi adik


9. Reduksi
Reduksi merupakan peristiwa pengurangan fonem dalam satu kata. Gejala reduksi dapat dibedakan menjadi tiga:
a. Aferesia, yaitu proses penghilangan fonem pada awal kata.

  • Telentang menjadi tentang
  • Tetapi menjadi tapi

b. Sinkop, yaitu proses penghilangan fonem pada tengah kata.

  • Sahaya menjadi saya
  • Bahasa menjadi base

c. Apokop, yaitu proses penghilangan fonem pada akhir kata.

  • Pelangit menjadi pelangi
  • Import menjadi impor


10. Metatesis
Metatesis merupakan perubahan kata yang terjadi karena fonem-fonemnya bertukar tempat.
Misalnya:

  • Almari menjadi lemari
  • Lebat menjadi tebal


11. Diftongisasi
Diftongisasi merupakan proses perubahan suatu monoftong menjadi diftong.
Misalnya:

  • Sodara menjadi saudara
  • Pulo menjadi pulau


12. Monoftongisasi
Monoftongisasi merupakan proses perubahan suatu diftong menjadi monoftong.
Misalnya:

  • Bakau menjadi bako
  • Tunai menjadi tune


13. Anaptiksis
Anaptiksis merupakan proses penambahan suatu bunyi dalam suatu kata guna melancarkan ucapannya.
Misalnya:

  • Putra menjadi putera
  • Srigala menjadi serigala


14. Haplologi
Haplologi merupakan proses penghilangan suku kata yang ada di tengah-tengah kata. Misalnya:

  • Budhidaya menjadi budaya
  • Mahardhika menjadi merdeka



Referensi:
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

FUNGSI MORFEM

(imbuhan, ulang, dan kontruksi majemuk)


Fungsi morfem adalah kemampuan morfem untuk membentuk kelas-kelas kata tertentu. Dalam bahasa Indonesia, ada morfem-morfem yang dapat membentuk kelas kata baru (Muslich, 2008: 94-97).

Hal tersebut dapat terjadi karena adanya beberapa proses seperti di bawah ini:
1. Fungsi Morfem Imbuhan (Afiks)
Menurut Chaer (2015: 23) morfem afiks adalah morfem yang tidak dapat menjadi dasar dalam pembentukan kata, tetapi hanya menjadi unsur pembentuk dalam proses afiksasi. Dalam hal ini fungsi afiks atau imbuhan dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Morfem imbuhan sebagai pembentuk kata benda
Adapun morfem imbuhan pembentuk kata benda ialah {peN-}, {per-}, {pe-}, {-an}, {-wan}, {ke-an}, {peN-an}, {per-an}, {-el-} .
Contoh :
Morfem Imbuhan
Kata Dasar + Kelas Kata
Hasil Bentukan + Kelas Kata

peN-
Tulis   (Kerja)
Penulis   (Benda)

per-
Tapa   (Kerja)
Pertapa   (Benda)

-an
Makan   (Kerja)
Makanan   (Benda)

wan-
Olahraga   (Kerja)
Olahragawan   (Benda)

per-an
Atur    (Kerja)
Peraturan    (Benda)

peN-an
Beri    (Kerja)
Pemberian   (Benda)

ke-an
Abadi   (Sifat)
Keabadian    (Benda)

b. Morfem imbuhan sebagai pembentuk kata kerja
Adapun morfem imbuhan pembentuk kata kerja ialah {meN-}, {ber-}, {di-}, {ter-}, {meN-kan}, {meN-i}, {di-kan}, {di-i}. {ter-kan}.
Contoh:
Morfem Imbuhan
Kata Dasar + Kelas Kata
Hasil Bentukan + Kelas Kata

ber-
Layar    (Benda)
Berlayar    (Kerja)

meN-
Putih   (Sifat)
Memutih   (Kerja)

ter-
Gunting  (Benda)
Tergunting   (Kerja)

ter-i
Ludah    (Benda)
Terludahi   (Kerja)

di-kan
Besar   (Sifat)
Dibesarkan   (Kerja)

di-
Gunting   (Benda)
Digunting    (Kerja)

meN-kan
Tinggi   (Sifat)
Meninggikan    (Kerja)

c. Morfem imbuhan sebagai pembentuk kata sifat
Adapun morfem imbuhan pembentuk kata sifat ialah {meN-}, {ber-}, {ter-}, {peN-}, {ke-an}, {-em-}.
Contoh:
Morfem Imbuhan
Kata Dasar + Kelas Kata
Hasil Bentukan + Kelas Kata

ber-
Satu    (Benda)
Bersatu    (Sifat)

meN-
Kantuk    (Benda)
Mengantuk    (Sifat)

-em-
Getar    (Benda)
Gemetar    (Sifat)

ter-
Ikat   (Kerja)
Terikat   (Sifat)

peN-
Malu   (Sifat)
Pemalu   (Sifat)

ke-an
Girang   (Sifat)
Kegirangan (Sifat)


2. Fungsi Morfem Ulang (Reduplikasi)
Reduplikasi atau pengulangan adalah bentuk satuan kebahasaan merupakan gejala yang terdapat dalam banyak bahasa di dunia ini. Reduplikasi morfologi dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk berafiks dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh, pengulangan berubah bunyi, dan pengulangan sebagian (Chaer, 2015: 178-181).

Fungsi morfem ulang dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Morfem ulang sebagai pembentuk kata benda
Contohnya:
Tulis                     Tulis-menulis
(Kt. Kerja)           (Kt. Benda)
Potret                    Potret-memotret
(Kt. Kerja)            (Kt. Benda)
b. Morfem ulang sebagai pembentuk kata tugas
Contoh:
Cepat              Cepat-cepat ‘dengan segera sekali’
(Kt. Sifat)        (Kt. Kerja)

“Melihat ibu pulang, Ani cepat-cepat membereskan mainannya”
Contoh:
Jauh                 Jauh-jauh ‘jangan mendekat’
(Kt. Sifat)        (Kt. Kerja)


3. Fungsi Morfem Konstruksi Majemuk (Komposisi)
Komposisi adalah proses penggabungan dasar dengan dasar (biasanya berupa akar maupun bentuk imbuhan) untuk mewadahi suatu “konsep” yang belum tertampung dalam sebuah kata. Misalnya dalam bahasa Indonesia kita sudah memiliki kosa kata ‘merah’ yaitu salah satu jenis warna. Tetapi, dalam kehidupan sehari-hari kita tidak hanya menemukan satu warna merah. Ada warna merah seperti darah, ada warna merah seperti buah jambu air, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, terdapat komposisi atau pemajemukan untuk membedakan setiap maknanya, misalnya, merah jambu, merah darah, merah delima, dan lain-lain (Chaer, 2015: 209).

Contoh:

  • Darah (N) + Daging (N) = Darah daging (Kt. Benda)
  • Suami (N) + Istri (N) = Suami istri  (Kt. Benda)
  • Anak (N) + Cucu (N) = Anak cucu (Kt. Benda)

Jika dilihat dari segi makna, komposisi memiliki arti tersendiri dari gabungan dua kata dasar yang berbeda tersebut. Makna dilihat secara gramatikal, bukan lagi leksikal.


Referensi:
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksar

ARTI MORFEM

(Imbuhan, ulang, dan kontruksi majemuk)


A. Arti Morfem Imbuhan
Muslich (2008: 66) menyatakan sebenarnya pembicaraan masalah arti morfem imbuhan ini tidak dapat dipisahkan dengan fungsi morfem itu sendiri. Yang dimaksud dengan arti pada pembicaraan ini bukanlah arti suatu kata yang terdapat dalam kamus, arti leksikal tetapi arti sebagai akibat bergabungnya morfem satu dengan lainnya, arti structural atau arti gramatikal.

Menurut Muslich (2008: 66-69) menyatakan morfem-morfem imbuhan yang terdapat dalam bahasa Indonesia sebagai berikut :
1. Morfem imbuhan {meN-}
a. Melakukan tindakan seperti yang disebut pada bentuk dasar.
Misalnya:

  • Mengambil : “melakukan tindakan ambil”
  • Menjual : “melakukan tindakan jual”

b. Menjadi seperi tersebut dalam bentuk dasar ‘atau’ dalam keadaan seperti bentuk dasar.
Misalnya:

  • Melarut : “menjadi / dalam keadaan larut”
  • Menurun : “menjadi / dalam keadaan turun”

c. Membuat kesan seperti pada bentuk dasar dengan sengaja.
Misalnya:

  • Mengalah : “membuat kesan kalah dengan sengaja”
  • Membisu : “membuat kesan bisu dengan sengaja” (Muslich, 2008: 67)

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, imbuhan {meN-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. Pergi ke … atau menuju ke…
Misalnya:

  • Mendarat : “menuju ke darat”

b. ‘mencari’ atau ‘mengumpulkan’
Misalnya:

  • Mencari : “mencari mengumpulkan rumput”

c. ‘Menjadi sebagaimana yang disebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Membuah : “menjadi buah”

d. ‘membubuhkan apa yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Mencap : “membubuhkan cap”

e. ‘membuat apa yang tersebut padabentuk dasar’
Misalnya:

  • Menyate  : “membuat sate”

f. ‘berlaku seperti yang disebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Merajalela : “berlaku seperti rajalela”

g. ‘melakukan tindakan dengan alat seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Menyabit : “menggunakan sabit”

h. ‘meminum atau menghisap seperti yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Mengopi : “meminum kopi”

i. ‘menyerupai seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Membukit : “menyerupai bukit”

j. ‘dalam keadaan berfungsi sebagai bentuk dasar’
Misalnya:

  • Menjanda : “dalam keadaan berfungsi sebagai janda”

k. ‘Mengeluarkan bunyi seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Mengeong : “mengeluarkan bunyi ngeong”

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, imbuhan {meN-} mempunyai arti seperti berikut ini:
a. ‘menjadi seperti bentuk dasar dengan sendirinya’
Misalnya:

  • Menguning (padi) : “menjadi kuning dengan sendirinya”

b. ‘menimbulkan kesan seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Memanjang : “menimbulkan kesan panjang” (Muslich, 2008: 68-69)


2. Morfem imbuhan {ber-}
Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan imbuhan {ber-} dapat dikelompokkan menjadi empat kelas yaitu berkelas kata kerja, benda, sifat (adjektiva)ndan bilangan (numeralia).

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja, maka imbuhan {ber-} mempunyai arti sebagai berikut:
a. ‘dalam keadaan seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Berada : “dalam keadaan ada”

b. ‘menjadi seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Berubah : “menjadi ubah”

c. ‘melakukan menjadi bentuk dasar’
Misalnya:

  • Bekerja : “melakukan kegiatan kerja”

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda imbuhan {ber-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. ‘Memakai atau mengenakan’
Misalnya:

  • Bersepatu : “memakai atau mengenakan sepatu”

b. ‘Mempunyai apa yang tersebut pada bentuk dasarnya’
Misalnya:

  • Bersuami : “mempunyai suami”

c. ‘Mengeluarkan’
Misalnya:

  • Berdarah : “mengeluarkan darah”

d. ‘Mengerjakan atau menggarap’
Misalnya:

  • Bersawah : “mengerjakan atau menggarap sawah”

e. ‘Mengendarai atau mempergunakan’
Misalnya:

  • Berkuda : “mengendarahi kuda”

f. ‘Bermain seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Bertinju : “bermain tinju” (Muslich, 2008: 69-70)


3. Morfem imbuhan {di-}
Artinya imbuhan {di-} hanya satu yaitu, ‘menyatakan suatu tindakan yanag pasif.
Misalnya:

  • Diambil
  • Diangkat. (Muslich, 2008: 70)


4. Morfem imbuhan {ter-} 
Artinya bentuk dasar yang dapat bergandeng dengan imbuhan ter- adalah bentuk dasar yang berkelas kata kerja, kata sifat, dan kata benda.

Bila berawalan {ter-} melekat pada sebuah kelas kata benda maka yang timbul adalah sebagai berikut:
a. ‘tak sengaja di (seperti bentuk dasar)’
Misalnya:

  • Tercangkul : “tak sengaja dicangkul”

b. ‘Dapat di (seperti bentuk dasar) + kan/i
Misalnya:

  • Tergambar : “dapat digambarkan”

Bila bentuk dasarnya berkelas kata kerja maka imbuhan {ter-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. ‘menyatakan bahwa pekerjaan yang dilakukan tidak disengaja
Misalnya:

  • Tersentuh : “tangannya tersentuh orang asing”

b. ‘Dapat atau sanggup’
Misalnya:

  • Terangkat : “meskipun berat, batu itu terangkat juga”

c. ‘Menyatakan bahwa pekerjaan sudah selesi (perfektif)’
Misalnya:

  • Tertulis : “pendapat dia tertulis dirumusan hasil seminar”

d. ‘Ketiba-tibaan’
Misalnya:

  • Terbangun : “ia terbangun karena suara yang menggelegar”


5. Morfem imbuhan {peN}  
Arti imbuhan morfem {peN-} sangat ditentukan oleh kelas kata bentuk dasarnya.

Apabila bentuk katanya berkelas kata kerja maka {peN-} mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. ‘orang yang (biasa) melakuakan pekerjaan yang disebut pada bentuk dasar
Misalnya:

  • Pengarang : ‘orang yang (biasa) melakukan mengarang’.

b. ‘alat yang dipakai untuk melakaukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Penggaris : ‘alat untuk menggaris’

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat maka imbuhan {peN-} mempunyai arti sebagai berikut:
a. ‘yang memiliki sifat yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Periang : “yang mempunyai sifat riang”

b. ‘yang menyebabkan adanya sifat yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Pengeras : “yang menyebabkan jadi keras”

c. ‘orang yang mudah atau cepat menjadi seperti tersebut dalam bentuk dasar’
Misalnya:

  • Pemarah : “orang yang mudah menjadi marah”

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda, maka imbuhan {peN-} mempunyai arti ‘yang biasa melakuakan tindakan / pekerjaan yang berhubungan denagn benda yang tersebut pada bentuk dasarnya’. Misalnya:

  • Pelaut : “orang yang biasa melaut”
  • Perokok : “orang yang biasa merokok” (Muslich, 2008: 72)


6. Morfem imbuhan {pe-}
Pada penggalan terdahulu telah dijelaskan bahwa morfem imbuhan {pe-} mempunyai kesejajaran dengan morfem imbuhan {ber-}, sedangkan morfem imbuhan {peN-} mempunyai kesejajaran dengan morfem imbuhan {meN-}. Pernyataan itu dapat dibuktikan dengan deretan contoh berikut
Misalnya:

  • Pelari : “orang yang berlari”
  • Petani : “orang yang bertani”

Bandingkan dengan:

  • Penulis : “orang yang menulis” (Muslich, 2008: 73-74)

7. Morfem imbuhan {per-}
Morfem imbuhan {per-} dapat bergabung dengan bentuk dasar yang berkelas kata benda, bilangan, dan sifat. Apabila bergandengan dengan bentuk dasar kata benda, {per-} mempunyai arti ‘menjadikan (objek) sebagai’ atau ‘memperlakukan (objek) sebagai’; sedangkan apabila bergandengan dengan bentuk kata bilangan, imbuhan {per-) mempunyai arti ‘membuat jadi’; dan apabila bergandengan dengan bentuk dasar yang berkelas kata sifat, {per-}mempunyai arti ‘membuat jadi lebih’.
Misalnya:

  • Peristri : “menjadikan (objek) sebagai istri”
  • Perbudak : “memperlakukan (objek) sebagai budak”
  • Pertiga : “membuat jadi tiga”
  • Perdalam : “membuat jadi lebih dalam” (Masnur, 2008: 74-75)


8. Morfem imbuhan {se-}
Morfem imbuhan {se-} bisa bergandengan dengan bentuk dasar yang berkelas kata benda.
Misalnya:

  • Sekelas
  • Sejalan

Imbuhan {se-} yang melekat pada bentuk dasar kata benda mempunyai arti sebagai berikut:
a. Menyatakan “satu”
Misalnya:

  • Sebuah : “satu buah”
  • Seminggu : “satu minggu”

b. Menyatakan “seluruh”
Misalnya:

  • Sedunia : “seluruh dunia”
  • Seisi : “seluruh isi”

c. Menyatakan “sama” atau “sebesar…”
Misalnya:

  • Sekepala : “sama dengan kepala” atau “sebesar kepala”
  • Sekucing : “sama dengan kucing” atau “sebesar kucing”

Morfem {se-} bisa bergabung dengan penggolong benda.
Misalnya:

  • Seorang
  • Seekor

Morfem {se-} bias melekat dengan kata sifat.
Misalnya:

  • Sebaik
  • Secantik. (Muslich, 2008: 75-76)


9. Morfem imbuhan {ke-}
Morfem imbuhan {ke-} melekat pada bentuk dasar yang berkelas kata bilangan. Ada juga yang melekat pada bentuk dasar selain kata bilangan.

Apabila imbuhan {ke-} bergandengan dengan bentuk dasar berkelas kata bilangan, maka imbuhan itu mempunyai arti sebagai berikut:
a. ‘menyatakan kumpulan yang terdiri atas jumlah yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Kelima (anak itu anak saya) ‘kumpulan anak yang yang terdiri atas lima orang’.

b. ‘menyataka urutan seperti apa yang tersebut pada bentuk dasarnya’
Misalnya:

  • (anak) kelima ‘urutan amak yang nomor lima’ (Muslich, 2008:76)


10. Morfem imbuhan {kan-}
Morfem {kan-} bisa melekat ada kata benda, tentu bisa dengan kata kerja, morfem imbuhan {kan-}bisa melekat pada kata sifat.

Arti morfem afiks {kan-} bisa dideskripsikan seperti ini:
a. ‘membuat (objek) seperti bentuk dasar’ atau ‘kausatif’
Misalnya:

  • Meninggikan : “membuat (objek) menjadi tinggi’

b. ‘melakukan sesuatu untuk orang lain’ atau me…(objek) untuk orang lain’ atau ‘benefaktif’
Misalnya:

  • Membacakan : “membaca untuk orang lain”

c. ‘melakukan sesuatu secara intensif’
Misalnya:

  • Mendengarkan : “mendengarkan dengan intensif”

d. ‘melakukan seperti bentuk dasar bentuk dasar pada/tentang sesuatu’ atau ‘transitif’
Misalnya:

  • Mengadukan : “mengadu (pada seseorang) tentang sesuatu” (Muslich, 2008: 77)


11. Morfem imbuhan {-i}
Morfem {-i} biasanya bergandeng dengan bentuk dasar kompleks yang berkelas kata kerja dan biasannya mempunyai dua kemungkinan arti sebagai berikut:
a. Menyatakan bahwa ‘tindakan’ yang tersebut pada bentuk dasar itu dilakukan berulang-ulang
Misalnya:

  • Melempari : “melempar berulang-ulang”

b. Menyatakan ‘melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasarnya di suatu tempat
Misalnya:

  • Menulisi  : “menulis di…”

c. Melakukan sesuatu atau terjadi sesuatu pada…
Misalnya:

  • Mengenai : “mengena pada” (Muslich, 2008: 78)


12. Morfem imbuhan {-an}
Morfem imbuhan {-an} dapat bergabung dengan bentuk dasar kata benda, kata kerja, kata sifat dan kata bilangan.

Apabila bergandeng dengan bentuk dasar kata benda, morfem imbuhan {-an} mempunyai kemungkinan arti, yakni:
a. Menyatakan “tiap-tiap”
Misalnya:

  • Meteran “tiap-tiap meter”

b. ‘kumpulan’ atau ‘yang banyak…nya’ atau ‘luas…nya’
Misalnya:

  • Durian : “banyak duriannya”

c. ‘yang ada di…’
Misalnya:

  • Bawahan : “yang ada di bawah”

Apabila bergandeng dengan bentuk dasar yang berkelas kata kerja, morfem imbuhan {-an} mempunyai kemungkinan arti, misalnya:
a. Menyatakan ‘hasil’ atau akibat dari tindakan yang tersebut pada bentuk dasar
Misalnya:

  • Pikiran : “hasil memikir”

b. Menyatakan ‘alat yang diapaki dalam tindakan yang tersebut pada bentuk dasarnya’
Misalnya:

  • Saringan : “alat menyaring”

c. Menyatakan ‘tempat suatu tindakan yang tersebut pada bentuk dasrnya’
Misalnya:

  • Kuburan : “tempat mengubur”

d. Yang di… seperti bentuk dasar
Misalnya:

  • Makanan : “yang dimakan”

Makna morfem {-an}, Apabila bergabung dengan kata sifat, adalah ‘yang seperti bentuk dasar’
Misalnya :

  • Kotoran : “yang kotor”
  • Dataran : “yang datar” (Muslich, 2008: 79)


13. Morfem imbuhan {-wan}
Morfem imbuhan {-wan} dapat melekat pada bentuk dasar berkelas kata benda.
Arti {-wan} untuk ini adalah sebagai berikut:
a. ‘orang yang ahli dalam bidang seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Ilmuwan : “orang yang ahli dalam bidang ilmu”
  • Budayawan : “orang yang ahli dalam bidang budaya”

b. ‘orang yang pekerjaannya khusus dalam bidang seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Industriwan : “orang yang pekerjaannya khusus dalam bidang industri”
  • Wartawan : “orang yang pekerjaannya khusus dalam bidang warta”

c. ’orang yang memiliki seperti bentuk dasar yang bersifat lebih
Misalnya:

  • Rupawan : “orang yang memiliki rupa lebih”
  • Hartawan : “orang yang memiliki harta lebih”

d. ‘orang yang secara khusus memahirkan diri dalam bidang seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Sastrawan : “orang yang memahirkan diri khusus di bidang sastra”
  • Olahragawan : “orang yang memahirkan diri khusus di bidang olahraga” (Muslich, 2008: 80-81)


14. Morfem imbuhan {-el-, {-er}, {-em}
Bentuk telunjuk, misalnya, berarti ‘jari tangan yang biasa digunakan untuk menunjuk’. Seperti diketahui, bentuk itu merupakan hasil proses afiksasi –el- + tunjuk. Contoh lain kemuning, geligi, telapak, serabut, seruling.  Bentuk dasar dari contoh-contoh tersebut adalah kuning, gigi, tapak, sabut, dan suling. (Muslich, 2008: 81)


15. Morfem imbuhan {ke-an}
Bentuk dasar yang dapat dilekati oleh morfem imbuhan {ke-an} pada umumnya berkelas kata kerja, benda, sifat, dan bilangan. Berturut-turut kemungkinan arti morfem imbuhan {ka-an} ialah sebagai berikut:
a. Menyatakan ‘suatu abstraksi atau hal dari bentuk dasar’
Misalnya:

  • Kepergian : “hal pergi”
  • Kemanusiaan : “hal manusia”

b. Menyatakan ‘menderita atau dikenai apa yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Kehujanan : “dikenai hujan”
  • Ketakutan : “menderita takut”

c. Menyatakan ‘tempat’ atau ‘daerah’
Misalnya:

  • Kelurahan : “tempat” daerah lurah”
  • Kecamatan : “tempat” daerah camat”

d. ‘sifat seperti bentuk dasar”
Misalnya:

  • Keindonesiaan : “sifat Indonesia”
  • Kejawaan : “sifat jawa” (Muslich, 2008: 81-82)


16. Morfem imbuhan {peN-an}
Morfem {peN-an} bisa bergabung dengan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata bilangan. Arti morfem imbuhan {peN-an} dideskripsikan sebagai berikut:
a. ‘hal atau proses’
Misalnya:

  • Pemeriksaan : “hal/proses memeriksa”
  • Pembacaan : “hal/proses membaca”

b. ‘hal atau hasil’
Misalnya:

  • Pengalaman : “hal/hasil mengalami”
  • Penghasilan : “hal/hasil dari menghasilkan”

c. ‘tempat’
Misalnya:

  • Penampungan : “tempat menampung”
  • Pengadilan : “tempat mengadili” (Muslich, 2008: 82-83)


17. Morfem Imbuhan {per-an}
Setelah melekat pada bentuk dasarnya, morfem imbuhan {per-an} mempunyai tiga kemungkinan arti, yaitu:
a. Menyatakan ‘hal-hal yang berhubungan dengan apa yang tersebut pada bentuk dasar’
Misalnya:

  • Perekonomian : “hal-hal yang berhubunga dengan ekonomi”
  • Perindustrian : “hal-hal yang berhubungan dengan industri”

b. Menyatakan ‘hal atau hasil dari suatu tindakan yang tersebut pada bentuk dasar
Misalnya:

  • Perkembangan : “hal berkembang” atau “hasil berkembang”
  • Perhitungan : “hal berhitung” atau “hasil berhitung”

c. Menyatakan ‘kumpulan’ atau ‘daerah’
Misalnya:

  • Pertokoan : “daerah toko”
  • Perumahan : “kumpulan/daerah rumah”

d. ‘tempat’
Misalnya:

  • Perguruan : “tempat berguru”
  • Perlindungan : “tempat berlindung” (Muslich, 2008: 83-84)


18. Morfem imbuhan {ber-an}
Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan morfem imbuhan {ber-an} adalah bentuk dasar yang berkelas kata kerja saja, misalnya:
a. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya dilakukan oleh banyak orang’
Misalnya:

  • bermunculan : “banyak yang muncul”
  • berjatuhan : “banyak yang jatuh”

b. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya dilakukan secara berulang-ulang’
isalnya:

  • berloncatan : “berloncat berulang-ulang”
  • berlarian : “berlari berulang-ulang”

c. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang terdapat pada bentuk dasarnya dilakukan oleh dua pihak yang saling mengenai’
Misalnya:

  • berkiriman : “saling mengirim”
  • berpandangan : “saling memandang” (Muslich, 2008: 84-85)


19. Morfem imbuhan {meN-kan}
Morfem {meN-kan} bisa bergabung dengan kata kerja, kata sifat, dan kata bilangan. Maknanya dapat dilihat sebagai berikut:
a. ‘menjadikan (objek) sebagai seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Mencerminkan : “menjadikan (objek) sebagai cermin”
  • Membukukan : “menjadikan (objek) sebagai buku”

b. ‘membuat (objek) (melakukan tindakan) seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Menidurkan : “membuat (objek) (melakukan) tidur”
  • Membangunkan : “membuat (objek) bangun”

c. ‘memberi (objek) sesuatu seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Mengizinkan : “memberi (objek) izin”
  • Menjanjikan : “memberi (objek) janji”

d. ‘melakukan tindakan seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Membicarakan : “melakukan tindakan bicara”
  • Mengerjakan : “melakukan tindakan kerja” 


20. Morfem imbuhan {meN-i}
Sebagai konfiks, morfem {meN-i} dapat bergabung dengan kata benda, kata kerja, dan kata sifat. Arti morfem {meN-i} untuk bentuk-bentuk ini adalah sebagai berikut:
a. ‘menjadikan (objek) sebagai seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Memusuhi : “menjadikan (objek) sebagai musuh’’
  • Menempati : “menjadikan (objek) sebagai tempat”

b. ‘memberi (objek) seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Menjuduli : “memberi (objek) judul”
  • Melukai : “memberi (objek) luka”

c. ‘(melakukan) perbuatan seperti bentuk dasar di/pada/ke (objek)’
Misalnya:

  • Menduduki : “melakukan duduk di (objek)
  • Mendatangi : “datang di (objek)”

d. ‘membuat/menyebabkan (objek) seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Menghitami : “membuat/menyebabkan (objek) hitam”
  • Mengotori : “membuat/menyebabkan (objek) kotor”

e. ‘jadi seperti bentuk dasar di/dalam (objek)’
Misalnya:

  • Merajai : “jadi raja di dalam (objek)”
  • Menokohi : “jadi tokoh di dalam (objek)”

f. ‘menganggap/memperlakukan (objek) sebagai seperti bentu dasar’
Misalnya:

  • Membodohi : “menganggap (objek) bodoh”
  • Membelakangi : “menganggap (objek) sebagai (ada di) belakang” (Muslich, 2008:87)


21. Morfem imbuhan {se-nya}
Konfiks {se-nya} mempunyai arti- tepatnya: tugas-seperti beikut ini:
a  ‘pembentuk adverbial atau keterangan’
Misalnya:

  • Sebaliknya
  • Seandainya.

b. ‘pembentuk modalitas’
Misalnya:

  • Sebenarnya
  • Sekirannya


22. Morfem imbuhan {isme}, {(is)asi}, {-logi}
Makna {-isme} adalah ‘paham, aliran, sifat’: misalnya klobatisme, bapakisme.  Morfem {-(is)asi} bisa bermakna proses atau ‘peN-bentuk dasar-an’, misalnya: helmisasi, lelenisasi. {-log} berarti studi tentang seperti bentuk dasar, misalnya: jawanologi ‘studi/pengkajian tentang jawa, balinologi ‘studi/pengkajian tentang Bali’. (Muslich, 2008:88-89)

B. Arti Morfem Ulang
Menurut Muslich (2008: 89) menyatakan morfem ulang bahasa Indonesia dapat membentuk kata dengan bentuk dasar yang berkelas kata kerja, benda, dan sifat. Di samping itu morfem ulang juga berkombinasi dengan morfem imbuhan dalam membentuk suatu kata.

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata kerja maka morfem ulang mempunyai beberapa kemungkinan arti sebagai berikut:
a. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan berulang-ulang’
Misalnya:

  • Memukul-mukul “memukul berulang-ulang”

b. Menyatakan bahwa ‘tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan oleh dua pihak dan saling mengenai / berbalasan’
Misalnya:

  • Bantu-membantu “saling membantu”

c. Menyatakan ‘hal-hal yang berhubungan dengan tindakan yang bersangkut paut dengan bentuk dasar’
Misalnya:

  • Cetak-mencetak “hal-hal yang berhubungan dengan kegiata mencetak”

d. Menyatakan bahwa “tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan seenaknya /santai atau hanya untuk bersenang-senang’
Misalnya:

  • Membaca-baca “membaca seenaknya untuk bersenang-senang”

e. Apabila berkombinasi dengan {ber-an} menyatakan bahwa tindakan itu dilakukan oleh kedua pihak dan saling mengenai
Misalnya:

  • Berkirim-kiriman “saling mengirim”

f. Rasa kekhawatiran, rasa ketidaksetujuan, rasa menggerutu
Misalnya:

  • Datang-datang dalam ‘datang-datang, langsung tidur menjadi “baru saja datang, kok langsung tidur”. (Muslich, 2008: 89-90)

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata benda maka morfem ulang mempunyai beberapa kemungkinan arti yaitu:
a. Menyatakan ‘banyak’
Misalnya:

  • Kemajuan-kemajuan “banyak kemajuan”

b. Menyatakan ‘meskipun’
Misalnya:

  • Beras-beras (dimakannya) “meskipun beras (dimakannya)

c. Apabila dikombinasi dengan –an menyatakan ‘sesuatu yang menyerupai apa yang tersebut pada bentuk dasar’.
Misalnya:

  • Orang-orangan “menyerupai orang”

Apabila bentuk dasarnya berkelas kata sifat, maka kemungkinan arti morfem ulang sebagai berikut:
a. Menyatakan ‘lebih… lagi’
Misalnya:

  • Cepat-cepat “lebih cepat lagi” berlarilah cepat-cepat!

b. Apabila berkombinasi dengan {ke-an} menyatakan ‘agak’
Misalnya:

  • Kehijau-hijauan “agak hijau”

c. ‘meskipun seperti bentuk dasar’
Misalnya:

  • Jelek-jelek (dia itu setia) “meskipun jelek”

d. Apabila dikombinasi dengan {se-nya} menyatakan ‘tingkat yang paling tinggi’ atau ‘superlatif’
Misalnya:

  • Sekecil-kecilnya “tingkat yang paling kecil” (Muslich, 2008: 91).


C. Arti Morfem Konstruksi Majemuk
Muslich (2008: 91) menyatakan secara sederhana kata majemuk bisa diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok:

1. Kelompok pertama beranggotakan
Kambing hitam                naik daun
Meja hijau                        tangan dingin
Lembaran hitam               mulut besar
Apa boleh buat                 senjata makan tuan
Bertekuk lutut                  membanting tulang
Membabi buta                  putri malu
Hidung belang                 kumis kucing
Pitam babi                        matahari sayap kiri

2. Kelompok kedua beranggotakan
Rumah makan                  tamu wicara
Rumah sakit                     angkat besi
Kamar kecil                      naik haji
Mata air                            jumpa pers
Istri muda                         mabuk laut
Kamar tunggu                  habis akal
Dengar pendapat              jual beli
Sepak bola                        pulang pergi
Tolak peuru                      putus asa
Pesawat tempur                naik pangkat

3. Kelompok ke tiga beranggotakan kata-kata majemuk macam:
Tua renta                          hitam legam
Tua Bangka                      anak pinak
Muda belia                       mendadak sontak
Kering kerantong             gelap gulita
Malam kelam                    tunggang lenggang
Naik pitam                       dendam kesumat. (Muslich, 2008: 92)


Referensi:
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

KOMPOSISI DAN KATA MAJEMUK

Alifiyah Mila Rizka (176020)


A. Pengertian Komposisi dan Kata Majemuk
Komposisi adalah proses penggabungan dasar dengan dasar (biasanya berupaakar maupun bentuk berimbuhan) untuk mewadahi suatu “konsep” yang tertampung dalam suatu kata. (Chaer, 2008:209).

Komposisi adalah gabungan dari kata dasar yang berbeda untuk mewadahi “suatu konsep” yang belum tertampung dalam sebuah kata yang bertujuan untuk mewadahi konsep-konsep yang ada dalam kehidupan nyata tetapi belum ada kosa katanya dalam bentuk tunggal.

Kata majemuk adalah hasil dari peristiwa bergabungnya dua moefem dasar atau lebih secara padu dan menimbulkan arti yang relative baru. (Muslich, 2008:57).

Jadi, yang membedakan antara komposisi dan kata majemuk adalah kata majemuk merupakan hasil dari proses komposisi.

B. Aspek Semantik Komposisi
Dilihat dari usaha untuk menampung konsep-konsep ini dapat di bedakan ada lima konsep komposisi, yaitu :
1. Komposisi yang menampung konsep-konsep yang digabungkan sederajat, sehingga membentuk komposisi yang koordinatif. (Chaer, 2008:212)
Contohnya :

  • Baca tulis : baca dan  tulis
  • Tua muda : tua dan muda

2. Komposisi yang menampung konsep-konsep yang digabung tidak sederajat, sehingga melahirkan komposisi yang subordinatif. Dalam komposisi ini unsur utama merupakan unsur utama dan unsur kedua merupakan unsur penjelas.  (Chaer, 2008: 213)
Contohnya :

  • Sate Madura : sate yang berasal dari Madura
  • Nasi Padang : nasi yang berasal dari Padang

3. Komposisi yang menghasilkan istilah, yakni yang maknanya sudah pasti, sudah tentu, meskipun bebas dari konteks kalimatnya, karena sebagai istilah hanya digunakan dalam bidang ilmu atau kegiatan tertentu. Makna istilah dalam komposisi ini tidak ditentukan oleh hubungan kedua unsurnya, melainkan ditentukan oleh keseluruhannya. Chaer (2008: 213-214) menyatakan bahwa beberapa contoh istilah dalam bentuk komposisi :
a. Istilah olahraga : Tolak peluru, angkat besi
b. Istilah linguistik : Fonem vokal, frase verba
c. Istilah politik : Suaka politi, hak pilih
d. Istilah pendidikan : Buku ajar, tahun ajaran
e. Istilah agama islam : Hadis sahih, zakat fitrah

4. Komposisi pembentukan idiom, yakni penggabungan dasar dengan dasar yang menghasilkan makna idiomatik, yaitu makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal. Idiom penuh, merupakan idiom yang semua unsurnya merupakan satu kesatuan dan indiom sebagian, yaitu idiom yang salah satu unsurnya masih bermakna leksikal. (Chaer, 2008:214-215).
a. Idiom penuh, contohnya :

  • Banting tulang : bekerja keras
  • Bau kencur : masih anak-anak

b. Idiom sebagian, contohnya:

  • Daftar hitam : daftar yang berisi nama orang-orang yang diduga bersalah
  • Gaji buta : gaji yang diterima meskipun tidak bekerja

5. Komposisi yang mengahasilkan nama, yakni yang mengacu pada sebuah wujud dalam dunia nyata. (Chaer, 2008:215).
Contohnya :

  • Griya matraman
  • Stasiun gambir


C. Pengembangan komposisi
Dilihat dari segi semantik, semakin luas komposisi itu maka maknanya semakin sempit. Kita simak kata kereta, mencakup semua jenis kereta, termaksud kereta kuda, kereta listrik, kereta perang dan sebagainya. Makna kereta api hanya mencakup kereta yang digerakkan dengan tenaga api (dalam hal ini lokomotif). Jadi, tidak termaksud kereta kuda dan lain-lain. Lalu, makna kereta api ekspres sudah semakin sempit, karena semua kereta api yang bukan ekspres tidak termaksud dalam komposisi itu. selanjutnya, dengan penambahan dasar malam ke dalam komposisi kereta api ekspres menyebabkan kereta api ekspres yang berjalan di siang hari tidak termaksud di dalamnya. Makna atau konsep semakin sempit lagi dengan penambahan dasar luar biasa, sebab yang biasa pun tidak termaksud di dalam komposisi kereta api ekspres malam luar biasa (Chaer, 2008:216).

D. Komposisi nomina, verba dan ajektifa
1. Komposisi nomina 
Komposisi nomina adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategori nomina (Chaer, 2008:216-217).
Contohnya :

  • Meja makan (nomina + verba)
  • Meja hijau (nomina + adjektiva)

Dalam kaitannya dengan masalah semantik dapat dibedakan adanya lima macam komposisi nomina, diantaranya berikut :
a. Komposisi nomina bermakna gramatikal
Chaer (2008:217) menyatakan bahwa makna gramatikal adalah makna yang muncul dalam proses penggabungan dasar dengan dasar dalam pembentukan sebuah komposisi. Makna gramatikal yang muncul dalam proses pembentukan komposisi nomina, antara lain adalah makna yang menyatakan :

1) “gabungan biasa”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dan. Makna gramatikal “gabungan biasa” ini akan terjadi apabila kedua unsurnya memiliki komponen makna:

  • (+ pasangan antonim relasional), misalnya : ayah ibu dan suami istri
  • (+ anggota dari satu medan makna), misalnya: topan badai, sawah lading

2) “bagian”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dari, makna gramatika “bagian” ini terjadi apabila unsur utama memiliki komponen makna:

  • (+bagian dari unsur kedua) dan unsur kedua memiliki bagian makna (+keseluruhan memiliki unsur keseluruhan yang mencakup unsur pertama), contoh: awal tahun, tengah semester, akhir bulan.

3) “kepunyaan atau pemiliki”, makna gramatikal kepunyaan ini akan terjadi apabila (+benda termiliki) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+insan), (+yang diinsankan) atau (+pemilik).
Misalnya :

  • Sepatu adik
  • Tanah negara.

4) “asal bahan”, kedua unsurnya bisa disisipkan kata “terbuat dari”. Makna gramatikal asal bahan dapat terjadi apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+bahan pembuat unsur pertama).
Misalnya :

  • Cicin emas
  • Jaket kulit.

5) “asal tempat”, dapat disisipkan kata berasal dari. Makna gramatikal “asal tempat” dapat terjadi apabila unsur kedua memiliki makna (+tempat berasalnya unsur pertama).
Misalnya :

  • Sate padang
  • Jeruk bali.

6) “bercampur atau dicampur dengan”, makna gramatikal “bercampur” dapat terjadi apabila makna gramatikal memiliki komponen makna (+pencampuran pada unsur pertama).
Misalnya :

  • Teh susu
  • Roti keju

7) “hasil buatan”, makna gramatikal “hasil buatan” ini dapat terjadi apabila unsur keduanya memiliki makna. (+pembuat unsur pertama).
Misalnya :

  • Mobil jepang
  • Puisi Chairil

8) “tempat melakukan sesuatu”, makna gramatikal “tempat melakukan sesuatu” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+ruang) dan unsur kedua memiliki komponen (+tindakan).
Misalnya:

  • Kamar periksa
  • Rumah makan

9) “kegunaan tertentu”, makna gramatikal “kegunaan tertentu” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen (+kegunaan) dan komponen kedua (+tindakan).
Misalnya :

  • Uang belanja
  • Mobil dinas

10) “bentuk”, makna gramatikal “bentuk” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki makna (+benda) dan unsur kedua memiliki makna (+bentuk) atau (+wujud).
Misalnya :

  • Meja bundar
  • Karet gelang.

11) “jenis”, makna gramatikal “jenis” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen (+benda genetik), sedangkan unsur kedua (+benda spesifik).
Misalnya:

  • Mobil sedan
  • Pisau lipat

12) “keadaan”, makna gramatikal “keadaan” dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+benda) dan unsur kedua (+keadaan).
Misalnya :

  • Mobil rusak
  • Gubuk reyot.

13) “jenis kelamin”, makna gramatikal “jenis kelamin” dapat terjadi apabila unsur pertama komponennya (+makhluk) dan komponen kedua (+gender).
Misalnya:

  • Ayam jantan
  • Sapi betina

14) “seperti atau menyerupai”, makna gramatikal “seperti” ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+benda buatan) dan unsur kedua (+ciri khas benda).
Misalnya :

  • Gula pasir
  • Akar rambut

15) “model”, makna gramatikal “model” ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+benda buatan) dan unsur kedua (+ciri khas dari sesuatu).
Misalnya :

  • Celana jengki
  • Topi koboi

16) “memakai”. Makna gramatikal “memakai” ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki (+benda alat) dan unsur kedua (+bahan yang digunakan).
Misalnya :

  • Kapal layar
  • Mesin uap

17) “yang di…” makna gramatikal “yang di..” dapat terjadi apabila unsur keduanya (+perlakuan terhadap unsur pertama).
Misalnya :

  • Anak angkat
  • Ayam goreng

18) “ada di..” makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+kegiatan) dan unsur kedua (+ruang) atau (+tempat).
Misalnya :

  • Voli pantai
  • Kapal udara.

19) “yang biasa melakukan”. Makna gramatikal ini bisa terjadi apabila komponen utama memiliki makna (+pelaku) dan unsur kedua (+tindakan).
Misalnya :

  • Jago balap
  • Jago makan

20) “wadah atau tempat”. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila unsur komponen pertamanya (+wadah) dan unsur kedua (+posisi).
Misalnya:

  • Pintu depan
  • Kamar tengah

21) “letak atau posisi”. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila komponen utama (+benda) dan komponen kedua (+posisi).
Misalnya :

  • Parkir timur.

22) “mempunyai”. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila komponen utama (+benda alat) dan komponen kedua (+perlengkapan).
Misalnya :

  • Kursi roda
  • Sepeda motor

23) “jenjang, tahap dan tingkat”. Makna gramatikal ini bisa terjadi jika komponen utamanya (+kegiatan) dan komponen keduanya (+tahap) ata (+tingkatan).
Misalnya :

  • Sekolah dasar
  • Pemain pemula

24) “rasa atau bau”. Makna gramatikal ini bisa terjadi apabila unsur pertamanya (+benda rasa) dan unsur keduanya (+rasa) atau (+bau).
Misalnya:
Kacang asin
Gulai pedas

b. Komposisi nomina bermakna idiomatik
Komposisi idiomatik ini terdiri dari, komposisi idiomatik penuh dan sebagian.
1) Komposisi idiomatik penuh adalah komposis yang memiliki makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal. (Chaer, 2008:222).
Contoh :

  • Kumis kucing : tanaman obat
  • Buah bibir : bahan pembicaraan

2) Komposisi idiomatik sebagian adalah yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya.
Contoh :

  • Gaji buta : menerima gaji tetapi tidak bekerja
  • Daftar hitam : daftar nama orang-orang yang diduga bersalah

c. Komposisi nomina metaforis
Komposisi nomina metaforis ialah dengan mengambil salah satu komponen makna yang dimiliki oleh unsur tersebut. Umpamanya unsur kaki pada unsur kaki gunung diberi makna metaforis dari komponen makna kaki, yaitu (+terletak pada bagian bawah). Sedangkan komposisi pada kaki meja diberi makna metaforis dari komponen makna kaki, yaitu (+penunjang berdirinya tubuh) (Chaer, 2008:223).

d. Komposisi nomina dan istilah
Sebagai nama atau istilah komposisi ini tidak bermakna gramatikal, tidak bermakna idiomatik, juga tidak bermakna metaforis. (Chaer, 2008:224).
Contoh :

  • Buku ajar : hotel Indonesia
  • Suku cadang : apotik Rini

e. Komposisi nomina dengan adverbial
Chaer (2008:225) menyatakan bahwa makna komposisi jenis ini ditentukan oleh makna leksikal dari kata adverbia itu. adverbial yang mendampingi nomina adalah, adverbia yang menyatakan negasi, yaitu bukan, tiada dan tanpa. Dan adverbia yang menyatakan jumlah, yaitu beberapa, banyak, sedikit, sejumlah, jarang, kurang. Contoh:

  • Bukan anjing
  • Tiada air

Kedalam kelompok ini bisa juga bisa dimasukan komposisi dengan unsur preposisi, seperti :

  • Di pasar
  • Dari kampus


2. Komposisi Verba
Chaer (2008: 226) menyatakan  komposisi yang pada satuan klausa berkategori verba.
Misalnya:

  • Mereka menyanyi menari sepanjang malam
  • Dia datang mengahadap kepala sekolah

a. Komposisi verba bermakna gramatikal
Chaer (2008:226-229) menyatakan bahwa ada beberapa makna gramatikal, antara lain adalah makna yang menyatakan:
1) “gabungan biasa”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat dapat disisipkan kata dan. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila:

  • Kedua unsurnya memiliki makna yang sama sebagai dua buah kata bersinonim, misalnya: bimbang ragu, bujuk rayu.
  • Kedua unsurnya merupakan anggota dari satu medan makna. Misalnya : belajar mengajar, makan minum.
  • Kedua unsurnya merupakan pasangan berantonim. Misalnya: jual beli, jatuh bangun.

2) “gabungan mempertontonkan”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata atau. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila kedua unsurnya merupakan pasangan berantonin.
Misalnya :

  • Hidup mati
  • Gerak diam.

3) “sambil”, sehinnga di antara kedua unsurnya dapat disispkan kata sambil, makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila kedua unsurnya itu merupakan dua tindakan yang dapat dilakukan bersamaan. Hanya unsur pertama harus memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak), sedangkan unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (-gerak).
Misalnya :

  • Datang membawa
  • Datang menangis.

4) “lalu”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata lalu, makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak). Unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (-gerak).
Misalnya :

  • Datang berteriak-teriak
  • Datang marah-marah.

5) “untuk”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata untuk. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya (+tindakan) dan (+gerak) unsur kedua memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran).
Misalnya :

  • Datang menagih (hutang)
  • Pergi membayar (pajak).

6) “dengan”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dengan. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+gerak) dan unsur kedua (+tindakan) dan (+keadaan).
Misalnya :

  • Datang merangkak
  • Menangis terseduh-seduh.

7) “secara”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata secara. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki makna (+tindakan) dan komponen kedua memiliki makna (+cara).
Misalnya :

  • Cetak ulang
  • Terjun bebas.

8) “alat”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat disisipkan kata menggunakan. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+tindakan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+alat) atau (+yang digunakan).
Misalnya:

  • Balap mobil
  • Tolak peluru.

9) “waktu”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata karena. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur utama memiliki komponen makna (+kegiatan) dan unsur kedua memiliki komponen makna (+saat) atau (+ketika).
Misalnya :

  • Ronda malam
  • Jaga malam

10) “terhadap”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata terhadap atau akan. Makna gramatikal gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya (+peristiwa) dan unsur keduanya (+bahaya).
Misalnya :

  • Kedap air
  • Kedap suara

11) “ karena”, sehingga diantara kedua unsurnya dapat diselipkan kata karena, makna gramatikal ini dapar terjadi apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+kejadian) dan kedua (+penyebab).
Misalnya :

  • Mandi darah
  • Mabuk darat.

12) “menjadi”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata menjadi. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki (+penyebab) dan unsur kedua (+akibat).
Misalnya :

  • Jatuh cinta
  • Jatuh sakit.

13) “sehingga”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata sehingga atau sampai. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertamanya memiliki komponen makna (+tindakan) dan unsur kedua (+kesudahan).
Misalnya:

  • Tembak mati
  • Beri tahu

14) “menuju”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata kea tau menuju. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki komponen makna (+gerak arah) dan unsur kedua (+arah tujuan).
Misalnya:

  • Belok kiri
  • Belok kanan.

15) “arah kedatangan”, sehingga di antara kedua unsurnya dapat disisipkan kata dari. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila unsur utamanya memiliki makna (+gerak arah) dan unsur keduanya (+tempat kegiatan).
Misalnya:

  • Pulang kantor.

16) “seperti” sehingga dapat disisipkan kata sebagaimana. Komponen utama memiliki arti (+keadaan) dan kedua (+perbandingan).
Misalnya :

  • Lurus tabung
  • Mati kutu
b. Komposisi verba bermakna idiomatikal
Ada beberapa komposisi verba bermakna idiomatikal yaitu, makna yang tidak dapat ditelusuri atau diprediksi baik secara leksikal maupun gramatikal. Misalnya “makan garam dalam arti “berpengalama”, “makan kawat” dalam arti sangat miskin (Chaer, 2008:229).

Berkenaan dengan kontruksi predikat + objek ini, maka makna verba yang menjadi predikat itu sangat bergantung pada nomina, sebagai objek yang mengikutinya. (Chaer, 2008:230).

c. Komposisi verba dengan abverbia
Chaer (2008:231) menyatakan bahwa verba sebagai pengisi fungsi predikat dalam sebuah klausa seringkali didampingi oleh sebuah adverbial atau lebih.
Adverbial pendamping verba adalah:

  • Adverbia negasi: tidak, tak, tanpa.
  • Adverbia kala: sudah, sedang, tengah lagi, akan.
  • Adverbia keselesaian: sudah, sedang, tengah, belum.
  • Adverbia aspectual: boleh, wajib, harus, dapat, ingin, mau.
  • Adverbia frekuensi: sering, jarang, pernah, acap kali
  • Adverbia kemungkinan: mungkin, pasti, barang kali, boleh jadi.

Sebuah verba dalam statusnya sebagai pengisi fungsi predikat dalam sebuah klausa bisa didampingi oleh sebuah adverbia tertentu, tetapi juga bisa didampingi oleh dua adverbia atau lebih.
Contoh :

  • Tidak makan
  • Sudah tidak makan


3. Komposisi adjektifa
Chaer (2008: 231-232) menyatakan bahwa komposisi yang satuan klausa, berkategori ajektiva.
Misalnya :

  • Gadis yang cantik molek itu duduk termenung
  • Kaya miskin dihadapan Allah sama saja

Komposisi adjektiva dapat dibentuk dari dasar:

  • Adjektiva+adjektiva, seperti tua muda
  • Adjektiva+nomina, seperti merah muda
  • Adjektiva+verba, seperti takut pulang
  • Adverbial+adjektifa, seperti tidak berani

a. Komposisi ajektifa bermakna gramatikal
Chaer (2008:232-234) menyatakan bahwa makna gramatikal adalah makna yang menyatakan:
1) “gabungan biasa”, sehingga dapat disisipkan kata dan. Makna gramatikal ini dapat terjadi apabila:

  • Memiliki komponen makna yang sama sebagai pasangan bersinonim, misal: cantic molek, gagah berani.
  • Memiliki makna yang berkebalikan sebagai pasangan berantonim atau beraposisi, misalnya : atas bawah, timur barat.
  • Memiliki komponen makna yang sejalan atau tidak bertentangan, misalnya: bulat panjang, gemuk pendek.

2) “Alternatif atau pilihan”, sehingga dapat disispkan kata atau, makna gramatikal ini dapat terjadi apabila kedua unsurnya memiliki komponen makna yang bertentangan atau berantonim.
Misalnya :

  • Buruk baik
  • Mahal murah.

3) “seperti” dapat disispi kata seperti, makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur utamanya memiliki makna (+warna) dan unsur kedua (+benda berwarna).
Misalnya:

  • Merah jambu
  • Hijau daun.

4) “serba”, makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila kedua unsurnya berupa dasar yang sama dan memiliki komponen makna yang sama. Stuktur komposisi ini sama dengan struktur reduplikasi utuh. Oleh karena itu untuk membedakan maknanya, perlu contoh dalam bentuk kalimat.
a) Komposisi dan kalimat

  • Mereka memakai pakaian putih-putih
  • Warna seragam mereka biru-biru

b) adalah reduplikasi

  • Putih-putih harus dibawanya
  • Bulat-bulat ditelannya anak ikan itu.

5) “untuk”, dapat disisipkan kata untuk. Makna gramatikal ini ddapat diperoleh apabila unsur pertama memiliki makna (+sikap batin) dan makna kedua (+kejadian) atau (+peristiwa).
Misalnya :

  • Takut mati
  • Takut pulang.

6) “kalau”, dapat disisipkan kata kalau. Makna gramatikal ini dapat diperoleh apabila unsur utama memiliki makna (+perasaan batin) unsur kedua (+tindakan).
Misalnya :

  • Sedih mendengar
  • Senang melihat.

b. Komposisi adjektiva bermakna idiomatikal
Chaer (2008: 234) menyatakan bahwa ada beberapa komposisi ajektifa yang bermakna idiomatikal, yakni makna yang tidak dapat diprediksi secara leksikal maupun gramatikal.
Misalnya :

  • Panjang usus : sabar
  • Tinggi hati : angkuh.

c. Komposisi adjektifa dengan adverbia
Chaer (2008:234) menyatakan bahwa ada dua macam adverbia untuk mendamping ajektifa yaitu:

  • Adverbia negasi: tidak
  • Adverbia derajat: agak, sama

Contoh pemakaian

  • Tidak bagus, tidak baik
  • Agak tinggi, agak lurus


Referensi :
Chaer,Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta
Muslich, Masnur. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

REDUPLIKASI

Alifiyah Mila Rizka (176020)


Proses reduplikasi atau pengulangan adalah peristiwa pembentukan kata dengan cara mengulang bentuk dasar, baik seluruhnya maupun sebagian, baik bervariasi fonem maupun tidak, dan baik berkombinasi dengan afiks maupun tidak. (Muslich, 2008: 48)

Ciri-ciri proses reduplikasi
1. Kelas kata bentuk dasar kata ulang sama dengan kelas kata kata ulangnya.
Apabila suatu kata ulang berkategori nomina, maka bentuk dasarnya juga berkategori nomina, apabila suatu kata ulang berkategori verba, maka bentuk dasarnya juga berkategori verba.
Contohnya :

  • Sawah (nomina) : sawah-sawah (nomina)
  • Pelan (adjektiva) : pelan-pelan (adjektiva)

2. Bentuk dasar kata ulang selalu ada dalam pemakaian bahasa.
Bentuk dasar dari kata ulang juga ada dalam konteks bahasa, maksudnya adalah bentuk dasarnya juga dapat dipakai dalam konteks kalimat.
Contohnya :

  • Bergerak-gerak bentuk dasarnya adalah bergerak, bukan gerak (sebab kelas katanya berbeda dengan kata ulangnya)
  • Menyatu-nyatukan bentuk dasarnya adalah menyatukan, bukan menyatu

3. Arti bentuk dasar kata ulang selalu berhubungan dengan kata ulangnya.
Misalnya kata pepohon, memiliki hubungan dengan kata dasarnya yaitu pohon. Namun terdapat juga kata yang seperti bentuk reduplikasi namun sebenarnya bukan karena tidak memiliki hubungan dengan kata yang seperti kata dasarnya. Misalnya kata undang-undang bukan merupakan reduplikasi karena tidak memiliki gubungan dengan kata undang. (Muslich, 2008: 52)

Jenis-jenis reduplikasi
1. Pengulangan seluruh
Pengulangan seluruh merupakan pengulangan bentuk dasar secara keseluruhan tanpa berkombinasi dengan pembubuhan afiks dan tanpa perubahan fonem.
Contohnya :

  • Batu : batu-batu
  • Persatuan : persatuan-persatuan

2. Pengulangan sebagian
Pengulangan sebagian adalah pengulangan bentuk dasar secara sebagian tanpa perubahan fonem.
Contohnya :

  • Berlari : berlari-lari
  • Perlahan : perlahan-lahan

3. Pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks
Pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks adalah pengulangan bentuk dasar yang disertai dengan pembubuhan afiks secara bersama-sama atau serentak dan bersama-sama pula mendukung satu arti.
Contohnya :

  • Rumah :  rumah-rumahan
  • Kuning :  kekuning-kuningan

4. Pengulangan dengan perubahan fonem
Pengulangan dengan perubahan fonem adalah pengulangan bentuk dasar dengan disertai perubahan fonem.
Contohnya :

  • Lauk-pauk
  • Ramah-tamah




Referensi :
Masnur, Muslich. 2008. Tata Bentuk Bahasa Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara

MORFOFONEMIK

Alifiyah Mila Rizka (176020)


Morfofonemik adalah kajian mengenai terjadinya perubahan bunyi atau perubahan fonem akibat dari proses morfologi, baik proses afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Berikut beberapa jenis perubahan fonem dan bentuk morfofonemik pada proses morfologi.

1. Jenis perubahan
a. Pemunculan fonem
Munculnya fonem (bunyi) dalam proses morfologi yang mulanya tidak ada.
Contohnya:
- Belai + an
- Pakai + an
Seperti ada huruf (y) di antara huruf (i) dan (a).

b. Pelesapan fonem
Hilangnya fonem pada proses morfologi.
Contohnya:
- Ber + risiko = berisiko
Pengimbuhan prefiks ber- pada dasar risiko, maka bunyi (r) pada prefiks ber- di lesatkan.

c. Peluluhan fonem
Luluhnya sebuah fonem serta disenyawakan dengan fonem lain dalam suatu proses morfologi.
Contohnya:
- Me + siram = menyiram
Pengimbuhan prefiks me- pada dasar siram, maka fonem /s/ pada siram itu diluluhkan atau disenyawakan dengan fonem nasal /ny/ yang ada pada prefiks itu.

d. Perubahan fonem
Berubahnya sebuah fonem atau sebuah bunyi, akibat terjadi proses morfologi.
Contohnya:
- Ber + ajar = belajar
Pengimbuhan prefiks ber- pada dasar ajar, terjadi perubahan bunyi, dimana fonem /r/ berubah menjadi fonem /l/.

e. Pergeseran fonem
Berubahnya posisi sebuah fonem dari satu suku kata kedalam suku kata lainnya.
Contohnya:
- Ma.kan + an = ma.ka.nan
Pengimbuhan sufiks -an pada dasar makan, fonem /n/ yang semula berada pada suku kata kan berpindah menjadi berada pada suku kata nan. (Chaer,Abdul. 2015:45).

2. Morfofonemik dalam pembentukan kata bahasa Indonesia
1) Prefiksasi ber-
a. Pelepasan fonem /r/.
Terjadi apabila bentuk dasar yang diimbuhi mulai dengan fonem /r/, atau suku pertama bentuk dasarnya berbunyi (er).
Contohnya :
- Ber + rantai = berantai
- Ber + racun = beracun

b. Perubahan fonem /r/
Pada prefiks ber- menjadi fonem /l/ terjadi bila bentuk dasarnya akar ajar.
Contohnya :
- Ber + ajar = belajar

c. Pengekalan fonem /r/
Pada prefiks ber- tetap /r/ terjadi apabila bentuk dasarnya bukan yang ada pada a dan b di atas.
Contohnya :
- Ber + jalan = berjalan
- Ber + dasi = berdasi

2) Prefiksasi me- (termasuk klofiks me-kan dan me-i)
a. Pengekalan fonem
        Artinya di sini tidak ada fonem yang berubah, tidak ada yang dilesapkan dan tidak ada yang ditambahkan. Terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /r, l, w, y, m, n, ng, dan ny/.
Contohnya :
- Me + lihat = melihat
- Me + rawat = merawat

b. Penambahan fonem
Penambahan fonem nasal /m, n, ng, dan nge/.
Penambahan fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /b/ dan /if/.
Contohnya :
- Me + bungkus = membungkus
- Me + baca = membaca

Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /d/.
Contohnya :
- Me + dengar = mendengar
- Me + darat = mendarat

Penambahan fonem nasal /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan konsonan /g, h, kh, a, l, u, e, dan o/.
Contohnya :
- Me + hibur = menghibur
- Me + goda = manggoda

Penambahan fonem nasal /nge/ terjadi apabila bentuk dasarnya hanya terdiri dari suku kata.
Contohnya :
- Me + bom = mengebom
- Me + cat = mengecat

c. Peluluhan fonem
     Terjadi pabila prefiks me- diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan bersuara /s, k, p, dan t/. Dalam hal ini  konsonan /s/ diluluhkan  dengan nasal /ng/, konsonan /p/ diluluhkan dengan nasal /m/, dan konsonan /t/ diluuhkan dengan nasal /n/.
Contohnya :
- Me + sikat = menyikat

3) Prefiksasi pe- dan konfiksasi pe-an

a. Pengekalan fonem
Tidak ada perubahan fonem, dapat terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /r, l, y, m, n, dan ny/.
Contohnya :
- Pe + latih = pelatih
- Pe-an + makam = pemakaman

b. Penambahan fonem
  Penambahan fonem nasal /m, n, ng, dan nge/ antara prefiks dan bentuk dasar. Penambahan fonem nasal /m/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali oleh konsonan /b/.
Contohnya :
- Pe + baca = pembaca
- Pe-an + buka = pembukaan

Penambahan fonem nasal /n/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali oleh konsonan /d/.
- Pe + dengar = pendengar
- Pe-an + didik = pendidikan

Penambahan fonem nasal /ng/ terjadi apabila bentuk dasarnya diawali dengan konsonan /g, h, kh, a, l, u, e, dan o/.
- Pe + gambar = penggambar
- Pe + goda = ppenggoa

Penambahan fonem nasal /nge/ terjadi apabila bentuk dasarnya berupa bentuk dasar satu suku.
- Pe + cat = pengecat
- Pe-an + bom = pengeboman

c. Peluluhan fonem
Apabila fonem prefiks pe- (atau pe-an) diimbuhkan pada bentuk dasar yang diawali dengan konsonan tak bersuara /s, k, p, dan t/. Dalam hal ini konsonan /s/ diluluhkan dengan nasal /ny/, konsonan /k/ diluluhkan dengan nasal /ng/, konsonan /p/ diluluhkandengn nasal /m/, dan konsonan /t/ diluluhkan dengan nasal /n/.
Contohnya :
- Pe + bajak = pembajak
- Pe + suntik = penyuntik

4) Prefiksasi per- dan konfiksasi pe-an
a. Pelepasan fonem /r/
Terjadi apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem /r/, atau suku pertamanya /er/.
Contohnya :
- Per + kerja = pekerja
- Per + ternak = peternak

b. Perubahan fonem /r/ menjadi /l/ 
terjadi apabila bentuk dasarnya berupa kata ajar.
Contohnya :
- Per + ajar = pelajar

c. Pengekalan fonem /r/ 
Terjadi apabila bentuk dasarnya bukan yang disebutkan pada a dan b di atas.
Contohnya :
- Per + kecil = perkecil
- Per + besar = perbesar

5) Sufiksasi -an
a. Pemunculan fonem
Pemunculan fonem /w/ dapat terjadi apabila sufiks –an itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir  dengan vokal /u/.
Contohnya :
- Temu + an = temuan
- Sapu + an = sapuan
 
Pemunculan fonem /y/ dapat terjad apabila sufiks an itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan vokal /i/.
Contohnya :
- Bunyi + an = bunyian
- Tari + an = tarian
 
Pemunculan fonem glotal /?/ dapat terjadi apabila sufiks an itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang akhir dengan vokal /a/.
Contohnya :
- Bina + an = binaan
- Tua + an = tuaan

b. Penggeseran fonem
Terjadi apabila sufiks an itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan sebuah konsonan. Dalam pergeeseran ini, konsonan tersebut bergeser membentuk suku kata baru dengan sufiks an tersebut.
- Kenang + an = ke.na.ngan
- Pukul + an = pu.ku.lan (Chaer,Abdul. 2015: 55)

6) Prefiksai ter- 
a. Pelepasan fonem
Terjadi apabila prefiks ter- itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang dimulai dengan konsonan /r/.
Contohnya :
- Ter + raba = teraba
- Ter + rasa = terasa

b. Perubahan fonem /r/ pada prefiks ter- menjadi fonem /l/ 
Terjadi apabila prefiks ter- itu diimbuhkan pada bentuk dasar anjur.
Contohnya :
- Ter + anjur = telanjur

c. Pengekalan fonem /r/ pada prefiks ter- tetap memjadi /r/ 
Terjadi apabila prefiks ter- itu diimbuhkan pada bentuk dasar yang bukan disebutkan pada a dan b diatas.
Contohnya :
- Ter + baik = terbaik
- Ter + buruk = terburuk (Chaer, Abdul.2015:55)




Referensi :
Chaer, Abdul. 2015. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

AFIKSASI PEMBENTUKAN ADJEKTIVA

Alifiyah Mila Rizka (176020)


Dalam sub bab berikut akan dibicarakan kata-kata berakfiks bahasa indonesia yang oleh banyak pakar di golongkan sebagai kata berkelas ajektiva dan dalam sub bab lain akan dibicarakan kata-kata berkelas ejektiva yang berasal dari unsur serapan dengan kemungkinan penggunaan ‘afiks’ serapannya dalam pembentukan kata berkelas ajektiva. (A. Chaer:2008).
1. Dasar ajektiva berafiks asli indonesia
Sudah disebutkan diatas adanya buku atau literatur yang menyatakan adanya ketumpangtindihan kata-kata berkelas ajektiva dengan kelas lain, seperti kelas nomina dan verba. Berikut kita bicarakan kata-kata berafiks apa saja yang bertumpang tindih itu:
a. Dasar ajektiva berprefiks pe-
Ada dua macam proses pembubuhan prefiks pe- pada dasar ajektiva, yaitu :
1) Pemberian afiks pe- secara langsung dapat terjadi kalua dasar ajektiva itu memiliki kompone makna (+sikap batin ) dan memberi makna gramatikal yang memiliki sifat dasar.
Misalnya : pemalu, pemberani, penakut

2. Pemberian prefiks pe- melalui verbal berklofiks me-kan dapat terjadi apabila dasar ajektiva itu memiliki komponen makna (+ keadaan fisik) dan memberi makna gramatikal yang menjadikan (dasar ).
Misalnya : pembersih, pemutih, pengering

b. Dasar Ajektitiva Berprefiks se-
Pemberian prefiks se- pada semua dasar ajektiva memberi makna gramatikal ‘sama (dasar) dengan nomina yang mengikutinya’.
Misalnya:

  • Sepintar A, ‘sama pintar dengan A’.
  • Secantik B, ‘sama cantic dengan B’.

Dasar ajektifa dengan prefiks se- bukanlah berkategori ajektiva sebab tidak dapat diawali adverbia agak atau sangat. Bentuk agak sepintar dan sangat sepinta tidak berterima. Kata-kata yang dibentuk dari dasar ajektiva dengan prefiks se- sesungguhnya berkategori verba. Prefiks se- pada dasar ajektiva bertugas membentuk tingkat perbandingan ‘sama’ atau sederajat.
Perhatikan:

  • Setinggi = sama tinggi = tingkat sama
  • Sekecil = sama kecil = tingkat sama


c. Dasar Ajektiva Bersufiks –an 
Pemberian sufiks –an pada semua dasar ajektiva memberi maka gramatikal ‘lebih (dasar)’ pada nomina yang mengikutinya.
Misalnya:

  • Pintaran A, ‘lebih pintar A’
  • Mahalan B, ‘lebih mahal B’

Dasar ajektiva dengan sufiks –an bukanlah kategori ajektiva, melainkan berkategori verba, sebab tidak dapat diawali adverbia agak atau sangat. Bentuk agak tinggi dan sangat tinggian tidak  berterima. Kata-kata yang dibentuk dari dasar ajektiva dengan sufiks –an membentuk tingkat perbandingan lebih dalam satu system penderajatan.
Perhatikan:

  • Tinggian = lebih tinggi = tingkat lebih
  • Kecilan = lebih kecil = tingkat lebih


d. Dasar Ajektiva Berprefiks ter- 
Pengimbuhan prefiks ter- pada semua dasar ajektiva memberi makna gramatikal ‘paling (dasar)’.
Misalnya:

  • Tercantik, ‘paling cantik’.
  • Terbodoh, ‘paling bodoh’ 

Kata-kata yang bentuk dasarnya ajektiva dengan prefiks ter- tidaklah termasuk berkategori ajektiva, melainkan berkategori verba, sebab tidak dapat idahului adverbia agak dan sangat. Bentuk-bentuk seperti agak termahal dan sangat termahal tidak berterima. Prefiks ter- pada dasar ajektiva bertugas membentuk tingkat perbandingan superlatif dalam suatu system penderajatan.
Perhatikan.

  • Tertinggi = paling tinggi = tingkat paling
  • Terkecil = paling kecil = tingkat paling


e. Dasar Ajektiva Berkonfiks ke-an
Pengimbuhan konfiks ke-an pada dasar ajaktiva akan memberi makna gramatikal ‘agak’ (dasar) bila ajektiva itu memiliki komponen makna (+warna).
Misalnya:

  • Kehitaman, ‘agak hitam’
  • Kemerahan, ‘agak merah’


f. Dasar Ajaktiva Berklofiks me-kan
Dasar ajektiva berklofiks me-kan memiliki makna gramatikal ‘menyebabkan jadi (dasar)’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sikap batin).
Misalnya:

  • Memalukan, ‘menyebabkan malu’.
  • Memilukan, ‘menyebabkan pilu’.

Dasar ajektiva dengan konfliks me-kan sesungguhnya berkategori ganda, yaitu ajektiva dan verba. Sebagai kategori ajektiva dia dapat didahuluai oleh adverbial agak dan sangat; dan sebagai verba dapat diikuti oleh sebuah objek. Jadi, bentuk-bentuk atau konstruksi –konstruksi berikut adalah berterima:

  • Agak memalukan orang banyak
  • Sangat memalukan orang banyak


g. Dasar Ajektiva Berlkofiks me-i
Dasar ajektiva berklofiks me-I memiliki makna gramatikal ‘merasa (dasar) pada’ apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+rasa batin).
Misalnya:

  • Mencintai,’merasa cinta pada’.
  • Mengagumi, ‘merasa kagum pada’.

Dasar Ajektiva dengan klofiks me-i ini sesungguhnya berkategori ganda, yaitu ajektiva dan verba. Sebagai kategori ajektiva dia dapat didahului oleh adverbial agak dan sangat; dan sebagi verba dapat diikuti oleh sebuah objek. Jadi, bentuk-bentuk konstruksi berikut berterima:

  • Agak mencintai gadis itu.
  • Sangat mencintai gadis itu.


h. Dasar Lain Berkomponen Makna (+keadaan)
Kosakata berkategori ajektiva dalam bahasa Indonesia sudah merupakan ‘barang jadi’. Namun, yang disebut ‘barang jadi’ ini ada yang ada yang 100% berkategori ajektiva, tetapi banyak pula yang tidak. Artinya, barang ‘barang jadi’ yang berkategori ajektiva itu memiliki pula komponen makna (+ bendaan) atau (+ tindakan). Misalnya, ajektiva merah dan kuning memiliki juga komponen makna (bendaan), sehingga keduanya bisa di dahului negasi bukan dan tidak. Bentuk-bentuk bukan merah dan tidak merah sama-sama berterima. Ajektiva mrah dan benci juga memiliki komponen makna (+ tindakan).

Sebaliknya nomina untung dan rugi juga memiliki komponen makna (+ keadaan), sehingga keduanya sama-sama dapat diberi tegas bukan dan tidak. Jadi, bentuk-bentuk bukan untung, bukan rugi, tidak untung dan tidak rugi sama-sama berterima. Dengan demikian bentuk turunan beruntung bisa disebut kategori ajektiva. Kata turunan merugikan bisa disebut kategori verba juga bisa termasuk kategori ajektiva. Oleh karena itu, kalau di dalam berbagai buku tata bahasa dari berbagai penulis tidak ada keseragamanpendapat bila kita pahami.

2. Pembentukan Ajektiva dengan ‘Afiks’ Serapan
Menurut buku Pedoman Ejaan Bahasa indonesia yang disempurnakan (EYD) dan buku pedoman pembentukan istilah (PPI), penyerapan kata dari bahasa asing dilakukan secara utuh, bukan terpisah antara dasar dengan afiksnya. Misalnya :

  • Jika kita menyerap kata standard bisa di baca menjadi standar (huruf d-nya dibuang).
  • Jika menyerap kata standarditition di baca menjadi standardisasi (-ditition disesuaikan menjadi di-sasi).
  • Jika menyerap kata object menjadi objek, kita juga menyerap kata objective di baca menjadi objektif.


3. Kata serapan dari bahasa inggris dan belanda
Berkategori ajektiva dapat kita kenali dari ‘akhiran’ (dalam tanda petik) seperti:

  • Akhiran kata if : aktif, pasif, objektif, administratif, primitif, konsumtif, konsultatif, edukatif, dll yang berakhiran kata if.
  • Akhiran kata ik: akademik, pluralistik, kritik, pratictik, dan heroik.
  • Akhiran kata is: akademis, kronologis, kritis, birokratis, nasionalis, dan egois.
  • Akhiran kata istis: materialistis, persimistis, agoistis, optimistis, dan pluralistis.
  • Akhiran kata al: prosedural, komunal, material, individual, gramatikal, konseptual, dan seremonial.
  • Akhiran kata il; prinsipil, idiil, dan komersil.


4. Kata serapan dari bahasa Arab.
Kata serapan ini yang yang berkategori ajektiva dapat kita kenali dari “akhiran” (dalam tanda petik), antara lain:

  • Akhiran kata (i): islmi, alami, abadi, qurani, madani, jasmani, dan rohani.
  • Akhiran kata iah: Islamia, alamiah, rohaniah, abadiah, dan qur’aniah.

Tampaknya “akhiran” unsur serapan, baik inggris/Belanda maupun Arab tidak produktif untuk pembentukan kata dalam bahasa Indonesia, bukan hanya untuk pembentukan verba, tetapi juga untuk pembentukan kategori yang lain. Sejauh ini kata-kata (dari dasar asli Indonesia) yang telah dibentuk dengan akhiran serapan itu hanyalah pancasilais, surgawi, manusiawi, kimiawi, sukuisme, daerahisme, tendanisasi, dan lelenisasi.



Referensi :
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

AFIKSASI PEMBENTUKAN NOMINA

Alifiyah Mila Rizka (176020)


Sebuah kata dasar atau bentuk dasar memerlukan adanya imbuhan agar sebuah kata dapat digunakan di dalam pertuturan. Sebuah imbuhan dapat mengubah makna, jenis, dan fungsi kata dasar.

Pada penggunaan imbuhan dengan fungsi imbuhan adalah membentuk kata benda dan makna gramatikal adalah sebagai berikut :
1. Awalan pe-
Fungsi imbuhan pe- adalah membentuk kata benda dan makna gramatikal awalan pe- adalah sebagai berikut :
a. Orang yang me-. Contoh :

  • {pe-} + {tulis} => {penulis} mempunyai makna “orang yang menulis”

b. Orang yang pekerjaannya. Contoh :

  • {pe} + {lukis} => {pelukis} mempunyai makna “orang yang pekerjaannya melukis”

c. Orang yang bersifat. Contoh :

  • {pe} + {malas} => {pemalas} mempunyai makna “orang yang malas”

d. Orang yang suka, gemar atau seringkali melakukan. Contoh :

  • {pe} + {bohong} => {pembohong} mempunyai makna “orang yang suka berbohong”

e. Alat. Contoh :

  • {pe} + {hapus} => {penghapus} mempunyai makna “alat untuk menghapus”.


2. Awalan per-
Awalan per- mempunyai 3 variasi bentuk yaitu per-, pe-, dan pel-. Fugsi awalan per- yang membentuk kata benda adalah sebagai berikut :

  • {per} + {kerja} => {pekerja}, mempunyai makna “orang yang bekerja”
  • {per} + {suruh} => {pesuruh} mempunyai makna “orang yang disuruh”


3. Awalan ter-
Awalan ter- membunyai fungsi untuk membentuk kata kerja pasif dan kata benda. Berikut adalah beberapa kata yang membentuk fungsi kata benda :

  • {ter} + {tuduh} => {tertuduh} mempunyai makna gramatikal “orang yang dituduh”
  • {ter} + {gugat} => {tergugat} mempunyai makna gramatikal “orang yang digugat”


4. Imbuhan pe-an
Fungsi imbuhan pe-an adalah membentuk kata benda. Makna gramatikal yang didapatkan dari pengimbuhannya adalah sebagai berikut :
a. Menyatakan makna “hal atau peristiwa”
Contoh :

  • {pe} + {bunuh} + {an}=> {pembunuhan}
  • {pe} + {bina} + {an} => {pembinaan}

b. Menyatakan makna “proses”
Contoh :

  • {pe} + {olah} + {an} => {pengolahan}
  • {pe} + {bayar} + {an} => {pembayaran}

c. Menyatakan makna “hasil”
Contoh :

  • {pe} + {teliti} + {an} => {penelitian}
  • {pe} + {periksa} + {an} => {pemeriksaan}

d. Menyatakan makna “tempat”
Contoh :

  • {pe} + {makam} + {an} => {pemakaman}
  • {pe} + {gadai} + {an} => {pegadaian}

e. Menyatakan makna “alat”
Contoh :

  • {pe} + {lihat} + {an} => {penglihatan}
  • {pe} + {goreng} + {an} => {penggorengan}


5. Akhiran –nya
Akhiran (sufiks) –nya tidak mempunyai variasi bentuk. Akan tetapi, perlu diperhatikan adanya dua macam –nya yaitu sebagai kata ganti yang berfungsi sebagai akhiran dan berfungsi sebagai kata ganti orang ketiga. Sebagai akhiran, -nya berfungsi sebagai :

  • Pembentuk kata benda : {tenggelamnya}, {bekerjanya}, {larinya}
  • Pembentuk kata keterangan : {agaknya}, {rupanya}, {sebenarnya}
  • Pemberi penekanan : {uangnya}, {obatnya}



Referensi :
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

AFIKSASI PEMBENTUKAN VERBA

Alifiyah Mila Rizka (176020)


Menurut Abdul Chaer (2008) afiks-afiks pembentuk verba ada tiga belas antara lain :
1. Verba berprefiks ber-
Bentuk dasar dalam pembentukan verba dengan prefiks ber- dapat berupa:

  • Morfem dasar terikat, seperti tempur, kelahi, juang, tikai dan henti. 
  • Morfem dasar bebas, seperti ladang, ternak, kerja, nyanyi, dan gaya.
  • Bentuk turunan berafiks, seperti berpakaian (bentuk dasar pakaian).                            
  • Bentuk turunan reduplikasi, seperti berlari-lari (bentuk dasar lari-lari). 
  • Bentuk turunan hasil komposisi, seperti berjual beli (bentuk dasar jual beli). 

Makna gramatikal verba berprefiks ber- yang perlu dicatat, antara lain yang menyatakan :
a. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mempunyai (dasar)’ atau ‘ada (dasar)nya’
Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+benda), (+umum), (+milik) dan (+bagian).
Misalnya :

  • Berayah ‘mempunyai ayah’.
  • Bermesin ‘ada mesinnya’.

b. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘memakai’ atau ‘mengenakan’
Apabila bentuk dasarnya mempunyai komponen makna (+pakaian) atau (+perhiasan).
Misalnya :

  • Berkebaya ‘memakai kebaya’. 
  • Berjilbab ‘memakai jilbab’. 

c. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mengendarai’, ‘menumpang’ atau ‘naik’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kendaraan).
Misalnya :

  • Bersepeda ‘mengendarai sepeda’.
  • Berkuda ‘menaiki kuda’.

d. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘berisi’ atau ‘mengandung’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda), (+dalaman) atau (+kandungan).
Misalnya :

  • Beracun ‘mengandug racun’.
  • Berair ‘mengandung air’

e. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ‘mengeluarkan’ atau ‘menghasilkan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda), (+hasil) atau (+keluar).
Misalnya :

  • Berproduksi ‘mengeluarkan produksi’.
  • Beranak ‘mengeluarkan anak’.

f. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′mengusahakan′ atau ′mengupayakan′
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+beidang usaha).
Misalnya :

  • Berternak ‘mengusahakan ternak’.
  • Bersawah ‘mengerjakan sawah’

g. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′melakukan kegiatan′
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda) dan (+kegiatan).
Misalnya :

  • Berenang ‘melakukan renang’.
  • Berekreasi ‘melakukan rekreasi’

h. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′mengalami′ atau ′berada dalam keadaan′
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+perasaan batin).
Misalnya :

  • Bergembira ‘dalam keadaan gembira’. 
  • Bersedih ‘dalam keadaan sedih’.

i. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′menyebut′ atau ′menyapa′
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kerabat) dan (+sapaan).
Misalnya :

  • Berabang ‘memanggil abang’
  • Beradik ‘memanggil adik’

j. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′kumpulan′ atau ′kelompok′
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+jumlah) atau (+hitungan).
Misalnya :

  • Berdua ‘kumpulan dari dua orang’.
  • Bertiga ‘kumpulan dari tiga orang’

k. Verba berprefiks ber- memiliki makna gramatikal ′memberi′
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda) dan (+berian). Misalnya :

  • Bersedekah ‘memberi sedekah’.
  • Berceramah ‘memberi ceramah’


2. Verba Berkonfiks dan Berklofiks Ber-an
Verba berbentuk ber-an memiliki dua macam proses pembentukan. Pertama, yang berupa konfiks, artinya prefiks ber- dan sufiks -an itu diimbuhkan secara bersamaan sekaligus pada sebuah bentuk dasar. Kedua, yang berupa klofiks artinya prefiks ber- dan sufiks -an itu tidak diimbuhkan secara bersamaan pada sebuah dasar. Ber-an sebagai konfiks memiliki satu makna, sedangkan ber-an sebagai klofiks memiliki makna sendiri-sendiri.
Makna gramatikal verba berkonfiks ber-an adalah:
a. Verba berkonfiks ber-an yang memiliki makna gramatikal ‘banyak serta tidak teratur’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan), (+sasaran), (+gerak). Misalnya :

  • Berlarian ‘banyak yang berlari dan tidak teratur’.
  • Bermunculan ‘banyak yang muncul dan tidak teratur’.

b. Verba berkonfiks ber-an yang memiliki makna gramatikal ‘saling’ atau ‘berbalasan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan), (+sasaran), (+gerak). Misalnya :

  • Bermusuhan ‘saling memusuhi’
  • Bersentuhan ‘saling bersentuhan’

c. Verba berkonfiks ber-an yang memiliki makna gramatikal ‘saling berada di’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+benda), (+letak), (+tempat). Misalnya :

  • Bersebelahan ‘saling berada disebelah’.
  • Berseberangan ‘saling berada diseberang’


3. Verba Berklofiks Ber-kan
Verba berklofiks {ber-kan} dibentuk dengan proses, awalnya pada bentuk dasar diimbuhkan prefiks ber-, lalu diimbuhkan pula sufiks -kan. Prefiks {ber-} dan sufiks {-kan} pada verba {ber-kan} memiliki maknanya masing-masing (Caher. 2015:116).
Misalnya :

  • Bersenjatakan ‘menggunakan senjata akan (clurit)’.
  • Berisikan ‘mempunyai isi akan (air).


4. Verba Bersufiks -kan
Sufiks {-kan} bila diimbuhakan pada dasar yang memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran) akan membentuk verba bitransitif, yaitu verba yang berobjek dua. Bila diimbuhkan pada dasar yang lain, sufiks {kan} akan membentu pangkal (stem) yang menjadi dasar dalam pembentukan verba inflektif.
Verba bersufiks {-kan} digunakan dalam:
a. Kalimat imperative.
Misalnya :

  • Lemparkan bola itu kesini!
  • Tuliskan namamu disini!

b. Kalimat pasif yang predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba, dan subjeknya menjadi sasaran tindakan.
Misalnya :

  • Rumah itu baru kami dirikan.
  • Jembatan itu akan mereka robohkan,

c. Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek) + pelaku + verba.
Misalnya :

  • Uang yang baru kami terima sudah habis. 
  • Kami melewati daerah yang sudah mereka amankan.

Verba bersufiks –kan memiliki makna gramatikal:
a. Verba bersufiks -kan memiliki makna gramatikal ‘menjadi’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan) atau (+sifat khas).
Misalnya :

  • Tenangkan, artinya ‘jadikan tenang’.
  • Putuskan, artinya ‘jadikan putus’.

b. Verba bersufiks -kan memiliki makna gramatikal ‘jadikan berada di’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tempat) atau (+arah).
Misalnya :

  • Pinggirkan, artinya ‘jadikan berada di pinggir’.
  • Ketengahkan, artinya ‘jadikan berada ditengah’.

c. Verba bersufiks -kan memiliki makna gramatikal ‘lakukan untuk orang lain’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran).
Misalnya :

  • Bukakan, artinya ‘lakukan buka untuk (orang lain)’.
  • Ambilkan, artinya ‘lakukan ambil untuk (orang lain)’.

d. Verba bersufiks -kan memiliki makna gramatikal ‘lakukan akan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran).
Misalnya :

  • Lemparkan, artinya ‘lakukan lempar akan’.
  • Hapuskan, artinya ‘lakukan hapus akan’.

e. Verba Bersufiks -kan memiliki makna gramatikal ‘bawa masuk ke’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ruang).
Misalnya :

  • Gudangkan, artinya ‘bawa masuk ke gudang’.
  • Rumahkan, artinya’bawa masuk ke rumah’.


5. Verba Bersufik –i
Verba bersufiks -i adalah verba transitif, yang berlaku juga sebagai pangkal (stem) dalam pembentukan verba inflektif. Verba bersufiks -i digunakan dalam :
a. Kalimat imperative. Misalnya :

  • Tolong gulai teh ini!
  • Lompati saja pagar itu. 

b. Kalimat pasif yang predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba, dan subjeknya menjadi sasaran perbuatan. Misalnya :

  • Kemarin beliau sudah kami hubungi.
  • Anak-anak yatim itu harus kita santuni.

c. Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek) + pelaku + verba. Misalnya :

  • Desa yang akan kita kunjungi berada di balik bukit. 
  • Orang yang harus kamu surati sudah ada di sini. 

Verba bersufiks -i memiliki makna gramatikal:
a. Verba bersufiks -i memiliki makna gramatikal ‘berulang kali’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran).
Misalnya :

  • Pukuli, artinya ‘pekerjaan pukul dilakukan berulang kali’.
  • Lempari, artinya ‘pekerjaan lempar dilakukan berulang kali’.

b. Verba bersufiks -i memiliki makna gramatikal ‘tempat’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tempat).
Misalnya :

  • Duduki, artinya ‘ duduk di…’.
  • Lewati, artinya ‘lewat di…’.

c. Verba bersufiks -i memiliki makna gramatikal ‘merasa sesuatu pada’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sikap batin) atau (+emosi).
Misalnya :

  • Kasihi, artinya ‘merasa kasih pada’.
  • Takuti, artinya ‘merasa takut pada’.

d. Verba bersufiks -i memiliki makna gramatikal ‘beri atau bubuh pada’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+bahan berian).
Misalnya :

  • Garami, artinya ‘beri garam pada’.
  • Masihati, artinya ‘beri nasihat pada’.

e. Verba bersufiks -i memiliki makna gramatikal ‘jadikan atau sebabkan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan) atau (+sifat).
Misalnya :

  • Lengkapi, artinya ‘jadikan lengkap’.
  • Cukupi, artinya ‘jadikan cukup’.

f. Verba bersufiks -i memiliki makna gramatikal ‘lakukan pada’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+tempat).
Misalnya :

  • Tulisi, artinya ‘lakukan tulis pada’.
  • Semburi, artinya ‘lakukan sembur pada’.


6. Verba Berprefiks per-
Verba berprefiks per- adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif. Verba inflektif dapat digunakan dalam:
a. Kalimat imperatif. Misalnya :

  • Persingkat bicaramu!
  • Perpanjang dulu KTP-mu ini!

b. Kalimat pasif yang berpola: (aspek) + pelaku + verba. Misalnya :

  • Penjagaan akan kami perketat nanti malam.
  • Syarat-syaratnya harus kita perlunak untuk mereka.

c. Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + aspek + pelaku + verba. Misalnya :

  • Saluran yang telah kami perdalam kini telah dangkal lagi.
  • Gubernur akan meninjau bangunan yang baru kita perluas.

Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal :
a. Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal ‘jadikan lebih’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan) atau (+situasi).
Misalnya :

  • Perlebar, artinya ‘jadikan lebih lebar’.
  • Perlambat, artinya ‘jadikan lebih lambat’.

b. Verba beprefiks per- memiliki makna gramatikal ‘anggap sebagai’ atau ‘jadikan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ sifat khas).
Misalnya :

  • Perbudak, artinya ‘anggap sebagai budak’.
  • Peristri, artinya ‘anggap sebagai istri’.

c. Verba berprefiks per- memiliki makna gramatikal ‘bagi’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ jumlah) atau (+ bilangan).
Misalnya :

  • Perdua, artinya ‘bagi dua’.
  • Perlima, artinya ‘bagi lima’.


7. Verba Berkonfiks per-kan
Verba berkonfiks per-kan adalah verba yang bisa menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif (berprefiks me-, di- atau ter-). Verba berkonfiks per-kan digunakan dalam:
a. Kalimat imperatif. Misalnya :

  • Persiapkan dulu bahan-bahannya!
  • Jangan perdebatkan lagi masalah itu!

b. Kalimat pasif yang predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba. Misalnya :

  • Anak itu akan kita pertemukan dengan orang tuanya. 
  • Masalahmu itu akan kami pertanyakan lagi.

c. Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek) + pelaku. Misalnya :

  • Tarian yang sudah mereka pertunjukkan akan diulang lagi. 
  • Film yang mereka hendak persembahkan perlu disensor dulu.

Verba berprefiks per-kan memiliki makna gramatikal :
a. Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal ‘jadikan bahan per-an’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ kegiatan).
Misalnya :

  • Perdebatkan, artinya ‘jadikan bahan perdebatan’.
  • Pertanyaan, artinya ‘jadikan bahan pertanyaan’.

b. Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal ‘lakukan supaya (dasar)’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan).
Misalnya :

  • Persamakan, artinya ‘lakukan supaya sama’.
  • Pertegaskan, artinya ‘lakukan supaya tegas’.

c. Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal ‘jadikan me-’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ tindakan).
Misalnya :

  • Perdengarkan, artinya ‘jadikan (orang lain) pendengar.
  • Perlihatkan, artinya ‘jadikan (orang lain) melihat’.

d. Verba berkonfiks per-kan memiliki makna gramatikal ‘jadikan ber-’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ kejadian).
Misalnya :

  • Perhubungan, artinya ‘jadikan perhubungan’.
  • Pertemukan, artinya ‘jadikan bertemu’.


8. Verba Berkonfiks per-i
Verba berkonfiks per-i adalah verba yang dapat menjadi pangkal dalam pembentukan verba inflektif (berfprefiks me-inflektif, di-inflektif atau ter-inflektif). Verba berkonfiks per-i digunakan dalam:
a. Kalimat imperatif. Misalnya :

  • Perbaiki dulu sepeda ini!
  • Jangan permalui dia di depan orang banyak!

b. Kalimat pasif yang predikatnya berpola: (aspek) + pelaku + verba. Misalnya :

  • Mobil itu  baru kita perbaiki.
  • Merekan akan kami perlengkapi dengan alat pertanian. 

c. Keterangan tambahan pada subjek atau objek yang berpola: yang + (aspek) + pelaku + verba. Misalnya :

  • Rumah yang baru kami perbaiki terkena gempa 
  • Kasihan sekali anak-anak yang mereka perdayai itu.

Verba berprefiks per-kan memiliki makna gramatikal :
a. Verba berkonfiks per-i memiliki makna gramatikal ‘lakukan supaya jadi’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+ keadaan).
Misalnya :

  • Perlengkapi, artinya ‘lakukan supaya jadi lengkap’.
  • Perbarui artinya ‘lakukan supaya jadi baru’.

a. Verba berkonfiks per-i memiliki makna gramatikal ‘lakukan (dasar) pada objeknya’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+lokasi).
Misalnya :

  • Persetujui, aritnya ‘lakukan setuju pada objeknya’. 
  • Persepakatan, artinya ‘lakukan sepakat pada objeknya’.


9. Verba Berprefiks me-
Prefiks me- seperti sudah dibicarakan pada subbab 4.2.1 dapat membentuk me-, mem-, men-, meny-, meng-, dan menge-.

  • Bentuk atau alomorf me- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem [r, l, w, y, m, n, nya, dan ng]. Contoh : merawat, merokok
  • Bentuk atau alomorf mem- digunakan apabila bentukdasarnya dimulai dengan fonem [b, p, f, dan v]. Contoh : membaca, memotong
  • Bentuk men- digunakan apabila bentuk dasarnya dimulai dengan fonem [d dan t]. Contoh : mendidik, menulis
  • Bentuk meny- digunakan apabila fonem awal bentuk dasarnya adalah fonem [c, j, dan s]. Contoh : menyapu, menyikat
  • Bentuk meng- digunakan apabila bentuk dasarnya mulai dengan fonem [k, g, h, kh, a, z, u, e, dan o]. Contoh : menghibur, menggoda
  • Bentuk menge- digunakan apabila bentuk dasarnya terdiri dari sebuah suku kata. Contoh : mengebom, mengecat

Macam Prefiks me-
1) Verba berprefiks me- inflektif
Bentuk dasar atau pangkal verba berprefiks me- inflektif memiliki komponen makna ( + tindakan ) dan ( + sasaran ). Jadi, bentuk dasar atau pangkal dalam pembentukan verba inflektif, disamping berbentuk morfem, dasar atau akar juga termasuk verba bersufiks –kan, bersufiks –i, berprefiks per-, berkonfiks per-kan, dan berkonfiks per-i.
Contoh:

  • Melupakan
  • Merestui

Verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal:
a. Verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal ‘melakukan (dasar)’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sasaran).
Misalnya :

  • Membeli, artinya ‘melakukan beli’
  • Membaca, artinya ‘melakukan baca’

b. Verba berprefiks me- inlektif memiliki makna gramatikal ‘melakukan kerja dengan alat’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+alat).
Misalnya :

  • Mengikir, artinya ‘melakukan kerja dengan alat kikir’
  • Memahat, artinya ‘melakukan kerja dengan alat pahat’

c. Verba berprefiks me- intlektif memiliki makna gramatikal ‘melakukan kerja dengan bahan’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+bahan).
Misalnya :

  • Mengapur, artinya ‘melakukan kerja dengan bahan kapur’
  • Mengecat, artinya ‘mealakukan kerja dengan bahan cat’

d. Verba berprefiks me- inflektif memiliki makna gramatikal ‘membuat (dasar)’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+benda hasil).
Misalnya :

  • Menyambal, artinya ‘membuat sambal’
  • Menumis, artinya ‘membuat tumis’

2. Verba berprefiks me- derifatif
Verba berprefiks me- derifatif memiliki makna gramatikal:
a. Verba berprefiks me- derivatif memiliki makna gramatikal ‘makan, minum, mengisap’
Apabila bentuk dasarnya memiliki makna (+makanan) atau (+isapan).
Misalnya :

  • Merokok, artinya ‘mengisap rokok’
  • Menyoto, artinya ‘memakan soto’

b. Verba berprefiks me- derifatif memiliki makna gramatikal ‘mengeluarkan (dasar)’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+bunyi) atau (+suara).
Misalnya :

  • Mengeong, artinya ‘mengeluarkan bunyi ngeong’
  • Mengaung, artinya ‘mengeluarkan bunyi ngaung’

c. Verba berprefiks me- derifatif memiliki makna gramatikal ‘menjadi (dasar)’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan warna, bentuk, situasi).
Misalnya :

  • Menguning, artinya ‘menjadi kuning’. 
  • Meninggi, artinya ‘menjadi tinggi’

d. Verba berprefiks me- derifatif memiliki makna gramatikal ‘menjadi seperti’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sifat khas).
Misalnya :

  • Membatu, artinya ‘menjadi seperti batu’
  • Membaja, artinya ‘seperti baja’

e. Verba berprefiks me- deviratif memiliki makna gramatikal ‘menuju’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+arah).
Misalnya:

  • Menepi, artinya ‘menuju tepi’
  • Mengutara, artinya ‘menuju utara’

f. Verba berprefiks me- derifatif memiliki makna gramatikal ‘memperingati’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+bilangan), (+hari), atau (+ bulan).
Misalnya :

  • Meniga hari, artinya ‘memperingati hari ke tiga (kematian).
  • Menujuh bulan, artinya ‘memperingati bulan ke tujuh (kehamilan)’


10. Verba berprefiks di-
Ada dua macam verba berprefiks di- :
a. Verba berprefiks di- inflektif adalah verba pasif. Maka gramatikalnya adalah kebalikan dari bentuk aktif verba berprefiks me- inflektif.
b. Verba berprefiks di- derivative. Sejauh data yang diperoleh hanya ada kata dimasud, yang lain tidak ada.

11. Verba berprefiks Ter-
Ada dua macam verba berprefik ter- yaitu:
1) Verba berprefiks ter- inflektif
Adalah verba pasif keadaan dari verba berprefiks me- inflektif makna gramatikal verba berprefiks ter- inflektif, selain sebagai kebalikan pasif keadaan dari verba berprefiks me- infektif, juga memiliki makna gramatikal :
Verba berprefiks ter- inflektif memiliki makna gramatikal ‘dapat / sanggup’
a. Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+sasaran).
Misalnya :

  • Terangkat, artinya ‘dapat diangkat’
  • Terbaca, artinya ‘dapat dibaca’

b. Verba berprefiks ter- inflektif memiliki makna gramatikal ‘tidak sengaja’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+tindakan) dan (+sasaran).
Misalnya :

  • Terangkat, artinya ‘tidak sengaja terangkat’
  • Terbawa, artinya ‘tidak senagaja terbawa’

2) Verba berprefiks ter- derivaktif.
Verba berprefiks ter- derifatif memilki makna gramatikal:
a. Verba berprefiks ter- derifatif memiliki makna gramatikal ‘paling’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+keadaan).
Misalnya:

  • Terbaik, artinya ‘paling baik’
  • Terjauh, artinya ‘paling jauh’

b. Verba berprefiks ter- derifatif memiliki makna gramatikal ‘dalam keadaan’
Apabila bentuk dasarnya memilki komponen makna (+keadaan) dan (+kejadian).
Misalnya :

  • Tergeletak, artinya ‘dalam keadaan geletak’.
  • Terdampar, artinya ‘dalam keadaan dampar’

3) Verba berprefiks ter- derifatif memiliki makna gramatikal ‘terjadi dengan tiba-tiba’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+kejadian).
Misalnya:

  • Teringat, artinya ‘tiba-tiba ingat’
  • Terjerembab, artinya ‘tiba-tiba jerembab’.


12. Verba Berprefiks ke-
Verba berprefiks ke- digunakan dalam bahasa ragam tidak baku. Fungsi dan makna gramatikalnya sepadan dengan verba berprefiks ter-.
Contohnya :

  • ‘Kebaca’ sepadan dengan ‘terbaca’
  • ‘Ketipu’ sepadan dengan ‘tertipu’


13. Verba berkonfiks ke-an 
Perlu diketahui terlebih dahulu ada dua macam konfiks ke-an, yaitu konfiks ke-an yang membentuk verba dan konfiks ke-an yang membentuk nomina. Verba konfiks ke-an termasuk verba pasif, yang tidak dapat dikembalikan kedalam verba aktif, seperti verba pasif ter-.
Makna gramatikal yang dimilikinya adalah:
a. Verba berkonfiks ke-an memiliki makna gramatikal ‘terkena, menderita, mengalami (dasar)’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+peristiwa alam) atau (+hal yang tidak enak).
Misalnya :

  • Kebanjiran, artinya ‘terkena banjir’
  • Kecopetan, artinya ‘terkena copet’.

b. Verba berkonfiks ke-an memiliki makna gramatikal ‘agak (dasar)’
Apabila bentuk dasarnya memiliki komponen makna (+warna).
Misalnya :

  • Kehijauan, artinya ‘agak hijau’
  • Kebiruan, artinya ‘agak biru’



Referensi :

Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta